Larry Ellison, pria terkaya di dunia: di antara lima pernikahan dan seorang istri Tionghoa yang jauh lebih muda

Pada 10 September 2025, dunia telah mengalami perubahan pemimpin ekonomi. Larry Ellison, pria berusia 81 tahun, secara resmi menggantikan Elon Musk sebagai orang terkaya di planet ini menurut indeks miliarder Bloomberg. Dalam satu hari saja, kekayaannya melonjak lebih dari 100 miliar dolar menjadi 393 miliar dolar. Tetapi di balik angka-angka yang menakjubkan, kehidupan pribadi dari pengusaha Silicon Valley ini yang memikat: lima pernikahan, seorang istri asal Tiongkok yang 47 tahun lebih muda, hasrat tak pernah padam untuk petualangan, dan disiplin pribadi yang hampir monastik. Bagaimana seorang yatim piatu yang ditinggalkan mampu membangun kerajaan teknologi yang begitu kokoh? Dan mengapa, di usia lebih dari delapan puluh tahun, ia terus mendefinisikan kembali legenda dirinya?

Istri unik dan lima kisah cinta seorang miliarder

Pada 2024, sebuah berita mengejutkan dunia bisnis: Larry Ellison menikah diam-diam dengan Jolin Zhu, seorang wanita asal Tiongkok lahir di Shenyang dan lulusan Universitas Michigan. Pernikahan ini, yang terungkap melalui dokumen donasi universitas, lebih dari sekadar urusan hati. Di usia di mana kebanyakan pria memikirkan warisan, Ellison memilih untuk terjun ke petualangan pernikahan baru, kontras mencolok dengan kepribadiannya yang obsesif terhadap teknologi.

Istri asal Tiongkok ini menandai bab kelima dalam kehidupan pernikahan Ellison, sebuah rangkaian hubungan yang mencerminkan ketidakkonsistenan sekaligus kekonsistenannya. Setiap pernikahan selalu memiliki motif—kadang pribadi, sering kali terkait dengan ambisi profesionalnya. Rumor tentang kehidupan asmara Ellison hampir sebanyak data yang dikelola basis data Oracle-nya. Para pengkritiknya bercanda bahwa, bagi Ellison, gelombang asmara dan puncak lautan memiliki daya tarik yang sama menakjubkan.

Pernikahan yang terlambat ini menunjukkan seorang pria yang menolak beristirahat, yang menantang norma usia. Sementara filantrop lain mundur dari kehidupan publik, Ellison terus menulis sejarahnya dalam huruf kapital, termasuk dalam arena pribadi di mana istrinya memegang tempat istimewa dalam portofolio kehidupannya.

Dari yatim piatu muda hingga arsitek basis data global

Kisah Larry Ellison dimulai dari ketidakpastian dan kemiskinan. Lahir tahun 1944 di Bronx, New York, sebagai anak dari remaja berusia sembilan belas tahun yang tak mampu merawatnya, Ellison diserahkan ke bibi di Chicago sejak usia sembilan bulan. Ayah angkatnya adalah pegawai negeri yang sederhana; suasana keluarga dipenuhi pembatasan ekonomi.

Pendidikan seharusnya menjadi jalan keluar, tetapi Ellison berulang kali menolaknya. Diterima di Universitas Illinois di Urbana-Champaign, ia meninggalkan studi di tahun kedua setelah ibunya angkat meninggal. Ia kemudian mencoba di Universitas Chicago, tetapi pergi setelah satu semester. Seolah ada sesuatu dalam dirinya yang menolak tembok institusional.

Alih-alih mengejar gelar konvensional, Ellison memulai sebuah perjalanan: pekerjaan pemrograman sporadis di Chicago, lalu perjalanan darat ke Berkeley, California, pusat budaya kontra dan inovasi teknologi. “Orang-orang di sana terasa lebih bebas dan lebih cerdas,” katanya kemudian. Pilihan ini terbukti tepat.

Pada awal 1970-an, Ellison memasuki pintu penting di Ampex Corporation, perusahaan yang berspesialisasi dalam penyimpanan audio-video dan pengolahan data. Sebagai programmer, ia terlibat dalam proyek transformasional: merancang sistem basis data yang mampu mengelola data CIA, yang diberi nama “Oracle”. Pengalaman ini, meskipun dirahasiakan oleh CIA, menjadi benih kekayaannya kelak.

