Komentar Editorial Xinhua | Segera Tekan Tombol "Henti" Perang

robot
Pembuatan abstrak sedang berlangsung

Teks ini berasal dari [Xinhua Net];

Kantor Berita Xinhua, Bagdad, 29 Maret, melaporkan: Judul: Hendaknya secepatnya menekan tombol “hentikan” perang

Reporter Kantor Berita Xinhua, Li Jun

Sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran sebulan lalu, api perang berkobar hebat di seluruh Timur Tengah, angka korban terus meningkat, dampak luapan terus menyebar, dan secara serius mengguncang perdamaian serta stabilitas dunia. Perang ini sedang mendorong Timur Tengah sekali lagi ke dalam jurang pergolakan yang dalam, sekaligus membuat dunia membayar mahal konsekuensi berat atas kesewenang-wenangan politik kekuatan. Semakin pada saat seperti ini, semakin perlu untuk tetap jernih menyadari: kekuatan tidak dapat menyelesaikan masalah, menekan tombol “hentikan” perang adalah hal yang tidak boleh ditunda.

Ini adalah sebuah perang yang seharusnya tidak terjadi. Dalam konteks ketika masyarakat berbagai negara di Timur Tengah secara umum mengharapkan perdamaian dan stabilitas, serta negosiasi putaran baru antara Iran dan Amerika Serikat sedang berlangsung, Amerika Serikat dan Israel tiba-tiba memantik perang, sehingga upaya diplomatik menjadi sia-sia. Cara yang mengkhianati komitmen perdamaian dan terlalu percaya pada penyelesaian masalah dengan kekuatan ini bukan hanya membuat semua pihak yang mengejar perdamaian merasa sangat menyesal dan kecewa, tetapi juga mengungkap kesombongan serta pandangan yang sempit dari beberapa negara besar dalam keputusan strategis.

Benar-salah dari krisis ini jelas dan gamblang. Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran tanpa otorisasi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, secara terang-terangan melanggar tujuan dan prinsip Piagam PBB, serta melanggar hukum internasional. Setiap upaya untuk merusak aturan dengan kekuatan dan menggantikan mekanisme multilateral dengan tindakan sepihak sedang mengikis keadilan dan kepastian hukum dalam masyarakat internasional. Masyarakat internasional seharusnya menyuarakan satu suara yang kuat, secara bersama-sama menolak segala tindakan yang melanggar hukum internasional, dan menentang upaya menyeret dunia kembali ke era rimba yang hukum hanya ditentukan yang kuat.

Penundaan perang ini tidak hanya membuat situasi keamanan Timur Tengah yang sudah rapuh makin mendapat tekanan, tetapi dampaknya juga cepat meluas ke seluruh kawasan, mengancam ekonomi dan kehidupan masyarakat di berbagai negara di dunia. Pasokan energi yang makin ketat, pelayaran internasional yang terganggu, serta volatilitas pasar yang meningkat, membuat rantai pasok dan rantai industri global menghadapi ketidakpastian baru. Fakta menunjukkan bahwa di era dunia yang sangat saling terhubung seperti saat ini, tidak ada perang yang benar-benar “terlokalisasi”; biayanya pada akhirnya akan ditanggung bersama oleh seluruh dunia.

Yang tidak boleh diabaikan adalah bahwa masyarakat sipil senantiasa menjadi korban perang. Infrastruktur yang rusak, tatanan kehidupan masyarakat yang terganggu, serta tewasnya nyawa yang tak bersalah—semua itu membawa penderitaan yang sulit ditanggung bagi tak terhitung banyak keluarga. Setiap serangan terhadap warga sipil dan sasaran non-militer adalah pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional, sekaligus menginjak-injak hati nurani dasar umat manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Serangan tanpa pandang bulu hanya akan memperdalam kebencian dan menanamkan lebih banyak benih ancaman konflik di masa depan.

Perang ini sekali lagi membuktikan sebuah kebenaran: cara militer tidak dapat menyelesaikan masalah mendasar, dan kekuatan tidak pernah seharusnya menjadi opsi utama. Jika perang terus dibiarkan merembet, masalah akan menjadi semakin rumit dan sulit dipecahkan, lebih banyak negara akan terjerumus dalam lumpur, dan situasi Timur Tengah akan meluncur ke jurang yang berbahaya. Pihak-pihak terkait seperti AS dan Israel seharusnya segera menghentikan tindakan militer, agar mencegah situasi makin lepas kendali, serta menciptakan kondisi untuk pemulihan dialog.

Untuk perbedaan yang diperselisihkan, dialog dan perundingan adalah satu-satunya jalan keluar. Kekuatan mungkin dapat menunjukkan keunggulan sesaat, tetapi tidak bisa mencabut akar yang menumbuhkan pertentangan; yang akan ditimbulkan hanya efek sisa yang serius. Menghadapi perbedaan, hanya dengan duduk bersama dan berunding barulah dapat ditemukan titik temu terbesar; hanya melalui jalur diplomasi, barulah dapat dibangun kerangka keamanan yang berkelanjutan.

Perang tidak mengenal belas kasihan, perdamaian itu berharga. Asap perang selama sebulan cukup membuat dunia melihat betapa mahalnya harga sebuah perang. Hanya dengan secepatnya menekan tombol “hentikan” perang, agar dialog kembali ke jalur yang benar, Timur Tengah barulah punya harapan untuk menyambut stabilitas dan ketenangan.

Melimpahnya informasi dan interpretasi yang akurat, semuanya ada di aplikasi Sina Finance

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan