Teknik Perburuan Burung Bangau Hitam Taleb

Sumber: Penerbit Zhongxin

Ketika semua orang ditelan oleh gelombang acak yang besar, ada orang yang sudah membangun bahtera.

Semua orang bermimpi mendapatkan keuntungan besar di pasar perdagangan yang bergejolak, tetapi mengapa yang mampu melakukannya selalu sedikit sekali, yaitu ‘kelompok’ yang luar biasa?

19 Oktober 1987, ruang perdagangan di Wall Street berubah menjadi gambaran neraka dunia keuangan. “Senin Hitam” datang, indeks Dow Jones jatuh 22,6% dalam satu hari, memecahkan rekor sejarah.

Para trader wajahnya pucat pasi, ada yang menatap angka merah yang terus meloncat di layar sambil bergumam sendiri, ada yang terkulai di kursi, emosinya hampir runtuh. Suara dering telepon, teriakan, dan ketukan keyboard bercampur menjadi satu, kekayaan menghilang seperti longsoran salju, suasana di udara dipenuhi oleh rasa putus asa…

Malam itu, tidak ada satu pun di Wall Street yang tidur—kecuali seorang trader berusia 27 tahun. Di sebuah apartemen di Manhattan, Nassim Nicholas Taleb secara aneh tidur nyenyak selama 12 jam penuh di tengah badai keuangan yang melanda seluruh dunia.

Ketika dia terbangun, dunia telah berubah total.

Lebih mengejutkan lagi, opsi put deep out-of-the-money yang pernah dihina oleh rekan-rekannya sebagai “kertas sampah” oleh Taleb, dalam semalam nilainya melambung tinggi. Dia telah diam-diam membeli kontrak-kontrak ini yang dianggap tidak akan pernah terwujud oleh pasar secara keseluruhan—dia bertaruh pada kejadian ekstrem yang “mustahil” terjadi.

Taruhan yang tenang dan pemberontak ini membuatnya meraup jutaan dolar, dan secara cepat meraih kebebasan finansial.

Adegan ini menjadi gambaran paling metaforis dalam sejarah keuangan modern: ketika kebanyakan orang ditelan oleh gelombang acak, segelintir orang sudah membangun bahtera.

Dari perang di Beirut hingga badai di Wall Street

1960, Taleb lahir dari keluarga elit yang terkenal di Lebanon, kakeknya adalah hakim Mahkamah Agung, kakek buyutnya pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri, dan ayahnya adalah ilmuwan terkemuka. Masa mudanya dibanjiri bayangan kemakmuran “Paris kecil Timur Tengah”, saat itu pendapatan per kapita Lebanon bahkan melebihi Italia. Segalanya tampak kokoh, beradab, dan dapat diprediksi.

Namun, suara tembakan pada tahun 1975 menghancurkan semua ilusi stabilitas itu. Perang saudara Lebanon pecah, api peperangan dengan cepat melalap tanah airnya. Teman sekelasnya tewas dalam konflik, kakek buyutnya terpaksa melarikan diri ke luar negeri—sebuah negara yang stabil selama berabad-abad, tiba-tiba runtuh di tengah proses modernisasi.

Taleb kemudian mengenang, “Bagi saya, risiko berarti saat makan malam setiap hari, saya tidak tahu berapa banyak teman yang bermain sepak bola bersama saya di siang hari masih bisa hidup besok.”

Pada awal perang saudara, para elit termasuk kakek buyutnya yakin konflik akan segera berakhir dalam beberapa hari, tetapi kenyataannya perang berlangsung selama 17 tahun penuh.

Beirut, kampung halamannya, menjadi “angsa hitam” pertama yang masuk ke dalam hidup Taleb, mengajarinya pelajaran paling keras: bahwa stabilitas yang paling kokoh hanyalah ilusi, dan prediksi para ahli sering meleset jauh dari kenyataan.

Pengalaman ini menuntunnya ke arah studi seumur hidup—memahami ketidakpastian. Keluarga yang makmur memberinya “tiket kapal” untuk melarikan diri dari perang: dia belajar matematika di Paris, masuk Wharton School, dan akhirnya menjejakkan kaki di Wall Street.

Di sana, dia pertama kali mengenal “opsi”—alat keuangan yang langsung membuatnya jatuh cinta.

Dia terpesona oleh daya tarik “nonlinear”: pembeli hanya menanggung kerugian terbatas, tetapi berpotensi mendapatkan imbal hasil yang tidak proporsional; sementara penjual tampaknya menerima biaya “stabil” setiap hari, tetapi sebenarnya menanggung risiko yang menghancurkan. Ketidakseimbangan “kerugian terbatas, keuntungan tak terbatas” ini sangat mirip dengan metafora bertahan hidup yang dia alami di Lebanon—bahwa bahaya sejati sering tersembunyi di balik pola yang dianggap aman dan stabil.

Kini, jika melihat kembali, keberhasilan “Senin Hitam” tahun 1987 bukanlah kebetulan, melainkan bukti awal dari kerangka pemikiran ini.

Pengalaman ini mendorong Taleb secara sistematis membangun kotak alat pemikirannya sendiri, yang menjadi tiga pilar utama untuk bertahan hidup di dunia yang tidak pasti.

Pertama, mengenali “angsa hitam”: mengakui pengaruh besar dari hal-hal yang tak terduga.

“Angsa hitam” merujuk pada peristiwa langka yang tidak dapat diprediksi sebelumnya, memiliki dampak besar, dan setelah terjadi bisa dijelaskan secara “masuk akal”. Konsep ini berasal dari kebiasaan orang Eropa yang yakin semua angsa berwarna putih, sampai mereka menemukan angsa hitam di Australia.

Black Swan

[Amerika] Nassim Nicholas Taleb, Penulis

Dwi Dan Liu Ning, Penerjemah

CITIC Publishing Group

Dalam sejarah keuangan, angsa hitam memiliki deretan nama: kejatuhan 1987, krisis keuangan Asia 1997, krisis keuangan global 2008, pandemi COVID-19 2020… Mereka memiliki satu kesamaan: tidak dapat diprediksi, tetapi setelah kejadian, semua orang bisa merangkai cerita “masuk akal”.

Taleb menulis dalam Black Swan: “Dunia kita didominasi oleh hal-hal ekstrem, tidak diketahui, dan sangat tidak mungkin terjadi, tetapi kita terus-menerus menghabiskan waktu membahas hal-hal sepele, hanya fokus pada yang diketahui dan yang berulang.”

Kedua, menjadi “anti-fragile”: mendapatkan manfaat dari fluktuasi.

Pengalaman 1987 memperdalam pemikiran Taleb, dia menyadari bahwa inti masalah bukan hanya mengenali angsa hitam, tetapi bagaimana mendapatkan manfaat dari peristiwa tersebut.

Dia menciptakan konsep “anti-fragile”: yaitu sifat yang tidak hanya mampu mendapatkan manfaat dari kekacauan dan fluktuasi, tetapi juga membutuhkan kekacauan tersebut agar tetap hidup dan berkembang.

“Angin kencang bisa memadamkan nyala lilin, tetapi bisa membuat api unggun semakin besar.” tulisnya, “Kita mencari ketertiban, tetapi yang didapat hanyalah ketertiban palsu; dengan merangkul ketidakpastian, kita bisa mengendalikan situasi dan menguasai keadaan.”

Berdasarkan wawasan ini, dia mengusulkan strategi terkenal bernama “杠铃” (balancing strategy): menginvestasikan 85-90% sumber daya di bidang yang sangat aman (seperti obligasi pemerintah), dan 10-15% di bidang berisiko tinggi dan berpotensi besar (seperti modal ventura), sambil menghindari zona risiko sedang dan imbal hasil sedang yang membosankan.

Inti dari strategi ini adalah membangun ketidakseimbangan yang menguntungkan: risiko kerugian di sisi bawah terbatas, tetapi potensi keuntungan di sisi atas sangat besar.

Ketiga, mempercayai “risk sharing”: prinsip utama menyaring noise.

Pada 2009, di sebuah seminar di Korea, seorang eksekutif keuangan dengan yakin memprediksi tren ekonomi lima tahun ke depan. Taleb mendengar, lalu naik ke panggung dan berkata kepada audiens: “Kalau ada orang yang lagi-lagi memprediksi masa depan dengan sok tahu, dia harus menunjukkan dulu rekam jejaknya.”

Dia sangat menekankan prinsip “Skin in the Game”: hanya ketika orang bertanggung jawab secara nyata atas risiko keputusan mereka, saran mereka layak dipertimbangkan. Dia sering mengutip kebijaksanaan kuno dari Hammurabi’s Code: “Jika arsitek bangunan yang dia bangun runtuh dan menyebabkan kematian pemilik rumah, maka arsitek itu harus dihukum mati.”

Pandangan ini membantu kita dalam banyak penilaian. Misalnya, jika Anda harus menjalani operasi, dan ada dua dokter yang bisa dipilih: yang pertama tampak rapi dan berbicara lancar; yang kedua tampak seperti tukang daging, gemuk, dan berbicara kasar. Taleb mengatakan dia akan langsung memilih yang kedua.

Alasannya sederhana: jika seseorang tidak terlihat seperti profesional, tetapi sudah lama berkecimpung di bidang itu, berarti dia harus mengatasi lebih banyak ketidakpercayaan karena penampilan. Dia pasti mampu mengubah kesan pertama orang lain melalui kemampuan nyata yang luar biasa, sehingga bisa bertahan di bidang ini.

Menunggu “darah” yang pasti akan keluar dalam waktu lama

Pemikiran Taleb bukan sekadar teori kosong; di Wall Street, dia memiliki banyak pendukung nyata.

Kalau dia adalah arsitek teori, maka Mark Spitznagel adalah murid dan praktisi paling terkenal dari teori tersebut. Keduanya mendirikan Empirica Capital—sebuah hedge fund yang sepenuhnya beroperasi berdasarkan filosofi Taleb, sebagai “laboratorium” filosofi Taleb di Wall Street.

Strategi mereka sangat sederhana, tetapi sangat menegangkan dalam pelaksanaan: terus membeli opsi deep out-of-the-money yang murah sebagai perlindungan terhadap keruntuhan pasar.

Dalam tahun-tahun normal tanpa keruntuhan, opsi ini perlahan-lahan mencair seperti es, dan nilai dana terus menurun sedikit demi sedikit—mereka menyebutnya “mengalirkan darah”. Tetapi saat angsa hitam datang, “asuransi” ini akan membayar ratusan, bahkan ribuan kali lipat.

Intinya, ini adalah proses menunggu “mengalirkan darah” yang panjang dan pasti, sebuah latihan melawan naluri manusia.

Sejak 2016, Spitznagel pernah menunjukkan data backtest kepada pengelola dana pensiun di California: sebuah strategi sederhana yang terdiri dari kombinasi indeks S&P 500 dan dana Empirica yang hanya menguasai 3,3% dari portofolio, mampu menghasilkan 12,3% return, mengungguli S&P 500 dan banyak strategi kompleks lainnya.

Strategi ini sudah terbukti berkali-kali. Pada Senin, 5 Februari 2018, Dow Jones mencatat penurunan terbesar dalam satu hari sepanjang sejarah, pasar bergejolak seperti tembakan senapan mesin, dan Empirica meraup keuntungan besar.

Namun, sifat manusia yang tidak sabar seringkali menghalangi. Meski klien memahami dan setuju dengan strategi ini, dan mereka membeli karena percaya, tetapi tahun demi tahun, keruntuhan tidak pernah terjadi, dan kerugian kecil yang stabil terus berlanjut. Melihat ke luar, orang lain terus-menerus mendapatkan uang. “Lihat saja pasar saham AS yang naik perlahan, kita harus berada di posisi berlawanan?” Pertanyaan ini mencerminkan mentalitas mayoritas orang.

Pada 2019, klien institusi terbesar Empirica—California Public Employees’ Retirement System (CalPERS), yang mengelola setengah dari dana—akhirnya tidak mampu lagi menahan “mengalirkan darah” yang terus berlangsung dan memutuskan menarik dana.

Namun, imbal hasil dari kesabaran itu secara dramatis muncul tak lama setelah penarikan dana. Pada 2020, pandemi COVID-19 melanda dunia, pasar anjlok karena kepanikan, dan Empirica mencapai puncaknya. Dalam kejatuhan pasar awal tahun itu, dana ini meraih hasil yang luar biasa. Klien yang sebelumnya menarik diri karena “mengalirkan darah”, sama sekali tidak menyadari bahwa mereka melewatkan momen keberhasilan ini.

Siklus lengkap ini secara mendalam menggambarkan jalan praktik filosofi Taleb: memahami sifat distribusi fat tail, membangun ketidakseimbangan yang menguntungkan, menanggung “mengalirkan darah” yang terus-menerus, dan menunggu saat-saat langka yang berdampak besar untuk datang.

Namun, jalan ini jarang dilalui orang karena menuntut investor melawan keinginan terdalam manusia—keinginan akan kepastian, tekanan psikologis saat rekan-rekan juga meraih keuntungan, serta kecemasan dan keraguan yang datang seiring waktu.

Pada 2001, Taleb yang mendapatkan keuntungan besar dari peristiwa 9/11, diwawancarai di sebuah acara televisi AS. Pembawa acara bertanya bagaimana dia bisa memprediksi fluktuasi tak terduga tersebut?

Taleb menjawab, “Tidak bisa diprediksi. Kesabaran adalah hukum pertama, kita tidak boleh terburu-buru, harus sangat sabar. Setiap hari pasti ada hambatan, seperti mengelupas kulit setiap hari, karena hedging itu membutuhkan biaya. Ini adalah strategi fluktuasi jangka panjang, mengalirkan darah adalah hal yang tak terhindarkan, tetapi harus ditanggung.”

Dia membandingkan strategi ini seperti memiliki toko hadiah, tetapi Anda tidak tahu kapan Natal akan datang. “Natal datang secara acak, tetapi Anda harus membayar sewa setiap hari.”

Dalam suratnya kepada pemegang dana, Spitznagel juga pernah menyimpulkan: “Kami benar-benar tidak memiliki bola kristal.”

Mereka benar-benar tidak bisa memprediksi, hanya saja mereka sudah mempersiapkan diri.

The Black Swan: The Impact of the Highly Improbable

[Amerika] Nassim Nicholas Taleb, Penulis

Sheng Fengshi, Penerjemah

CITIC Publishing Group

Filosofi Hidup Taleb

Filosofi investasi Taleb juga meresap ke dalam gaya hidupnya.

Saat dia masih harus bekerja, dia menulis surat pengunduran diri dan menyimpannya di laci, lalu tetap bekerja. Dia berkata, “Dengan cara ini, saya merasa bebas. Hasil terburuk atau terbaik, tersimpan di laci, dan saya tahu pasti apa isinya.”

Begitu pula saat menjadi trader, setiap pagi dia melakukan latihan mental: bayangkan hal terburuk sudah terjadi, maka sisa waktu trading akan jauh lebih sedikit terganggu oleh ketidakpastian. Dia menemukan latihan ini lebih berguna daripada berkonsultasi ke psikolog, karena risiko dan kerugian sudah terbatas dan diketahui.

Secara fisik, dia membangun ketahanan fisiologis melalui “tekanan reversibel”: olahraga yang bisa diulang dan bersifat sementara.

Taleb adalah penggemar olahraga, setiap bulan dia bersepeda sejauh 900 km dan mampu melakukan deadlift berat yang cukup besar. Dia percaya bahwa sering membebani tubuh dengan kelelahan dan cedera yang bisa dipulihkan adalah bentuk latihan anti-fragile.

Antifragile: Things That Gain from Disorder

[Amerika] Nassim Nicholas Taleb, Penulis

Yu Ke, Penerjemah

CITIC Publishing Group

Dalam hal asupan informasi, dia menerapkan “penyaringan sinyal” yang ketat untuk melawan polusi noise.

Dia sengaja menjauh dari kantor dan berbagai organisasi, tidur sampai bangun sendiri, dan rakus membaca. Dia punya kutipan klasik: “Jaga pikiran tetap jernih; jangan pernah bicara dengan orang bodoh.”

Dia mengatakan mulai dari usia 13 tahun, setiap minggu dia menghabiskan 30-60 jam untuk membaca. Hampir tiga puluh tahun berkarier, dia hanya menghabiskan sepertiga waktunya untuk trading, sisanya dua pertiga untuk membaca dan riset.

Sebaliknya, dia jarang menonton berita. Menurutnya, tanpa kejadian penting, orang yang suka mendengar berita hanya satu langkah dari kebodohan.

Dalam pandangannya, frekuensi konsumsi informasi langsung mempengaruhi rasio sinyal terhadap noise. “Sumber informasi yang sama, perhatian satu kali setahun mungkin rasio sinyal terhadap noise 1:1; tetapi jika setiap hari, rasio bisa menjadi 5%:95%. Terlalu banyak berita dan gula setiap hari akan membuat sistem menjadi kacau.”

Wawasan ini sejalan dengan pemikiran keuangannya: pasar keuangan adalah pasar fat tail. Pada kenyataannya, untuk hal-hal yang sangat berat ekor, selain deviasi besar yang benar-benar muncul di ekor, semua deviasi biasa berisi sangat sedikit informasi. Dengan demikian, bagian tengah distribusi hanyalah noise.

Misalnya, setelah muncul angsa hitam, setiap angsa putih yang sebelumnya Anda lihat sebenarnya hanyalah noise. Mengonfirmasi jutaan kali pun, tidak seefektif menolak satu kali saja.

Dalam gaya hidup, dia menganjurkan “makan seperti orang kuno”, karena “tubuh kita berasal dari cara-cara tersebut.”

Contohnya, dia tidak bangun lalu langsung makan sarapan, karena kehidupan orang kuno tidak mungkin bangun langsung mendapatkan makanan. “Kamu harus keluar berburu atau mengumpulkan, harus berusaha dulu, membakar kalori, baru bisa makan.” Jadi, dia selalu berolahraga dulu baru makan, bahkan tidak makan sama sekali. “Karena sebelum bekerja keras, memberi makan tubuh sama saja dengan membingungkan sistem sinyal tubuh.”

Dia tidak minum minuman berusia kurang dari 1000 tahun, hanya air, alkohol, dan kopi, karena tubuh sudah terbiasa dengan zat-zat ini selama ribuan tahun. Dia tidak minum soft drink, apalagi jus jeruk manis yang tinggi gula—“itu beracun!”

Dia juga punya pandangan unik tentang “umur panjang”:

“Tujuan saya datang ke dunia ini adalah untuk akhirnya bisa memberi manfaat bagi manusia secara keseluruhan, untuk berkembang biak dan membesarkan keturunan, atau meninggal seperti pahlawan dalam buku. Dengan begitu, informasi saya (seperti karya tulis), gen saya (seperti keturunan), dan ketahanan anti-fragile saya (kontribusi terhadap keseluruhan), adalah hal-hal yang harus dikejar untuk kekekalan, bukan diri saya sendiri.”

Sistem pemikiran dan kebijaksanaan ini terkonsentrasi dalam empat buku utama tentang “ketidakpastian”: The Black Swan, Antifragile, Fooled by Randomness, dan The Bed of Procrustes. Keempat buku ini membentuk filosofi hidup lengkap: hormati ketidakpastian, hadapi yang tidak diketahui, manfaatkan kekacauan, dan tetap sadar akan risiko yang mengancam.

The Bed of Procrustes: Philosophical and Practical Aphorisms

[Amerika] Nassim Nicholas Taleb, Penulis

Zhou Luohua, Penerjemah

CITIC Publishing Group

Hari ini, suasana penuh ketidakpastian dan peristiwa angsa hitam menjadi hal biasa, dan inti dari ajaran Taleb semakin berharga: melepaskan ilusi prediksi yang tepat, dan membangun sistem yang mampu mendapatkan manfaat dari fluktuasi adalah kunci ketahanan sejati.

Baik untuk investor individu maupun institusi besar, kerangka pemikiran Taleb menawarkan sudut pandang baru dalam menilai risiko dan peluang. Ia mengajarkan bahwa keamanan sejati bukanlah dengan menghindari fluktuasi, melainkan dengan merespons fluktuasi secara tepat; kebijaksanaan sejati bukanlah meramalkan badai, tetapi membangun bahtera, bahkan memanfaatkan energi badai itu sendiri.

Filosofi hidup Taleb juga mengingatkan kita bahwa menghadapi ketidakpastian bukan hanya soal strategi eksternal, tetapi juga tentang rekonstruksi mental internal—kita bisa membentuk diri menjadi individu yang “anti-fragile”.

Seperti katanya, “Yang rapuh akan pecah dalam gelombang, yang tangguh akan bertahan, dan yang anti-fragile akan berkembang dalam gelombang.” (kutipan dari podcast “Face-to-Face” “Menjadi Murid Taleb”)

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
0/400
Tidak ada komentar
  • Sematkan