Potensi Serangan Darat AS, Iran Perkuat Pertahanan Pulau Kharg
Iran dilaporkan mulai memperkuat pertahanan di Pulau Kharg guna mengantisipasi potensi serangan darat maupun upaya penyitaan oleh militer Amerika Serikat. Berdasarkan laporan sumber internal kepada CNN, Teheran kini mulai memasang ranjau dan sistem pertahanan udara tambahan di pulau strategis tersebut. Langkah fortifikasi ini menjadi prioritas utama karena Pulau Kharg memproses sekitar 90% ekspor minyak mentah Iran yang sangat krusial bagi stabilitas ekonomi negara tersebut maupun market energi global.
Ketegangan ini semakin memanas setelah serangan Iran ke berbagai pangkalan militer AS di Timur Tengah dilaporkan menyebabkan kerusakan parah. Laporan NYT menyebutkan bahwa banyak pasukan Amerika terpaksa bekerja secara remote atau pindah ke lokasi sementara seperti hotel dan ruang perkantoran. Pihak Iran menuduh AS menggunakan warga sipil sebagai tameng hidup dengan menempatkan pasukannya di area publik, serta mendesak masyarakat untuk melaporkan lokasi baru tersebut kepada Garda Revolusi (IRGC).
Di sisi lain, dinamika politik terbaru menunjukkan adanya perbedaan strategi antara AS dan Israel. Berdasarkan laporan Axios, Donald Trump menolak usulan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk menyerukan pemberontakan rakyat di Iran karena khawatir akan memicu pertumpahan darah warga sipil yang sia-sia. Meski operasional jet tempur tetap berjalan, para pejabat AS mengakui bahwa tingkat kerusakan pangkalan militer mereka mencerminkan adanya miskalkulasi dalam menghadapi skala serangan Iran
Iran dilaporkan mulai memperkuat pertahanan di Pulau Kharg guna mengantisipasi potensi serangan darat maupun upaya penyitaan oleh militer Amerika Serikat. Berdasarkan laporan sumber internal kepada CNN, Teheran kini mulai memasang ranjau dan sistem pertahanan udara tambahan di pulau strategis tersebut. Langkah fortifikasi ini menjadi prioritas utama karena Pulau Kharg memproses sekitar 90% ekspor minyak mentah Iran yang sangat krusial bagi stabilitas ekonomi negara tersebut maupun market energi global.
Ketegangan ini semakin memanas setelah serangan Iran ke berbagai pangkalan militer AS di Timur Tengah dilaporkan menyebabkan kerusakan parah. Laporan NYT menyebutkan bahwa banyak pasukan Amerika terpaksa bekerja secara remote atau pindah ke lokasi sementara seperti hotel dan ruang perkantoran. Pihak Iran menuduh AS menggunakan warga sipil sebagai tameng hidup dengan menempatkan pasukannya di area publik, serta mendesak masyarakat untuk melaporkan lokasi baru tersebut kepada Garda Revolusi (IRGC).
Di sisi lain, dinamika politik terbaru menunjukkan adanya perbedaan strategi antara AS dan Israel. Berdasarkan laporan Axios, Donald Trump menolak usulan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk menyerukan pemberontakan rakyat di Iran karena khawatir akan memicu pertumpahan darah warga sipil yang sia-sia. Meski operasional jet tempur tetap berjalan, para pejabat AS mengakui bahwa tingkat kerusakan pangkalan militer mereka mencerminkan adanya miskalkulasi dalam menghadapi skala serangan Iran













