Dasar
Spot
Perdagangkan kripto dengan bebas
Perdagangan Margin
Perbesar keuntungan Anda dengan leverage
Konversi & Investasi Otomatis
0 Fees
Perdagangkan dalam ukuran berapa pun tanpa biaya dan tanpa slippage
ETF
Dapatkan eksposur ke posisi leverage dengan mudah
Perdagangan Pre-Market
Perdagangkan token baru sebelum listing
Futures
Akses ribuan kontrak perpetual
TradFi
Emas
Satu platform aset tradisional global
Opsi
Hot
Perdagangkan Opsi Vanilla ala Eropa
Akun Terpadu
Memaksimalkan efisiensi modal Anda
Perdagangan Demo
Pengantar tentang Perdagangan Futures
Bersiap untuk perdagangan futures Anda
Acara Futures
Gabung acara & dapatkan hadiah
Perdagangan Demo
Gunakan dana virtual untuk merasakan perdagangan bebas risiko
Peluncuran
CandyDrop
Koleksi permen untuk mendapatkan airdrop
Launchpool
Staking cepat, dapatkan token baru yang potensial
HODLer Airdrop
Pegang GT dan dapatkan airdrop besar secara gratis
Launchpad
Jadi yang pertama untuk proyek token besar berikutnya
Poin Alpha
Perdagangkan aset on-chain, raih airdrop
Poin Futures
Dapatkan poin futures dan klaim hadiah airdrop
Investasi
Simple Earn
Dapatkan bunga dengan token yang menganggur
Investasi Otomatis
Investasi otomatis secara teratur
Investasi Ganda
Keuntungan dari volatilitas pasar
Soft Staking
Dapatkan hadiah dengan staking fleksibel
Pinjaman Kripto
0 Fees
Menjaminkan satu kripto untuk meminjam kripto lainnya
Pusat Peminjaman
Hub Peminjaman Terpadu
Gelar "Co-founder" di Lingkaran Web3: Siapa yang Benar-benar Berwirausaha, Siapa yang Sekadar Menumpang Popularitas?
Dalam komunitas Web3, Anda sering melihat beberapa wanita kreatif dengan avatar yang indah dan penggemar yang banyak, dengan jelas mencantumkan status mereka sebagai “Co-founder” dalam profil pribadi. Gelar ini seharusnya mewakili posisi inti dari seorang pendiri, tetapi di bidang Web3 tampaknya menjadi simbol status yang mudah diperoleh. Berapa banyak dari mereka yang benar-benar layak menyandang gelar “Co-founder”? Dan berapa yang hanya dibuat-buat sebagai persona?
Ketegangan Identitas di Balik Label Palsu
Istilah “Co-founder” dalam bisnis tradisional berarti tanggung jawab dan komitmen, tetapi setelah memasuki dunia Web3, batasnya menjadi kabur. Semua ini berawal dari sifat desentralisasi Web3—karena struktur proyek yang longgar dan ketidakjelasan identitas anggota tim, siapa saja yang pernah berkontribusi pada proyek bisa menempelkan label “Co-founder” pada diri mereka.
Yang lebih penting, gelar ini memiliki efek “brand” yang sangat kuat. Menyebut diri “Co-founder” di media sosial dapat dengan cepat meningkatkan citra profesional dan kepercayaan diri seseorang, sehingga orang asing langsung menganggap Anda sebagai pengusaha yang berpengaruh. Bagi mereka yang ingin cepat membangun pengaruh di bidang Web3, ini adalah cara murah untuk meningkatkan persona mereka.
Sebenarnya, banyak orang yang menyandang gelar “Co-founder” mungkin tidak pernah terlibat langsung dalam pengembangan inti proyek. Peran mereka sebenarnya sebagai duta merek, pengelola media sosial, atau bahkan hanya mengikuti satu pertemuan pendanaan dan kemudian memulai usaha sendiri. Namun, dalam informasi yang tersebar di komunitas Web3, perbedaan ini sering diabaikan.
Jalan Pintas Monetisasi Trafik
Jika gelar hanya untuk kepuasan ego, kekuatan sebenarnya berasal dari keuntungan bisnis. Gelar “Co-founder”, terutama jika dipadukan dengan persona seperti “wanita pengusaha” atau “kreator Web3”, dapat membawa lalu lintas dan nilai komersial yang besar.
Memiliki status “Co-founder” berarti lebih mudah mengakses investor, proyek, dan mitra kerja. Beberapa model, streamer, atau influencer memanfaatkan basis penggemar mereka yang sudah ada untuk masuk ke bidang Web3 dan membangun identitas ganda sebagai “KOL wanita + pendiri proyek”, menarik perhatian komunitas Web3, mendapatkan pendanaan, bahkan mengubah penggemar menjadi pendukung proyek.
Kombinasi identitas ini dalam algoritma media sosial cenderung menciptakan “efek riak”—pengikut Anda secara otomatis menganggap Anda sebagai pengambil keputusan utama proyek, bukan sekadar promotor pasar. Ini memberi jalan yang relatif murah bagi mereka yang ingin cepat mendapatkan keuntungan.
Co-founder ≠ Pengelola Utama
Namun, perlu ditegaskan satu hal: dalam banyak kasus, orang yang menyebut diri “Co-founder” sebenarnya hanya berperan dalam promosi, publikasi, dan pengelolaan media sosial, bukan sebagai pengembang teknis atau pengambil keputusan utama bisnis.
Seorang Co-founder sejati harus bertanggung jawab atas:
Sebaliknya, banyak yang mengaku “Co-founder” sebenarnya hanya melakukan pekerjaan pemasaran—menulis konten media sosial, mengorganisasi acara komunitas, atau terlibat dalam promosi merek. Pekerjaan ini penting, tetapi tidak boleh disamakan dengan gelar “pendiri bersama”.
Cara Membedakan Pendiri Asli dan Palsu
Saat Anda melihat seseorang mengklaim “Co-founder” di Twitter atau platform sosial lain, Anda bisa menilai dari beberapa sudut:
Periksa latar belakang proyek: Cari informasi resmi, pengumuman pendanaan, whitepaper, dan apakah orang ini benar-benar tercantum dalam tim pendiri. Co-founder yang asli biasanya disebutkan dalam dokumen resmi.
Amati batas fungsi mereka: Apa yang mereka lakukan? Jika 99% konten mereka adalah promosi media sosial dan endorsement merek, dan sangat jarang membahas aspek teknis atau analisis strategi, kemungkinan mereka hanyalah promotor, bukan pengambil keputusan.
Evaluasi pengaruh nyata: Dalam pengambilan keputusan penting proyek, apakah mereka memiliki suara yang signifikan? Atau hanya “dilibatkan” saat diperlukan sebagai juru bicara?
Perhatikan perkembangan proyek: Apakah proyek berkembang secara teknis dan bisnis? Jika proyek terus maju dengan pembaruan teknologi dan ekspansi bisnis, pengaruh Co-founder biasanya tercermin dari kemajuan tersebut. Sebaliknya, jika proyek stagnan dan personal branding mereka berkembang pesat, itu bisa menjadi sinyal.
Memang, di dunia Web3 ada wanita pengusaha dan pendiri bersama yang benar-benar berjuang secara diam-diam. Tetapi, di bawah pengaruh media sosial, label “Co-founder” palsu sudah menyebar luas. Saat Anda melihat seseorang mengklaim “Co-founder” lagi, pikirkan satu hal: apakah gelar ini didukung oleh kisah nyata sebagai pendiri, atau sekadar persona yang dirancang dengan matang?