Dasar
Spot
Perdagangkan kripto dengan bebas
Perdagangan Margin
Perbesar keuntungan Anda dengan leverage
Konversi & Investasi Otomatis
0 Fees
Perdagangkan dalam ukuran berapa pun tanpa biaya dan tanpa slippage
ETF
Dapatkan eksposur ke posisi leverage dengan mudah
Perdagangan Pre-Market
Perdagangkan token baru sebelum listing
Futures
Akses ribuan kontrak perpetual
TradFi
Emas
Satu platform aset tradisional global
Opsi
Hot
Perdagangkan Opsi Vanilla ala Eropa
Akun Terpadu
Memaksimalkan efisiensi modal Anda
Perdagangan Demo
Pengantar tentang Perdagangan Futures
Bersiap untuk perdagangan futures Anda
Acara Futures
Gabung acara & dapatkan hadiah
Perdagangan Demo
Gunakan dana virtual untuk merasakan perdagangan bebas risiko
Peluncuran
CandyDrop
Koleksi permen untuk mendapatkan airdrop
Launchpool
Staking cepat, dapatkan token baru yang potensial
HODLer Airdrop
Pegang GT dan dapatkan airdrop besar secara gratis
Launchpad
Jadi yang pertama untuk proyek token besar berikutnya
Poin Alpha
Perdagangkan aset on-chain, raih airdrop
Poin Futures
Dapatkan poin futures dan klaim hadiah airdrop
Investasi
Simple Earn
Dapatkan bunga dengan token yang menganggur
Investasi Otomatis
Investasi otomatis secara teratur
Investasi Ganda
Keuntungan dari volatilitas pasar
Soft Staking
Dapatkan hadiah dengan staking fleksibel
Pinjaman Kripto
0 Fees
Menjaminkan satu kripto untuk meminjam kripto lainnya
Pusat Peminjaman
Hub Peminjaman Terpadu
Media Inggris: Ketika fokus orisinalitas bergeser ke timur, China menjadi "yang ditiru"
Artikel situs resmi Arab Weekly di Inggris pada 24 Maret, judul asli: Tiongkok Bertanya: Siapa Sebenarnya yang “Meniru” Siapa? Pada tahun 90-an, sebuah adegan di dalam toko barang mewah merangkum pemahaman awal dunia tentang Tiongkok. Seorang pelanggan kaya mengamati setelan mahal dari merek Prancis, tetapi menemukan tulisan “Made in China” di bagian dalam pakaian. Saat itu, Tiongkok hanya memproduksi produk paling halus di dunia dengan pengakuan penuh dari pemilik merek, dan di balik label asal tersebut, terdapat sebuah industri besar yang belum sepenuhnya diakui oleh dunia.
Saat ini, “Made in China” telah melampaui sekadar konsep asal, menjadi simbol perubahan tatanan dunia. Negara yang dulunya dianggap sebagai “pos industri” murah, kini telah bangkit sebagai pusat kunci yang mengatur ritme rantai pasokan global, penetapan teknologi, hingga hakikat persaingan.
“Made in China” yang dulunya identik dengan kualitas rendah, kini telah berevolusi menjadi tanda kualitas barang global, dari produk industri kelas atas hingga barang konsumsi premium, semuanya mencerminkan perubahan ini. Ini bukan hanya penulisan ulang jejak ekonomi, tetapi juga pembalikan mendalam dalam definisi “nilai”.
Dulu, “meniru” adalah label yang disematkan kepada Tiongkok. Namun sejak akhir 90-an, Tiongkok perlahan berubah menjadi pembela ide kreatif. Pengadilan di Tiongkok telah menjadi salah satu sistem peradilan yang paling sibuk di dunia dalam menangani kasus hak kekayaan intelektual, dengan ratusan ribu kasus terkait yang diterima setiap tahun, dan Tiongkok pun beralih dari posisi tergugat menjadi penggugat yang aktif. Seiring perusahaan-perusahaan Tiongkok melangkah ke luar negeri, perseteruan hukum semacam ini semakin menjadi hal yang biasa, menandakan bahwa logika persaingan bisnis sedang berubah.
“Siapa sebenarnya yang meniru siapa?” Pertanyaan ini telah terangkat dari guyonan bisnis menjadi sebuah interogasi terhadap pusat peradaban. Siapa yang menetapkan standar global? Siapa yang menentukan bentuk dan kecepatan produk? Ketika perusahaan-perusahaan Tiongkok mulai menantang pesaing asing di pengadilan, hak untuk mendefinisikan “orisinilitas” perlahan-lahan berpindah ke timur. Dulu, Barat menganggap dirinya sebagai pencipta orisinil, sedangkan Tiongkok adalah peniru; kini, arah tersebut telah berbalik, perusahaan Barat justru perlu mengejar ritme inovasi, produksi, dan penerapan standar dari Tiongkok.
Dalam arti yang lebih dalam, ini menandakan pembentukan kembali pemahaman era industri. Dulu, tingkat “meniru” ditentukan oleh kemampuan Tiongkok untuk menyalin produk Barat; sedangkan sekarang, “meniru” lebih banyak berarti ketergantungan Barat pada rantai pasokan Tiongkok, serta urgensi mereka untuk mengejar kecepatan inovasi pabrik-pabrik di Asia.
Ketika orisinil itu sendiri juga berasal dari Tiongkok, dunia industri harus menghadapi sebuah masalah baru: Ketika pusat orisinilitas berpindah ke timur, bagaimana kita mendefinisikan batas antara orisinil dan meniru?
Pada tahap ini, tuduhan “meniru” yang usang telah kehilangan makna substantif. Yang menentukan ritme industri global bukan lagi sekadar pencipta awal, tetapi mereka yang terus berkembang, memproduksi, dan secara luas menerapkan standar mereka di pasar, yaitu perusahaan-perusahaan Tiongkok. Tiongkok yang dulunya peniru, kini telah menjadi objek yang ditiru. (Penulis: Karam Namma, diterjemahkan oleh Wang Huicong)