Saya baru-baru ini bertanya-tanya, mengapa kita semua mengatakan bahwa uang memiliki nilai, padahal sebenarnya uang tidak memiliki kaitan apa pun dengan emas atau logam apapun. Ternyata, itu semua adalah sistem yang didasarkan pada kepercayaan.



Uang fidusia pada dasarnya adalah kertas yang dicetak oleh pemerintah, yang kita semua terima sebagai bentuk pembayaran. Mereka tidak memiliki nilai intrinsik — nilainya sama dengan seberapa besar kepercayaan kita terhadap nilainya. Menariknya, konsep ini muncul di Tiongkok antara tahun 960 dan 1279, ketika pertama kali diterbitkan banknote kertas. Di Barat, hal ini membutuhkan beberapa abad lagi — banknote pertama di Eropa dibuat oleh Johan Palmstruch di Estonia pada tahun 1661.

Sebelum era uang fidusia, kita memiliki standar emas. Saat itu, setiap banknote memiliki jaminan nyata berupa emas dan dapat ditukar dengan logam. Sistem ini berjalan hingga Perang Dunia I, ketika model fidusia mulai menyebar. Sekarang, tidak lagi — mata uang tidak memiliki jaminan logam apapun.

Apa yang menjaga uang fidusia tetap bersama? Tiga hal. Pertama adalah otoritas — pemerintah melalui bank sentral mengeluarkan mata uang dan memberinya kekuatan hukum. Kedua adalah penggunaan — semakin banyak orang menggunakan mata uang tertentu, semakin nilainya. Dolar ada di mana-mana, itulah sebabnya ia memiliki kekuatan sebesar itu. Ketiga adalah kepercayaan — jika masyarakat percaya pada stabilitas ekonomi dan pemerintah, mata uang memiliki peluang untuk mempertahankan nilainya. Di Brasil, bank sentral terus berjuang melawan inflasi agar real tidak kehilangan nilainya.

Tentu saja, uang fidusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Di satu sisi, mereka murah untuk diproduksi — cukup mencetak kertas, tidak perlu mencari emas atau perak. Mereka juga diterima secara luas di seluruh dunia, yang memudahkan perdagangan. Di sisi lain — mereka bisa dicetak tanpa batas, yang menyebabkan inflasi. Dan jika masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap mata uang, nilainya bisa turun hampir seketika.

Di sinilah muncul perbandingan menarik dengan kriptocurrency. Bitcoin dan mata uang digital lainnya beroperasi dengan cara yang sama sekali berbeda — tidak ada pemerintah atau bank sentral yang mengontrolnya. Nilai kriptocurrency bergantung pada penawaran dan permintaan di pasar, bukan pada keputusan politik. Transaksi berlangsung tanpa intervensi eksternal.

Jadi, apa perbedaan utamanya? Uang fidusia adalah sistem terpusat, di mana pemerintah memiliki kendali penuh. Kriptocurrency bersifat desentralisasi dan tidak dikontrol oleh siapa pun. Nilai mata uang tradisional didasarkan pada kepercayaan terhadap institusi, sedangkan nilai kripto bergantung pada mekanisme pasar. Pemerintah dapat mempengaruhi uang fidusia, tetapi tidak dapat melakukan apa pun terhadap kriptocurrency.

Akhirnya — uang fidusia adalah fondasi dari seluruh sistem keuangan kita. Tanpanya, ekonomi global tidak akan berjalan. Tapi penting untuk memahami bagaimana mereka benar-benar bekerja dan mengapa mereka berbeda dari aset kripto. Jika Anda tertarik dengan topik ini, ada baiknya mengikuti perkembangan pasar ini — Anda bisa menemukan banyak informasi menarik di platform seperti Gate.io, di mana Anda dapat memantau baik pasar tradisional maupun kriptocurrency.
BTC-0,81%
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan