Laporan Riset SBI Mendesak RBI Untuk Menggunakan Cadangan Devisa Untuk Menstabilkan Rupee Di Tengah Volatilitas

(MENAFN- KNN India) ** New Delhi, 31 Mar (KNN)** Sebuah laporan riset dari SBI menyarankan bahwa Bank Sentral India (RBI) dapat mempertimbangkan penggunaan cadangan devisa untuk menstabilkan rupee di tengah volatilitas yang meningkat, dipicu oleh krisis Asia Barat yang sedang berlangsung.

Rekomendasi tersebut muncul setelah rupee menembus tanda 95 per 1 dolar AS selama perdagangan intrahari pada hari Senin sebelum akhirnya menetap di 94,78 (perkiraan), yang mencerminkan meningkatnya tekanan akibat meningkatnya sikap risk aversion global dan ketegangan geopolitik.

** Cadangan yang Memadai Memberikan Bantalan**

Menurut laporan riset SBI, cadangan devisa India, yang diperkirakan lebih dari USD 700 miliar, tetap memadai, mencakup lebih dari 10 bulan impor.

Laporan tersebut mencatat bahwa tingkat cadangan seperti itu adalah “sangat nyaman” dan dapat dikerahkan untuk menghalangi pergerakan spekulatif di pasar mata uang melalui intervensi yang terukur.

Laporan itu menambahkan bahwa cadangan tidak boleh digunakan hanya saat krisis ekstrem, yang menunjukkan adanya ruang untuk intervensi tepat waktu guna mengelola volatilitas.

** Usulan Jendela Khusus untuk Perusahaan Minyak**

Laporan SBI tersebut juga merekomendasikan pembentukan jendela devisa terpisah untuk perusahaan pemasaran minyak (OMC), yang biasanya menanggung permintaan harian sekitar USD 250–300 juta dan permintaan tahunan yang setara dengan USD 75–80 miliar.

Mekanisme semacam itu akan membantu memisahkan permintaan dolar besar yang bersifat rutin dari aktivitas pasar yang lebih luas, sehingga meningkatkan transparansi dalam menilai dinamika penawaran-permintaan dan efektivitas intervensi regulasi.

** Kekhawatiran atas Divergensi Pasar**

Laporan tersebut menyoroti bahwa langkah-langkah regulatori baru-baru ini, termasuk upaya RBI untuk merasionalisasi posisi mata uang terbuka, mungkin telah berkontribusi pada divergensi antara pasar di dalam negeri dan luar negeri.

Laporan tersebut mencatat bahwa bank-bank India umumnya memiliki posisi net panjang (long) di pasar dalam negeri dan posisi net pendek (short) di pasar luar negeri, sedangkan bank-bank asing menunjukkan tren sebaliknya. Ketika bank-bank membalikkan posisi, tekanan likuiditas dapat meningkat, yang berpotensi mendorong premi di luar negeri menjadi lebih tinggi.

Data menunjukkan lonjakan tajam pada premi forward yang tidak dapat diserahkan (NDF), dengan premi berjangka satu tahun meningkat menjadi 4,19 persen dari 3,43 persen, dan premi berjangka satu bulan naik menjadi 0,67 persen dari 0,33 persen.

** Kekhawatiran Operasional pada Batas NOP**

Laporan Riset SBI menyoroti tantangan operasional yang timbul dari arahan terbaru RBI yang membatasi Net Open Position (NOP-INR) untuk bank sebesar USD 100 juta, berlaku mulai 10 April 2026.

Laporan tersebut menyarankan agar batas itu hanya diterapkan pada buku perdagangan bank, bukan pada neraca keseluruhan mereka, untuk menghindari gangguan.

** Prospek**

Laporan itu memperingatkan bahwa arus keluar modal yang berkelanjutan oleh investor portofolio asing (FPIs) dan beberapa pelaku foreign direct investment (FDI) dapat semakin memberi tekanan pada rupee, sehingga menegaskan perlunya langkah-langkah proaktif untuk menjaga stabilitas mata uang.

Secara keseluruhan, SBI Research menekankan bahwa intervensi yang tepat waktu, bersama dengan penyesuaian regulasi yang terarah, dapat membantu mengurangi volatilitas dan memastikan berfungsinya pasar valuta asing secara tertib.

** (KNN Bureau)**

MENAFN31032026000155011030ID1110925454

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan