Dasar
Spot
Perdagangkan kripto dengan bebas
Perdagangan Margin
Perbesar keuntungan Anda dengan leverage
Konversi & Investasi Otomatis
0 Fees
Perdagangkan dalam ukuran berapa pun tanpa biaya dan tanpa slippage
ETF
Dapatkan eksposur ke posisi leverage dengan mudah
Perdagangan Pre-Market
Perdagangkan token baru sebelum listing
Futures
Akses ribuan kontrak perpetual
TradFi
Emas
Satu platform aset tradisional global
Opsi
Hot
Perdagangkan Opsi Vanilla ala Eropa
Akun Terpadu
Memaksimalkan efisiensi modal Anda
Perdagangan Demo
Pengantar tentang Perdagangan Futures
Bersiap untuk perdagangan futures Anda
Acara Futures
Gabung acara & dapatkan hadiah
Perdagangan Demo
Gunakan dana virtual untuk merasakan perdagangan bebas risiko
Peluncuran
CandyDrop
Koleksi permen untuk mendapatkan airdrop
Launchpool
Staking cepat, dapatkan token baru yang potensial
HODLer Airdrop
Pegang GT dan dapatkan airdrop besar secara gratis
Launchpad
Jadi yang pertama untuk proyek token besar berikutnya
Poin Alpha
Perdagangkan aset on-chain, raih airdrop
Poin Futures
Dapatkan poin futures dan klaim hadiah airdrop
Investasi
Simple Earn
Dapatkan bunga dengan token yang menganggur
Investasi Otomatis
Investasi otomatis secara teratur
Investasi Ganda
Keuntungan dari volatilitas pasar
Soft Staking
Dapatkan hadiah dengan staking fleksibel
Pinjaman Kripto
0 Fees
Menjaminkan satu kripto untuk meminjam kripto lainnya
Pusat Peminjaman
Hub Peminjaman Terpadu
Belakangan ini saya sedang memikirkan satu hal, apakah Anda pernah merasakan hal ini—Anda sangat baik kepada teman, awalnya mereka sangat berterima kasih, tetapi seiring waktu, pengorbanan Anda menjadi dianggap sebagai sesuatu yang "wajar". Kalau sekali tidak membantu, mereka malah tidak senang, seolah-olah hati Anda berubah. Saya sendiri pernah mengalami hal ini, pernah ingin menjadi "orang baik hati", tetapi akhirnya merasa semakin sedikit rasa terima kasih dan harapan semakin tinggi. Baru kemudian saya mengerti, ada prinsip psikologi yang disebut Hukum Babb, yang benar-benar bisa menjelaskan banyak masalah interpersonal.
Sebenarnya, logika dari Hukum Babb sangat sederhana—reaksi Anda terhadap suatu hal paling kuat di awal, tetapi semakin sering diulang, otak akan terbiasa, dan reaksi akan semakin melemah. Seperti saat pertama kali menerima hadiah, pasti sangat bahagia, kedua kali masih bisa tersentuh, tetapi saat menerima yang kesepuluh, mungkin Anda tidak merasa apa-apa lagi. Ini disebut "adaptasi rangsang", sebenarnya adalah mode penghematan energi otak.
Dari sudut pandang neuro sains, lebih menarik lagi—dopamin yang dihasilkan dari hal baik awalnya sangat tinggi, tetapi sistem penghargaan otak dengan cepat belajar memprediksi, sehingga saat benar-benar menerima, tidak lagi sebersemangat dulu. Ini juga alasan mengapa setelah masa cinta meledak, melakukan hal yang sama lagi tidak lagi memberi perasaan yang sama. Dalam ekonomi, disebut "penurunan utilitas marjinal", jumlah investasi yang sama awalnya memberi hasil tinggi, tetapi kemudian menambah lagi tidak lagi terasa baru.
Ada sebuah eksperimen klasik yang disebut "Eksperimen Timbangan", sangat mampu menjelaskan Hukum Babb. Jika 400 gram diganti menjadi 405 gram, orang langsung bisa merasakan beratnya bertambah. Tetapi jika awalnya diberi 4000 gram, lalu hanya ditambah 5 gram, hampir tidak ada yang bisa membedakannya. Perasaan ini menjadi semacam permainan batas kritis. Psikolog Babb menemukan bahwa semakin kuat dan banyak rangsangannya, semakin rendah kemampuan membedakannya. Ini tidak hanya berlaku untuk sensasi fisik, tetapi juga dalam hubungan interpersonal, psikologi konsumsi, dan pembentukan kebiasaan.
Pada tahun 2016, majalah psikologi Inggris melakukan sebuah eksperimen, memberi orang hadiah kecil dengan jumlah berbeda setiap hari, dan hasilnya menunjukkan bahwa sensasi kejutan dari hadiah yang sering diberikan cepat hilang. Sebaliknya, setelah mengurangi frekuensi pemberian, orang lebih menghargai dan mengingatnya lebih dalam. Singkatnya, kadang-kadang sedikit justru lebih banyak.
Lalu, bagaimana mengatasi hal ini? Pertama, kendalikan frekuensi pengorbanan, buat niat baik menjadi sesuatu yang langka. Jangan langsung tanpa syarat di awal, terutama dalam hubungan yang baru terbentuk. Bantuan dengan frekuensi rendah tapi berkualitas tinggi jauh lebih mudah dihargai daripada membantu setiap hari tanpa henti. Saat teman meminta bantuan, sesekali inisiatif, sesekali bilang "Maaf, kali ini agak tidak memungkinkan", justru bisa membuat mereka kembali menunggu dan merasa harapan.
Kedua, ciptakan sedikit perubahan, tingkatkan ketidakpastian. Otak sangat menyukai kejutan. Jangan melakukan hal yang sama secara mekanis, secara rutin ubah pola, gunakan cara berbeda untuk menunjukkan perhatian, ini sangat efektif dalam mengelola hubungan, memotivasi tim, bahkan dalam keluarga dan parenting.
Ketiga, jaga batas secara elegan. Setiap niat baik harus membuat orang lain mengerti bahwa itu tidak mudah didapat. Menolak secara wajar sebenarnya adalah menjaga "ambang psikologis" emosional kalian. Rasa batas dalam hubungan adalah kunci untuk hubungan jangka panjang, bahkan hanya dengan sesekali mengatakan "tidak", bisa menjaga interaksi tetap segar dan penuh rasa hormat.
Pada akhirnya, Hukum Babb bukan untuk menghitung orang lain, tetapi untuk membantu Anda mengatur sensitivitas diri. Berikan secara selektif, gunakan niat baik pada orang dan hal yang paling berharga. Jangan biarkan rasa nilai diri Anda bergantung sepenuhnya pada umpan balik orang lain, dan jangan jadikan niat baik sebagai "mata uang keras" yang selalu didiskon. Jika Anda bisa menerapkan Hukum Babb dalam kesadaran diri, setiap inisiatif kebaikan akan terasa lebih bermakna. Kelola batas sensitivitas Anda dengan hati-hati, saat perlu sensitif, saat perlu tumpul, jangan biarkan orang lain mengendalikan hak inisiatif sosial Anda.