Pada 1977, di usia 32 tahun, Ellison menginvestasikan 1200 dolar bersama mantan rekannya Bob Miner dan Ed Oates untuk mendirikan Software Development Laboratories (SDL). Keputusan strategis pertama mereka adalah memasarkan sistem basis data universal berbasis model relasional yang dikembangkan untuk CIA. Mereka menyebutnya sederhana “Oracle”.

Ellison bukan pencipta teknologi basis data pertama, tetapi ia memahami esensi komersialnya dengan kejelasan yang jarang dimiliki orang lain. Ia mempertaruhkan seluruh kekayaan barunya untuk membuka pasar ini. Kepemimpinannya di Oracle sangat khas: menjadi presiden dari 1978 hingga 1996, kemudian ketua dewan dari 1990 hingga 1992, ia memegang kendali perusahaan tanpa pernah melepaskannya.

Pada 1986, Oracle masuk ke NASDAQ, menjadi bintang yang sedang naik di industri perangkat lunak perusahaan. Dekade berikutnya, Oracle mendominasi pasar basis data, meskipun munculnya cloud computing melalui Amazon AWS dan Microsoft Azure menantang kekuatan lama teknologi ini.

Percepatan menuju puncak kekayaan: Oracle dan gelombang AI

Pivotal yang benar-benar membawa Ellison ke puncak ekonomi dunia dimulai dengan revolusi kecerdasan buatan generatif. Pada 10 September 2025, Oracle mengumumkan empat kontrak besar selama kuartal terakhir, dengan nilai gabungan ratusan miliar dolar. Kemitraan lima tahun dengan OpenAI saja bernilai 300 miliar dolar. Pengumuman ini memicu gejolak di pasar saham: harga saham Oracle melonjak lebih dari 40% dalam satu hari, lonjakan harian terbesar sejak 1992.

Kontrak ini bukan sekadar transaksi bisnis biasa. Ia melambangkan upaya Oracle merebut kembali posisi melawan pesaing cloud-nya. Bertahun-tahun, Oracle tampak lambat menghadapi kenaikan pesat AWS dan Azure. Tetapi dalam hal infrastruktur basis data besar dan hubungan pelanggan yang mendalam, Oracle tetap memiliki keunggulan strategis yang tak tertandingi. Ketika industri mulai membutuhkan pusat data raksasa untuk mendukung model AI, Oracle memiliki tiket kemenangan yang tepat.

Pada musim panas 2025, perusahaan mewujudkan transformasi strategisnya: PHK massal di divisi perangkat lunak tradisional dan penjualan perangkat keras—ribuan karyawan—sementara investasi dalam infrastruktur AI melonjak pesat. Oracle berubah dari pemasok perangkat lunak lama menjadi kekuatan hitam dalam infrastruktur AI generatif di mata Wall Street.

Kekaisaran meluas: keluarga di Silicon Valley dan Hollywood

Kekayaan Ellison tidak hanya berhenti pada dirinya; ia menyebar ke dalam ekosistem keluarganya yang luas. Putranya, David Ellison, melakukan akuisisi spektakuler dengan menguasai Paramount Global, induk perusahaan CBS dan MTV, dengan dana sekitar 8 miliar dolar. Keluarga Ellison menyumbang 6 miliar dari dana tersebut, menandai ekspansi dinasti ke Hollywood.

Strategi generasi ini cerdas: ayah menguasai Silicon Valley melalui Oracle dan infrastruktur AI, anak membangun kerajaan media di Los Angeles. Bersama-sama, mereka membangun jaringan kekuasaan yang meliputi kode komputer hingga layar televisi.

Di ranah politik, Ellison tak pernah menyembunyikan kecenderungannya yang cenderung ke Partai Republik. Ia secara rutin membiayai kampanye politik yang sejalan dengan kepentingannya: pada 2015, mendukung Marco Rubio; pada 2022, menyumbang 15 juta dolar ke super PAC senator Tim Scott. Pada Januari 2025, Ellison tampil langsung di Gedung Putih bersama Masayoshi Son (CEO SoftBank) dan Sam Altman (CEO OpenAI), mengumumkan pembangunan jaringan pusat data AI bernilai 500 miliar dolar. Oracle menjadi fondasi teknologi dari arsitektur ini. Langkah ini lebih dari sekadar politik, tetapi juga strategi bisnis.

Disiplin tersembunyi dari “anak ajaib”: olahraga, kemewahan, dan keajaiban usia muda

Satu kontradiksi mencolok dari Larry Ellison adalah: kemewahan tanpa batas berdampingan dengan disiplin hampir monastik. Ia memiliki 98% pulau Lanai di Hawaii, rumah-rumah mewah di California, dan kapal pesiar kelas dunia. Pada saat bersamaan, gaya hidup pribadinya bisa mengesankan atlet Olimpiade.

Obsesi mendalam terhadap air dan angin tercermin dari kegiatan layar dan selancar. Pada 1992, ia hampir tenggelam saat jatuh saat berselancar; alih-alih menyerah, Ellison justru memperdalam praktiknya. Ia berinvestasi besar dalam America’s Cup, mendukung tim Oracle Team USA yang pada 2013 melakukan kebangkitan spektakuler di final, salah satu kisah epik dalam sejarah layar. Antusiasme terhadap kompetisi nautika ini mendorongnya mendirikan SailGP pada 2018, kompetisi katamaran super cepat yang kini didukung tokoh-tokoh terkenal: aktris Anne Hathaway dan pesepakbola Kylian Mbappé.

Tenis adalah passion besar lainnya. Ia menghidupkan kembali turnamen Indian Wells di California, menyebutnya sebagai “Grand Slam kelima”. Rekan-rekannya menyatakan bahwa olahraga ini bukan sekadar hobi—itu rahasia awet mudanya. Beberapa eksekutif yang pernah bekerja di bawahnya melaporkan bahwa antara 1990 dan 2000, Ellison menghabiskan beberapa jam setiap hari untuk latihan fisik. Pola makannya menghindari minuman manis, lebih suka air dan teh hijau dengan disiplin monastik. Gaya hidup ini membuatnya di usia 81 tahun tetap bugar, tampak dua puluh tahun lebih muda dari rekan-rekannya.

Kombinasi ini—kemewahan tanpa batas dan disiplin biksu—mengungkapkan misteri Ellison. Bagi dia, risiko fisik dan gairah bukanlah kontradiksi, melainkan dua dimensi dari hidup yang penuh pengalaman. Gelombang laut dan arena asmara memberinya sensasi eksistensial yang sama.

Filantropi pribadi: ketika amal menolak konformitas

Pada 2010, Ellison menandatangani “sumpah donasi”, berkomitmen menyumbangkan minimal 95% kekayaannya untuk tujuan amal. Tetapi, berbeda dengan Bill Gates dan Warren Buffett, ia tak pernah mencari pengikut kolektif atau pengaruh moral dari gerakan filantropi. Dalam wawancara dengan New York Times, ia menyatakan bahwa ia “menyukai kesendirian dan menolak dipengaruhi oleh pikiran orang lain”, menandai jalur uniknya sebagai dermawan.

Pada 2016, ia menyumbang 200 juta dolar ke Universitas California Selatan untuk mendirikan pusat riset kanker. Baru-baru ini, ia mengumumkan transfer bagian besar kekayaannya ke Ellison Institute of Technology, yang didirikan bersama Universitas Oxford, untuk meneliti isu medis, pangan, dan iklim.

Komunikasi publiknya tentang niat filantropinya tetap sangat pribadi. “Kita harus merancang generasi baru obat-obatan untuk menyelamatkan umat manusia, membangun sistem pertanian yang efisien dan berkelanjutan, serta mengembangkan energi terbarukan yang efektif,” katanya. Nada ini menunjukkan seorang yang membayangkan masa depan sesuai visinya sendiri, bukan mengikuti konsensus para filantropis.

Epilog: kemenangan dari generasi tua yang menjadi pelopor

Di usia 81 tahun, Larry Ellison akhirnya meraih mahkota orang terkaya di dunia. Perjalanannya, dari anak yatim piatu hingga raja basis data, lalu menjadi arsitek infrastruktur AI global, seperti sebuah kisah picaresque yang terus berlanjut di setiap babnya.

Lima pernikahan, seorang istri asal Tiongkok yang jauh lebih muda, sebuah domain di Hawaii, turnamen layar revolusioner, pengaruh politik tersembunyi, disiplin ketat, dan filantropi yang sangat pribadi—itulah ciri hidup yang jarang dihidupi orang lain. Ia tak pernah mencari rasa hormat, konformitas, atau persetujuan kolektif.

Tahta ekonomi dunia bisa saja bergeser lagi. Tetapi untuk saat ini, Ellison membuktikan bahwa generasi lama para titan teknologi tidak mudah menyerah. Di saat AI mengubah wajah dunia digital, kemenangan Ellison mengingatkan bahwa visi, keberanian, dan inovasi terus-menerus masih mampu meraih puncak.

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan