Dasar
Spot
Perdagangkan kripto dengan bebas
Perdagangan Margin
Perbesar keuntungan Anda dengan leverage
Konversi & Investasi Otomatis
0 Fees
Perdagangkan dalam ukuran berapa pun tanpa biaya dan tanpa slippage
ETF
Dapatkan eksposur ke posisi leverage dengan mudah
Perdagangan Pre-Market
Perdagangkan token baru sebelum listing
Futures
Akses ribuan kontrak perpetual
TradFi
Emas
Satu platform aset tradisional global
Opsi
Hot
Perdagangkan Opsi Vanilla ala Eropa
Akun Terpadu
Memaksimalkan efisiensi modal Anda
Perdagangan Demo
Pengantar tentang Perdagangan Futures
Bersiap untuk perdagangan futures Anda
Acara Futures
Gabung acara & dapatkan hadiah
Perdagangan Demo
Gunakan dana virtual untuk merasakan perdagangan bebas risiko
Peluncuran
CandyDrop
Koleksi permen untuk mendapatkan airdrop
Launchpool
Staking cepat, dapatkan token baru yang potensial
HODLer Airdrop
Pegang GT dan dapatkan airdrop besar secara gratis
Launchpad
Jadi yang pertama untuk proyek token besar berikutnya
Poin Alpha
Perdagangkan aset on-chain, raih airdrop
Poin Futures
Dapatkan poin futures dan klaim hadiah airdrop
Investasi
Simple Earn
Dapatkan bunga dengan token yang menganggur
Investasi Otomatis
Investasi otomatis secara teratur
Investasi Ganda
Keuntungan dari volatilitas pasar
Soft Staking
Dapatkan hadiah dengan staking fleksibel
Pinjaman Kripto
0 Fees
Menjaminkan satu kripto untuk meminjam kripto lainnya
Pusat Peminjaman
Hub Peminjaman Terpadu
【AI+Efisiensi】Menggunakan AI belum tentu meningkatkan efisiensi malah menjadi "pusing" Apa saja sepuluh pekerjaan yang paling rentan mengalami "AI Brain Fog"?
Dunia telah memasuki era AI, di mana berbagai industri dan posisi pekerjaan menggunakan AI untuk membantu pekerjaan guna meningkatkan efisiensi. Namun, setelah penggunaan AI secara luas, sebagian orang berpendapat bahwa AI tidak menyederhanakan pekerjaan, malah muncul fenomena yang disebut “pusing otak” atau “AI Brain Fry”. Menurut sebuah studi yang dipublikasikan oleh Harvard Business Review, fenomena ini disebut sebagai “AI Brain Fry”, yaitu kelelahan mental yang disebabkan oleh penggunaan berlebihan atau pengawasan terhadap alat AI yang melebihi kapasitas kognitif seseorang, dan daftar sepuluh fungsi pekerjaan yang paling rentan mengalami “AI Brain Fry”.
BCG melakukan studi terhadap 1.488 karyawan penuh waktu di perusahaan besar di AS, meneliti pola dan jumlah penggunaan AI, pengalaman kerja, serta masalah kognitif dan emosional. Responden berasal dari berbagai industri, posisi, dan tingkat hierarki, dengan proporsi pria dan wanita yang hampir seimbang, dan sekitar 60% kontributor independen serta 40% manajemen.
Studi menemukan bahwa 14% dari responden yang menggunakan AI dalam pekerjaan mereka melaporkan mengalami “AI Brain Fry”. Mereka menyatakan bahwa saat “AI Brain Fry” terjadi, mereka merasakan suara berdengung atau kebingungan pikiran, yang ditandai dengan kesulitan berkonsentrasi, kecepatan pengambilan keputusan yang melambat, dan sakit kepala.
Studi juga menunjukkan bahwa ketika AI digunakan untuk menggantikan tugas harian atau repetitif, tingkat kelelahan menurun, tetapi tingkat kelelahan mental tidak berkurang.
Bagaimana penggunaan AI dapat memicu “AI Brain Fry”?
Menariknya, ketika karyawan menggunakan satu AI tool secara bersamaan dan meningkat menjadi dua, produktivitas mereka secara signifikan meningkat. Namun, saat menggunakan tiga alat, produktivitas meningkat lagi tetapi dengan laju yang lebih lambat, dan saat menggunakan empat atau lebih, produktivitas justru menurun.
Studi menunjukkan bahwa kelebihan informasi dan pergantian tugas adalah faktor utama penyebab “AI Brain Fry”. Ada korelasi yang kuat antara “AI Brain Fry” dan kelebihan informasi, tetapi hubungan dengan pergantian tugas tidak terlalu langsung.
Apa dampak negatif dari “AI Brain Fry”?
Penelitian menyimpulkan bahwa AI dapat membantu meningkatkan efisiensi kerja, memperluas pemikiran, dan memperkuat inovasi. Namun, penggunaan AI secara berlebihan juga dapat menyebabkan kelebihan kognitif dan berbagai dampak pribadi serta bisnis. Hasil studi menunjukkan bahwa kunci keberhasilan bukan terletak pada tingkat penggunaan AI oleh individu, tetapi pada bagaimana karyawan, tim, pemimpin, dan organisasi membentuk cara penggunaan AI. Oleh karena itu, disarankan untuk: 1) merancang ulang pekerjaan, isi pekerjaan, dan alatnya untuk kolaborasi manusia dan AI; 2) menetapkan harapan yang jelas terhadap penggunaan AI dan beban kerja; 3) mengubah indikator pengukuran dari aktivitas dan intensitas ke dampak; 4) melatih karyawan dalam mengelola beban kerja AI; 5) menganggap perhatian manusia sebagai sumber daya terbatas dan melakukan penempatan strategis.