Mengapa kelas semakin tidak tertib? Alasan sebenarnya mengapa sebagian besar siswa tidak ingin belajar dan guru tidak bisa mengendalikan situasi

robot
Pembuatan abstrak sedang berlangsung

Banyak orang tua dan guru setiap hari melihat anak-anak duduk di kelas, tetapi mereka tampak tidak fokus; mata mereka selalu melirik ke ponsel. Di dalam hati, rasa tidak berdaya itu semakin lama semakin berat. Terutama di beberapa sekolah kejuruan dan sekolah di pedesaan, kondisi seperti ini terlihat sangat jelas. Anak-anak tidak punya semangat terhadap buku pelajaran, tetapi bisa men-scroll video pendek sampai tengah malam. Di dalam kelas, guru berbicara sampai mulut kering, namun di bawah ada siswa yang mengobrol, bermain gim, bahkan langsung tidur sambil berbaring. Pemandangan seperti ini, banyak orang pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri, dan juga pernah mengalaminya sendiri.

Pikirkan para guru garda terdepan itu: dari pagi menyiapkan pelajaran sampai larut malam; di kelas, mereka mengeluarkan seluruh kemampuan untuk membuat pengetahuan terdengar lebih hidup. Tapi bagaimana dengan siswa? Mereka bahkan tidak terlalu antusias dengan pelajaran yang terkait kebugaran, seni, dan pendidikan jasmani, apalagi dengan pelajaran bahasa, matematika, dan mata pelajaran utama lainnya. Titik minat mereka hampir seluruhnya terkonsentrasi pada ponsel, gim, dan video pendek. Data sudah ada di sana; beberapa survei menunjukkan angka siswa menengah yang tidak suka sekolah mencapai sekitar 30 persen. Untuk siswa usia 6 sampai 16 tahun yang belajar di sekolah, total prevalensi gangguan masalah kesehatan mental sekitar 17,5 persen. Dari setiap enam anak, satu anak menghadapi gangguan psikologis dengan tingkat yang berbeda-beda. Di antara anak-anak pedesaan, angka temuan depresi dan kecemasan pernah mencapai lebih dari 25 persen. Kecanduan internet pada siswa kelas 5 sekolah dasar dan menengah di tingkat kecamatan/daerah setingkatnya mendekati 48 persen. Angka-angka ini bukan statistik yang dingin, melainkan realitas kelas yang nyata dan hidup.

Para ahli dan pimpinan menaruh perhatian pada guru: meningkatkan kualitas profesional, memperkuat kemampuan mengajar, serta berkali-kali merevisi kurikulum. Upaya-upaya itu tentu saja bernilai. Namun ketika sebagian besar siswa pada dasarnya tidak ingin belajar, seberapa pun keras seorang guru berusaha sendirian, hasilnya seperti membangun rumah di atas pasir—gelombang sekali datang, semuanya berantakan. Reformasi penelitian pengajaran sudah dilakukan bertahun-tahun. Kelas-kelas unggulan terdengar begitu memukau. Tetapi pelajaran-pelajaran itu sering kali dipoles berulang; siswa yang ikut juga dipilih dengan sangat selektif, anak-anak yang benar-benar unggul, bukan gambaran nyata seluruh kelas. Di kelas yang sesungguhnya, guru berdiri di depan papan tulis berceramah, sementara siswa di bawah sibuk dengan urusan masing-masing. Pelajaran bahasa, matematika, dan mata pelajaran utama masih bisa menjaga ketertiban setidaknya sampai batas tertentu, tetapi mata pelajaran lain kadang lebih ramai daripada pasar sayur.

Mengapa situasi seperti ini bisa terjadi? Salah satu penyebab penting adalah: cara-cara pengelolaan yang bisa digunakan guru semakin lama semakin terbatas. Dulu, ketika siswa melakukan kesalahan, guru masih bisa memberi hukuman seperti menyuruh menyalin tugas berkali-kali, menghukum berdiri di sudut sebentar, atau menugaskan piket kebersihan. Hukuman kecil semacam itu setidaknya bisa mengingatkan anak agar memperhatikan aturan. Sekarang, aturan semakin menekankan bahwa guru tidak boleh sampai menimbulkan cedera atau dampak psikologis pada siswa. Saat mengkritik, guru harus berpikir matang-matang; takut hanya karena satu kata yang agak keras lalu memicu komplain. Siswa tahu bahwa guru tidak bisa “berbuat apa-apa” terhadap mereka, maka di kelas mereka pun mudah bertindak sesuka hati. Pernah ada guru yang karena cara mendidiknya sedikit lebih tegas, didatangi orang tua ke rumah, bahkan sampai memengaruhi pekerjaannya. Contoh seperti ini membuat banyak guru memilih untuk bersikap aman—selama tidak perlu mengurus, mereka tidak mengurus.

