Dasar
Spot
Perdagangkan kripto dengan bebas
Perdagangan Margin
Perbesar keuntungan Anda dengan leverage
Konversi & Investasi Otomatis
0 Fees
Perdagangkan dalam ukuran berapa pun tanpa biaya dan tanpa slippage
ETF
Dapatkan eksposur ke posisi leverage dengan mudah
Perdagangan Pre-Market
Perdagangkan token baru sebelum listing
Futures
Akses ribuan kontrak perpetual
TradFi
Emas
Satu platform aset tradisional global
Opsi
Hot
Perdagangkan Opsi Vanilla ala Eropa
Akun Terpadu
Memaksimalkan efisiensi modal Anda
Perdagangan Demo
Pengantar tentang Perdagangan Futures
Bersiap untuk perdagangan futures Anda
Acara Futures
Gabung acara & dapatkan hadiah
Perdagangan Demo
Gunakan dana virtual untuk merasakan perdagangan bebas risiko
Peluncuran
CandyDrop
Koleksi permen untuk mendapatkan airdrop
Launchpool
Staking cepat, dapatkan token baru yang potensial
HODLer Airdrop
Pegang GT dan dapatkan airdrop besar secara gratis
Launchpad
Jadi yang pertama untuk proyek token besar berikutnya
Poin Alpha
Perdagangkan aset on-chain, raih airdrop
Poin Futures
Dapatkan poin futures dan klaim hadiah airdrop
Investasi
Simple Earn
Dapatkan bunga dengan token yang menganggur
Investasi Otomatis
Investasi otomatis secara teratur
Investasi Ganda
Keuntungan dari volatilitas pasar
Soft Staking
Dapatkan hadiah dengan staking fleksibel
Pinjaman Kripto
0 Fees
Menjaminkan satu kripto untuk meminjam kripto lainnya
Pusat Peminjaman
Hub Peminjaman Terpadu
Mengapa kelas semakin tidak tertib? Alasan sebenarnya mengapa sebagian besar siswa tidak ingin belajar dan guru tidak bisa mengendalikan situasi
Banyak orang tua dan guru setiap hari melihat anak-anak duduk di kelas, tetapi mereka tidak fokus; mata mereka selalu melirik ke ponsel, dan rasa tidak berdaya dalam hati semakin hari semakin berat. Terutama di beberapa sekolah kejuruan dan sekolah di pedesaan, situasi seperti ini sangat terlihat. Anak-anak tidak tertarik pada buku pelajaran, tetapi mereka bisa menonton video pendek tanpa henti sampai larut malam. Di kelas, guru bicara sampai kering tenggorokan, namun di bawahnya ada siswa mengobrol, bermain game, bahkan ada yang langsung berbaring tidur. Adegan seperti ini, banyak orang pernah melihat langsung, bahkan pernah mengalaminya sendiri.
Pikirkanlah para guru garis depan itu: mereka menyusun persiapan mengajar dari pagi hingga larut malam, mengerahkan segenap kemampuan di kelas, ingin menyampaikan pengetahuan agar lebih hidup. Tapi bagaimana dengan para siswanya? Mereka bahkan tidak begitu tertarik pada pelajaran seni dan olahraga, apalagi pelajaran Bahasa dan Matematika serta pelajaran inti lainnya. Titik minat mereka hampir sepenuhnya terkonsentrasi pada ponsel, game, dan video pendek. Data sudah ada; sebagian survei menunjukkan tingkat kebencian terhadap sekolah pada siswa SMP mencapai sekitar tiga puluh persen, prevalensi gangguan kesehatan mental total pada siswa usia enam sampai enam belas tahun yang bersekolah sekitar tujuh belas koma lima persen; dari setiap enam anak, satu di antaranya menghadapi gangguan psikologis dengan tingkat berbeda. Di kalangan anak-anak pedesaan, tingkat temuan depresi dan kecemasan pernah mencapai lebih dari dua puluh lima persen, dan kecanduan internet pada siswa kelas lima sekolah dasar dan menengah di tingkat kota/kabupaten kecil mendekati sekitar empat puluh delapan persen. Angka-angka ini bukan sekadar statistik yang dingin, melainkan kenyataan kelas yang benar-benar hidup.
Para ahli dan pemimpin mengarahkan perhatian kepada para guru: meningkatkan kompetensi profesional, memperkuat kemampuan mengajar, serta berulang kali merevisi kurikulum standar. Upaya-upaya ini tentu bernilai. Namun, ketika sebagian besar siswa sama sekali tidak mau belajar, seberapa pun guru berusaha sendirian, rasanya seperti membangun rumah di atas pasir—sekali tersapu gelombang, bangunannya berantakan. Reformasi penelitian pendidikan sudah bertahun-tahun dilakukan: tampilan kelas unggulan terdengar sangat memikat dan beragam. Tetapi pelajaran-pelajaran itu sering kali diasah berulang-ulang, dan siswa yang ikut serta biasanya dipilih khusus—anak-anak yang memang unggul, bukan gambaran sesungguhnya dari seluruh kelas. Dalam kelas yang nyata, guru berdiri di depan papan tulis menjelaskan, sementara siswa di bawahnya sibuk dengan urusan masing-masing. Pelajaran Bahasa dan Matematika serta pelajaran inti masih bisa mempertahankan ketertiban sampai batas tertentu; sedangkan mata pelajaran lain kadang lebih ramai daripada pasar sayur.
Mengapa situasi seperti ini bisa terjadi? Salah satu alasan penting adalah semakin terbatasnya alat manajemen yang bisa digunakan guru. Dulu, ketika siswa melakukan kesalahan, guru masih bisa menghukum dengan menyuruh menulis ulang tugas, menghukum berdiri di tempat sebentar, atau memberi tugas membersihkan. Hukuman kecil semacam itu setidaknya bisa mengingatkan anak agar memperhatikan aturan. Sekarang, aturan semakin menekankan agar tidak menimbulkan cedera psikologis pada siswa; saat mengkritik, guru harus menimbang kata demi kata, takut satu kalimat yang terlalu keras memicu keluhan. Siswa pun tahu bahwa guru tidak bisa bertindak terhadap mereka, sehingga di kelas mereka mudah bertindak sesuka hati. Pernah ada guru yang karena cara mendidik sedikit terlalu tegas, didatangi oleh orang tua sampai ke rumah, bahkan berpengaruh pada pekerjaan. Contoh seperti ini membuat banyak guru memilih jalan aman—kalau bisa tidak mengurus, ya tidak mengurus.
Ketika kepala sekolah dan para ahli lama meninggalkan podium, pemahaman mereka tentang kondisi di garis depan mungkin tidak sehidup dulu. Ada kepala sekolah yang lebih banyak waktunya dipakai untuk rapat dan pelaporan, dan benar-benar masuk mengajar di kelas biasa tidaklah banyak. Gagasan yang diajukan para ahli terdengar hangat dan penuh kasih, misalnya menekankan bahwa pendidikan sebaiknya meluluhkan dengan kasih, dan kritik harus dengan cara yang tepat. Kalimat-kalimat seperti itu sendiri tidak salah—pendidikan memang seharusnya berpusat pada manusia. Namun kenyataannya, sebagian perilaku siswa sudah melampaui batas pendidikan biasa; mereka tidak menganggap serius perkataan guru, bahkan secara terbuka menantang. Jika guru sedikit saja bersikap tegas, siswa bisa langsung mengajukan keluhan; kadang sekolah juga menimpakan tanggung jawab kepada wali kelas. Jika siswa melakukan kesalahan, pimpinan sekolah sering meminta wali kelas untuk menanganinya sendiri; dan bila terjadi masalah besar, wali kelas bisa saja mendapat sanksi. Logika seperti ini membuat guru-guru garis depan merasa tekanannya berat.
Beberapa tahun lalu, Kementerian Pendidikan mengeluarkan Peraturan tentang Teguran Pendidikan untuk SD dan SMP: peraturan itu menegaskan bahwa sekolah dan guru dapat memberikan teguran umum kepada siswa yang melanggar, seperti menegur dengan menunjuk langsung, meminta pernyataan tertulis untuk introspeksi, dan bimbingan setelah jam sekolah, serta bagi yang pelanggarannya relatif berat ada langkah seperti pembinaan/ pengarahan, penangguhan partisipasi dalam kegiatan kelompok, dan sebagainya. Peraturan menekankan edukatif, legal, dan proporsional, dengan tujuan agar siswa menyadari kesalahan dan memperbaiki perilaku; sekaligus juga memberi garis merah yang melarang hukuman fisik dan hukuman yang terselubung. Ini sebenarnya adalah alat untuk melindungi guru, tetapi dalam pelaksanaan nyata, banyak sekolah dan guru tetap ragu-ragu: takut jika digunakan tidak dengan benar, akan dibesar-besarkan oleh opini publik, dan takut orang tua tidak memahaminya. Akibatnya, menjaga disiplin kelas menjadi semakin sulit.
Ambil sekolah kejuruan sebagai contoh: banyak siswa pada dasarnya memiliki tekanan masuk kerja/kelulusan yang tidak terlalu besar, jadi setelah masuk sekolah mereka mendapati bahwa belajar tidak terlalu erat kaitannya dengan pekerjaan, sehingga lebih mudah menjadi lengah. Di sekolah-sekolah pedesaan, proporsi anak yang ditinggal orang tua tinggi; orang tua bekerja di luar, dan kakek-nenek yang mengasuh sering kali lebih menekankan agar anak makan cukup dan berpakaian hangat, sehingga pembinaan kebiasaan belajar relatif lemah. Anak kekurangan pendampingan dan bimbingan yang tepat waktu; secara emosional mereka mudah merasa hampa, lalu mencari rasa keberadaan di dunia maya. Konten yang diproses dan didorong oleh algoritma video pendek begitu menarik—sekali menonton, tidak bisa berhenti. Lambat laun, kelas menjadi tempat yang paling tidak ingin mereka datangi.
Dibandingkan masa lalu, suasana kelas sekarang memang berubah. Dulu, jika guru menghukum berdiri di tempat selama beberapa menit, siswa setidaknya akan menjadi lebih patuh. Sekarang, bahkan untuk mengkritik dengan suara keras, guru pun harus menimbang berkali-kali. Saat siswa melakukan kesalahan, guru hanya bisa berkali-kali mengobrol dan menasehati; tetapi jika anak sama sekali tidak mendengarkan, hasilnya bisa dibayangkan. Lingkaran seperti ini membuat kelas semakin tidak tertata, dan pada akhirnya guru semakin lelah. Gambaran indah kelas unggulan yang dipamerkan, dan situasi nyata yang dihadapi setiap hari, jaraknya cukup jauh. Ini bukan berarti kemampuan guru kurang, atau mereka tidak serius; melainkan masalah siswa yang tidak mau bekerja sama dan tidak menghormati aturan kelas yang ada di depan mata.
Jika reformasi pendidikan hanya menatap metode pengajaran dan kemampuan guru, serta mengabaikan keinginan belajar siswa dan ketertiban kelas yang nyata, hasilnya tentu terbatas. Ketika siswa tidak mau belajar, guru pun tidak bisa mengendalikan mereka—ini sudah menjadi pertentangan paling menonjol saat ini. Hanya mengubah kurikulum standar dan mengadakan kegiatan penelitian pengajaran tidak mudah untuk mengubahnya dari akar masalah. Perlu lebih banyak orang bersama-sama mencari cara: agar siswa kembali menemukan motivasi belajar, dan agar guru memiliki alat yang wajar untuk mempertahankan ketertiban dasar.
Dalam kehidupan, tidak sedikit cerita kecil seperti ini. Ada seorang wali kelas di SMP pedesaan: di kelasnya ada seorang anak laki-laki yang selalu suka bermain ponsel, dan saat pelajaran ia diam-diam menonton video. Setelah beberapa kali guru mengingatkan dengan cara yang lembut, anak itu menjawabnya secara tampak patuh, tetapi begitu berbalik ia terus saja. Setelah satu kali rapat orang tua, guru dan orang tua berkomunikasi, dan mereka bersama menetapkan aturan sederhana: ponsel diserahkan untuk disimpan oleh orang tua, dan waktu pelajaran ponsel tidak dibawa masuk kelas. Perlahan-lahan, perhatian anak itu di kelas mulai terkonsentrasi, dan nilai-nilainya pun membaik. Ini menunjukkan bahwa kerja sama sekolah-rumah, ditambah aturan yang sesuai kadar, masih bisa memberi efek. Sebaliknya, jika semuanya dibiarkan begitu saja, anak bisa semakin tenggelam.
Contoh lain terjadi di sekolah kejuruan. Seorang guru Bahasa menemukan bahwa siswa tertarik pada cerita-cerita di video pendek, lalu mencoba menggabungkan isi teks pelajaran dengan potongan video, serta mengarahkan agar semua berdiskusi tentang nasib tokoh-tokohnya. Awalnya hanya beberapa siswa yang ikut, tetapi kemudian diskusinya menjadi hangat, dan suasana kelas menjadi jauh lebih hidup. Ini tidak berarti semua pelajaran bisa diubah dengan cara seperti itu, tetapi ini mengingatkan kita bahwa memahami titik minat siswa, masuk lewat hal-hal yang mereka kenal, mungkin bisa semakin mendekatkan hubungan. Namun prasyaratnya, di kelas harus ada ketertiban dasar; jika tidak, guru bahkan tidak akan punya kesempatan untuk mulai bicara.
Bagaimana perasaan Anda tentang kondisi kelas saat ini? Atau apakah di rumah anak Anda saat bersekolah pernah menghadapi masalah serupa? Silakan bagikan pandangan Anda, dan mari kita ngobrol bersama tentang cara membuat pendidikan memiliki lebih banyak rasa hangat dan hasil.