Dasar
Spot
Perdagangkan kripto dengan bebas
Perdagangan Margin
Perbesar keuntungan Anda dengan leverage
Konversi & Investasi Otomatis
0 Fees
Perdagangkan dalam ukuran berapa pun tanpa biaya dan tanpa slippage
ETF
Dapatkan eksposur ke posisi leverage dengan mudah
Perdagangan Pre-Market
Perdagangkan token baru sebelum listing
Futures
Akses ribuan kontrak perpetual
TradFi
Emas
Satu platform aset tradisional global
Opsi
Hot
Perdagangkan Opsi Vanilla ala Eropa
Akun Terpadu
Memaksimalkan efisiensi modal Anda
Perdagangan Demo
Pengantar tentang Perdagangan Futures
Bersiap untuk perdagangan futures Anda
Acara Futures
Gabung acara & dapatkan hadiah
Perdagangan Demo
Gunakan dana virtual untuk merasakan perdagangan bebas risiko
Peluncuran
CandyDrop
Koleksi permen untuk mendapatkan airdrop
Launchpool
Staking cepat, dapatkan token baru yang potensial
HODLer Airdrop
Pegang GT dan dapatkan airdrop besar secara gratis
Launchpad
Jadi yang pertama untuk proyek token besar berikutnya
Poin Alpha
Perdagangkan aset on-chain, raih airdrop
Poin Futures
Dapatkan poin futures dan klaim hadiah airdrop
Investasi
Simple Earn
Dapatkan bunga dengan token yang menganggur
Investasi Otomatis
Investasi otomatis secara teratur
Investasi Ganda
Keuntungan dari volatilitas pasar
Soft Staking
Dapatkan hadiah dengan staking fleksibel
Pinjaman Kripto
0 Fees
Menjaminkan satu kripto untuk meminjam kripto lainnya
Pusat Peminjaman
Hub Peminjaman Terpadu
Apakah Anda tahu bahwa di dunia ini, jenazah dari hanya 5 pemimpin masih disimpan secara abadi hingga saat ini? Di balik itu tersembunyi perjuangan teknologi yang lebih dari sekadar imajinasi dan jejak sejarah yang mendalam terkait pilihan zaman.
Kisah penyimpanan abadi jenazah dimulai dari Lenin sebenarnya bukanlah sebuah rencana yang dirancang matang, melainkan lahir dari semangat rakyat untuk berduka. Setelah meninggal pada tahun 1924, awalnya jenazahnya akan dimakamkan secara biasa. Namun, kekuatan keinginan masyarakat memaksa pihak berwenang untuk memutuskan pembekuan darurat. Kemudian, para ilmuwan Uni Soviet melakukan berbagai eksperimen dan mengembangkan cairan pengawet khusus. Mereka berhasil menetapkan teknologi untuk menekan pertumbuhan bakteri dengan menggantikan cairan tubuh manusia.
Yang menarik adalah nasib jenazah pemimpin Soviet lainnya, Stalin. Jenazah Stalin yang dimakamkan di Mausoleum Lenin pada tahun 1953, namun pada tahun 1961, suasana zaman berubah dan jenazahnya dipindahkan untuk dikremasi. Perlakuan terhadap jenazah Stalin bukan sekadar masalah teknologi, melainkan simbol perubahan pandangan terhadap nilai sejarah.
Kasus yang lebih dramatis terjadi pada Ho Chi Minh dari Vietnam. Meski semasa hidupnya ia menginginkan dikremasi, para penerusnya memutuskan untuk menyimpan jenazahnya. Selama Perang Vietnam, jenazah tersebut disembunyikan secara rahasia di dalam gua selama lima tahun. Para ahli dari Uni Soviet bahkan melakukan proses pengawetan di dalam gua sambil menghindari serangan udara, yang sungguh menakjubkan.
Penyimpanan jenazah Nétú dari Angola menghadirkan tantangan teknologi baru. Mereka menghadapi masalah pendarahan pigmen khas kulit orang kulit hitam, sehingga para insinyur Soviet harus mengembangkan metode baru untuk menyimpan pigmen tersebut. Kini, jenazah tersebut hanya dipamerkan sekali setahun pada hari ulang tahunnya.
Namun, tidak semua usaha berhasil. Gottwald mengalami kegagalan karena teknologi pengawetan yang tidak memadai, sehingga pada tahun 1962 jenazahnya membusuk dan akhirnya dikremasi. Jenazah Jmitrof juga disimpan selama lebih dari 40 tahun, namun seiring perubahan politik di Eropa Timur, jenazahnya pun mengikuti nasib yang sama dan dikremasi.
Melihat hal ini, penyimpanan abadi jenazah bukan sekadar kemenangan teknologi, melainkan hasil dari persepsi zaman dan keputusan politik. Jenazah-jenazah di dalam peti kristal adalah bukti ilmiah sekaligus cermin sejarah.