Ketika kepala sekolah dan para ahli sudah lama tidak berada di podium, pemahaman mereka tentang kondisi di lini depan mungkin tidak lagi sehidup dulu. Ada beberapa kepala sekolah yang lebih banyak waktunya dipakai untuk rapat dan pelaporan, dan tidak terlalu sering benar-benar masuk mengajar di kelas biasa. Gagasan yang diajukan para ahli terdengar hangat dan penuh kasih, misalnya menekankan bahwa pendidikan seharusnya memikat dengan hati (sentuhan kasih sayang) dan bahwa kritik harus memperhatikan cara. Hal-hal ini pada dasarnya tidak salah—pendidikan seharusnya berorientasi pada manusia. Tetapi dalam kenyataan, sebagian perilaku siswa sudah melewati batas pengaturan biasa; mereka tidak menganggap serius nasihat guru, bahkan secara terbuka membantah. Jika guru hanya sedikit saja bersikap tegas, siswa bisa langsung mengajukan komplain, dan kadang pihak sekolah pun membebankan tanggung jawab itu kepada wali kelas. Ketika siswa melakukan kesalahan, pimpinan sekolah sering kali meminta wali kelas menangani sendiri; jika terjadi masalah besar, wali kelas bahkan bisa dikenai sanksi. Logika seperti ini membuat guru di lini depan merasa tekanannya sangat berat.

Beberapa tahun lalu, Kementerian Pendidikan mengeluarkan aturan tentang sanksi pendidikan untuk pendidikan dasar dan menengah: aturan ini menjelaskan secara jelas bahwa sekolah dan guru dapat melakukan sanksi umum terhadap siswa yang melanggar, seperti menegur di depan umum (dengan menyebut nama), meminta siswa menulis introspeksi secara tertulis, atau memberi bimbingan setelah jam pelajaran; untuk situasi yang tingkatannya lebih berat, ada pula langkah seperti pembinaan/penyuluhan, atau menangguhkan partisipasi dalam kegiatan kelompok. Aturan tersebut menekankan pendidikan (mendidik), legalitas, dan kesesuaian. Tujuannya adalah agar siswa menyadari kesalahan dan memperbaiki perilaku; sekaligus juga menetapkan garis merah yang melarang hukuman fisik dan hukuman terselubung. Ini sebenarnya merupakan alat untuk “memberi perlindungan/dukungan” kepada guru. Namun dalam pelaksanaannya, banyak sekolah dan guru tetap merasa ragu-ragu; mereka khawatir jika digunakan dengan cara yang keliru, akan dibesar-besarkan oleh opini publik, dan khawatir orang tua tidak memahaminya. Akibatnya, menjaga disiplin kelas menjadi semakin sulit.

Ambil contoh sekolah kejuruan. Banyak siswa sebenarnya memiliki tekanan kelulusan yang lebih kecil; setelah masuk sekolah, mereka menyadari bahwa belajar tidak begitu terhubung dengan pekerjaan, sehingga mereka lebih mudah menjadi lengah. Di sekolah-sekolah pedesaan, persentase anak yang ditinggal orang tua bekerja tinggi; orang tua bekerja di luar negeri/daerah lain, sementara kakek-nenek atau kerabat menjaga. Dalam banyak kasus, fokus penjagaan lebih pada makan kenyang dan pakaian hangat, sementara pembinaan kebiasaan belajar relatif lemah. Anak-anak kekurangan pendampingan dan arahan yang tepat waktu; secara emosional mereka mudah merasa hampa, lalu mencari “rasa keberadaan” melalui internet. Konten yang didorong oleh algoritma video pendek begitu menarik; sekali mulai menonton, sulit berhenti. Seiring waktu, kelas menjadi tempat yang paling tidak mereka ingin datangi.

Dibandingkan masa lalu, suasana kelas sekarang memang sudah berubah. Dulu, jika guru menghukum berdiri di luar kelas selama beberapa menit, siswa setidaknya akan sedikit lebih tertib; sekarang, guru bahkan harus mempertimbangkan berkali-kali sebelum mengkritik dengan suara keras. Setelah siswa berbuat salah, guru hanya bisa berulang kali mengobrol dan menyelami perasaan mereka; tetapi kalau anak memang tidak mendengarkan, efeknya sudah bisa dibayangkan. Lingkaran seperti ini membuat kelas semakin kacau, dan membuat para guru semakin lelah. Gambaran indah saat menampilkan kelas unggulan, dan situasi nyata yang mereka hadapi setiap hari, jaraknya tidak kecil. Ini bukan berarti kemampuan para guru kurang, juga bukan berarti mereka tidak serius—melainkan masalah bahwa siswa tidak mau bekerja sama dan tidak menghormati aturan kelas memang sudah di depan mata.

Kalau reformasi pendidikan hanya menitikberatkan pada metode mengajar dan kemampuan guru, lalu mengabaikan kemauan belajar siswa dan tatanan nyata di kelas, tentu saja hasilnya terbatas. Ketika siswa tidak ingin belajar, sementara guru tidak bisa mengendalikan, itu sudah menjadi pertentangan paling menonjol saat ini. Hanya dengan penyesuaian kurikulum dan kegiatan penelitian pengajaran sulit untuk membalikkan keadaan secara mendasar. Dibutuhkan lebih banyak pihak yang bersama-sama memikirkan cara agar siswa kembali menemukan motivasi untuk belajar, sekaligus memberi guru cara yang masuk akal untuk menjaga ketertiban dasar.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit cerita kecil seperti ini. Ada seorang wali kelas di sekolah menengah pertama pedesaan. Di kelasnya ada seorang anak laki-laki yang selalu suka main ponsel; saat pelajaran, dia diam-diam terus menonton video. Guru sudah beberapa kali mengingatkan dengan cara yang lembut; anak itu di permukaan berjanji, tetapi begitu berbalik, dia tetap melanjutkan. Setelah satu kali rapat orang tua, guru dan orang tua berdiskusi, lalu keduanya menetapkan aturan sederhana bersama: ponsel diserahkan untuk disimpan orang tua, dan waktu pelajaran tidak boleh dibawa masuk ke kelas. Pelan-pelan, perhatian anak itu saat pelajaran mulai terkonsentrasi, dan nilai-nilainya juga menunjukkan perbaikan. Ini menunjukkan bahwa kerja sama sekolah dan keluarga, ditambah aturan yang secukupnya, masih bisa memberi efek. Sebaliknya, jika semuanya dibiarkan begitu saja, anak mungkin akan makin tenggelam.

Contoh lain terjadi di sekolah kejuruan. Guru bahasa dan sastra menemukan bahwa siswa tertarik dengan cerita-cerita di video pendek. Maka ia mencoba menghubungkan isi teks pelajaran dengan cuplikan video, lalu mengarahkan diskusi mengenai nasib tokoh-tokohnya. Pada awalnya hanya beberapa siswa yang ikut berpartisipasi, tetapi kemudian diskusinya menjadi semakin hangat, dan suasana kelas pun menjadi lebih hidup. Ini bukan berarti semua pelajaran bisa diubah seperti itu, tetapi ini mengingatkan kita bahwa memahami titik minat siswa—lalu mulai dari hal-hal yang akrab bagi mereka—mungkin bisa memperkecil jarak. Namun syaratnya: kelas harus memiliki ketertiban dasar, karena jika tidak, guru bahkan tidak akan mendapatkan kesempatan untuk membuka mulut.

Bagaimana perasaan Anda tentang kondisi kelas sekarang? Atau apakah anak Anda di rumah pernah mengalami kesulitan serupa saat bersekolah? Silakan bagikan pendapat Anda, mari kita ngobrol bersama tentang cara membuat pendidikan memiliki lebih banyak “rasa hangat” dan hasil yang lebih nyata.

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan