Dasar
Spot
Perdagangkan kripto dengan bebas
Perdagangan Margin
Perbesar keuntungan Anda dengan leverage
Konversi & Investasi Otomatis
0 Fees
Perdagangkan dalam ukuran berapa pun tanpa biaya dan tanpa slippage
ETF
Dapatkan eksposur ke posisi leverage dengan mudah
Perdagangan Pre-Market
Perdagangkan token baru sebelum listing
Futures
Akses ribuan kontrak perpetual
TradFi
Emas
Satu platform aset tradisional global
Opsi
Hot
Perdagangkan Opsi Vanilla ala Eropa
Akun Terpadu
Memaksimalkan efisiensi modal Anda
Perdagangan Demo
Pengantar tentang Perdagangan Futures
Bersiap untuk perdagangan futures Anda
Acara Futures
Gabung acara & dapatkan hadiah
Perdagangan Demo
Gunakan dana virtual untuk merasakan perdagangan bebas risiko
Peluncuran
CandyDrop
Koleksi permen untuk mendapatkan airdrop
Launchpool
Staking cepat, dapatkan token baru yang potensial
HODLer Airdrop
Pegang GT dan dapatkan airdrop besar secara gratis
Launchpad
Jadi yang pertama untuk proyek token besar berikutnya
Poin Alpha
Perdagangkan aset on-chain, raih airdrop
Poin Futures
Dapatkan poin futures dan klaim hadiah airdrop
Investasi
Simple Earn
Dapatkan bunga dengan token yang menganggur
Investasi Otomatis
Investasi otomatis secara teratur
Investasi Ganda
Keuntungan dari volatilitas pasar
Soft Staking
Dapatkan hadiah dengan staking fleksibel
Pinjaman Kripto
0 Fees
Menjaminkan satu kripto untuk meminjam kripto lainnya
Pusat Peminjaman
Hub Peminjaman Terpadu
Survei Baru Tampilkan Adopsi AI Perusahaan Semakin Meningkat, tetapi Skala Masih Menjadi Tantangan Utama
Temukan berita dan acara fintech teratas!
Berlangganan buletin FinTech Weekly
Dibaca oleh eksekutif di JP Morgan, Coinbase, Blackrock, Klarna, dan lainnya
Kecerdasan Buatan (AI) Tingkat Perusahaan Mendapat Daya Tarik, tetapi Masalah Skalabilitas Tetap Berlanjut, Temuan Survei DataIQ Baru
AI semakin tertanam dalam alur kerja perusahaan, tetapi adopsi skala besar terus menghadapi hambatan yang sudah familiar. Gambaran tersebut muncul dari laporan baru DataIQ dan Blend, yang menyurvei profesional senior data dan analitik di berbagai industri, termasuk anggota dari daftar DataIQ 100.
Studi ini menangkap bagaimana alat AI diterapkan di berbagai perusahaan—dan di bagian mana alat tersebut masih belum memenuhi harapan.
Lebih dari setengah organisasi yang disurvei melaporkan memiliki setidaknya 12 aplikasi AI yang digunakan, yang sering kali diterapkan dalam uji konsep (proof-of-concept) yang terisolasi. Namun, 28% masih melaporkan hanya menggunakan 3–5 aplikasi, yang menunjukkan kesulitan untuk berkembang dari pengujian awal ke implementasi yang lebih luas. Angka-angka ini menegaskan adanya lintasan yang tidak merata dalam cara perusahaan beralih dari eksperimen menuju penerapan AI ke dalam sistem operasional.
Meskipun minat pada integrasi AI terus meningkat—selera untuk adopsi di seluruh perusahaan naik 25% dibandingkan tahun 2023—investasi pada elemen dasar masih terbatas. Hanya sepertiga responden yang mengatakan organisasi mereka memprioritaskan pelatihan atau manajemen perubahan untuk alat AI, yang mengarah pada potensi ketidakselarasan antara ambisi strategis dan kesiapan implementasi.
Laporan ini juga mencerminkan perubahan cara generative AI digunakan dalam lingkungan perusahaan. Penggunaan dalam rekayasa data telah lebih dari dua kali lipat selama setahun terakhir, dengan 65% responden kini menerapkan generative AI untuk mendukung fungsi data sisi belakang (backend). Pada tahun 2023, angka itu hanya berada di 28%.
Di luar tingkat implementasi, laporan ini juga mengeksplorasi peran kepemimpinan dan budaya organisasi dalam membentuk hasil AI. Perusahaan dengan strategi data yang matang tampak lebih siap untuk mengintegrasikan AI secara lebih sistematis, sementara perusahaan yang lebih mengandalkan pengambilan keputusan berbasis intuisi menunjukkan lintasan adopsi yang lebih lambat.
Kepercayaan dan tata kelola juga terus membentuk kecepatan dan efektivitas penerapan AI. Saat organisasi menghadapi pengawasan regulasi dan kekhawatiran risiko internal, struktur formal untuk pengawasan dan akuntabilitas semakin dipandang sebagai kebutuhan agar bisa menskalakan secara bertanggung jawab.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa meskipun AI menjadi fitur standar dalam perencanaan perusahaan, kemampuan untuk mengoperasionalkannya masih beragam. Banyak bisnis masih menghadapi kesenjangan antara ambisi dan eksekusi—terutama dalam hal memberdayakan tenaga kerja, memastikan transparansi, dan mengintegrasikan AI ke dalam lingkungan legacy yang kompleks.