Dasar
Spot
Perdagangkan kripto dengan bebas
Perdagangan Margin
Perbesar keuntungan Anda dengan leverage
Konversi & Investasi Otomatis
0 Fees
Perdagangkan dalam ukuran berapa pun tanpa biaya dan tanpa slippage
ETF
Dapatkan eksposur ke posisi leverage dengan mudah
Perdagangan Pre-Market
Perdagangkan token baru sebelum listing
Futures
Akses ribuan kontrak perpetual
TradFi
Emas
Satu platform aset tradisional global
Opsi
Hot
Perdagangkan Opsi Vanilla ala Eropa
Akun Terpadu
Memaksimalkan efisiensi modal Anda
Perdagangan Demo
Pengantar tentang Perdagangan Futures
Bersiap untuk perdagangan futures Anda
Acara Futures
Gabung acara & dapatkan hadiah
Perdagangan Demo
Gunakan dana virtual untuk merasakan perdagangan bebas risiko
Peluncuran
CandyDrop
Koleksi permen untuk mendapatkan airdrop
Launchpool
Staking cepat, dapatkan token baru yang potensial
HODLer Airdrop
Pegang GT dan dapatkan airdrop besar secara gratis
Launchpad
Jadi yang pertama untuk proyek token besar berikutnya
Poin Alpha
Perdagangkan aset on-chain, raih airdrop
Poin Futures
Dapatkan poin futures dan klaim hadiah airdrop
Investasi
Simple Earn
Dapatkan bunga dengan token yang menganggur
Investasi Otomatis
Investasi otomatis secara teratur
Investasi Ganda
Keuntungan dari volatilitas pasar
Soft Staking
Dapatkan hadiah dengan staking fleksibel
Pinjaman Kripto
0 Fees
Menjaminkan satu kripto untuk meminjam kripto lainnya
Pusat Peminjaman
Hub Peminjaman Terpadu
3 Saham Pertumbuhan untuk Investor yang Tahu Informasi
Dalam dua bulan terakhir, imbal hasil obligasi yang terus meningkat telah memicu rotasi dari saham pertumbuhan yang lebih mahal menuju saham bernilai. Para investor juga mulai menghindari saham-saham yang berkaitan dengan kerja di rumah (stay-at-home) yang menghasilkan keuntungan meledak-ledak pada tahun pertama pandemi demi permainan (peluang) pembukaan kembali (reopening) karena mereka mengantisipasi dunia setelah pandemi.
Tren pasar tersebut membuat sulit untuk membeli saham pertumbuhan berimbal hasil tinggi. Namun, investor yang sanggup menahan sedikit volatilitas tetap dapat mempertimbangkan untuk membeli tiga saham pertumbuhan yang berpotensi terus tumbuh kuat selama bertahun-tahun ke depan:** Roku** (ROKU +2.93%), **Bumble **(BMBL 0.31%), dan Baozun (BZUN +12.17%).
Sumber gambar: Getty Images.
Saya pernah skeptis terhadap prospek Roku. Roku membangun keunggulan pelopor (early-mover advantage) dalam perangkat media streaming, namun Roku juga menghadapi persaingan ketat dari raksasa teknologi seperti Amazon, Alphabet, dan Apple.
Meski demikian, Roku tetap mempertahankan posisinya sebagai pemimpin di pasar perangkat streaming dan secara bertahap memperluas platform perangkat lunaknya – yang menghasilkan sebagian besar pendapatannya dari iklan online dan kemitraan distribusi konten – untuk mengurangi ketergantungannya pada perangkat keras ber-margin lebih rendah. Pergeseran pada model bisnisnya tersebut berhasil: Roku menghasilkan 71% dari pendapatan dan 95% dari laba kotor dari bisnis platformnya pada tahun 2020.
Akun aktif Roku naik 39% dari tahun ke tahun menjadi 51,2 juta pada kuartal keempat. Total jam streaming meningkat 55% menjadi 17 miliar, dan pendapatan rata-rata per pengguna bertumbuh 24%. Pendapatannya naik 58% menjadi $1,78 miliar untuk keseluruhan tahun sementara EBITDA yang disesuaikan melonjak 319% menjadi $150 juta. Roku belum menguntungkan, tetapi kerugiannya secara bertahap makin menyempit.
Roku mengaitkan sebagian pertumbuhannya dengan dampak langkah-langkah stay-at-home yang diwajibkan selama pandemi, tetapi Roku seharusnya tetap tumbuh setelah krisis di AS mereda saat lebih banyak konsumen meninggalkan platform tradisional pay-TV demi layanan streaming over-the-top.
Analis memperkirakan pendapatan Roku akan naik 44% tahun ini dan 38% tahun depan. Sahamnya tidak murah pada 19 kali penjualan tahun ini, dan saham bisa kehilangan kilaunya di tengah aksi jual saham-saham pertumbuhan, tetapi tetap menjadi pilihan jangka panjang yang solid untuk pertumbuhan struktural layanan streaming dan platform periklanan digital alternatif.
Saya cukup optimistis terhadap Bumble, aplikasi kencan yang mengutamakan perempuan (female-first) yang dibuat oleh pendiri Tinder, Whitney Wolfe Herd, sejak IPO-nya pada bulan Februari. Perusahaan memiliki dua aplikasi, Bumble dan aplikasi kencan lama Badoo, tetapi perusahaan menghasilkan sebagian besar pendapatannya dari platform dengan nama yang sama.
Sumber gambar: Bumble.
Pendapatan Bumble naik 11% menjadi $542 juta pada 2020, dan total jumlah pengguna yang membayar tumbuh 22% menjadi 2,5 juta. EBITDA yang disesuaikan tumbuh 41% menjadi $143 juta, tetapi perusahaan membukukan rugi bersih berdasarkan standar GAAP.
Pertumbuhan Bumble melambat tahun lalu – dapat dimengerti, karena kencan pertama tidak berjalan baik dengan social distancing. Jadi para penggunanya menghabiskan lebih sedikit uang untuk fitur premium, yang menambahkan fitur seperti unlimited swipes, super likes, dan kemampuan untuk langsung melihat siapa yang menyukai Anda.
Namun, pada 2021, Bumble memperkirakan pendapatannya tumbuh 32% hingga 34%, dan meramalkan EBITDA yang disesuaikan akan naik 21% hingga 24%. Dalam konferensi panggilan Q4 pada bulan Maret, Wolfe Herd mengatakan bahwa “seluruh dunia telah melewati periode yang sangat kesepian,” dan menegaskan bahwa aplikasi kencan online berada pada posisi yang baik untuk pemulihan setelah pandemi. Bumble juga secara bertahap memperluas ekosistem yang ditujukan untuk perempuan dengan Bumble BFF untuk pertemanan dan Bumble Bizz untuk koneksi bisnis.
Analis memperkirakan pendapatan Bumble akan naik 33% tahun ini, dan mengharapkan bahwa kerugian di garis bawah (bottom-line) akan menyempit. Berdasarkan perkiraan tersebut, saham diperdagangkan pada 10 kali penjualan forward. Rivalnya yang lebih besar, induk Tinder Match Group, diperkirakan akan menghasilkan pertumbuhan penjualan sebesar 19% tahun ini, tetapi diperdagangkan pada 14 kali penjualan forward.
Langkah-langkah antitrust terbaru China terhadap perusahaan-perusahaan teknologi terbesarnya telah membawa bayangan gelap bagi seluruh sektor teknologi negara itu, tetapi satu saham yang masih bersinar di ruang tersebut adalah Baozun.
Baozun terutama menyediakan layanan e-commerce end-to-end di China untuk perusahaan multinasional besar seperti Starbucks dan** Nike** – pemain asing yang ingin memperluas jejaknya di China tanpa mempekerjakan tim penjualan dan teknologi lokal. Baozun menyiapkan marketplace online kliennya di China, mengelola kampanye pemasaran mereka, dan memenuhi pesanan mereka.
Baozun mengintegrasikan layanannya ke dalam platform e-commerce terkemuka seperti Alibaba Tmall dan JD.com, yang membuatnya menjadi cara yang seimbang untuk berinvestasi di sektor e-commerce China. Ini juga merupakan cara yang relatif aman untuk meraih keuntungan dari ekspansi perusahaan-perusahaan asing di China tanpa bertaruh pada satu perusahaan saja.
Pendapatan Baozun naik 22% menjadi $1,36 miliar pada 2020 karena laba bersih yang disesuaikan tumbuh 50% menjadi $82 juta. Permintaan terhadap layanannya tetap kuat, bahkan di tengah perang dagang dan pandemi, dan pergeseran berkelanjutan menuju model “non-distribution” – yang memungkinkan klien mengirim produk mereka langsung ke pelanggan alih-alih menggunakan pusat pemenuhan (fulfillment) milik Baozun – meningkatkan margin operasi.
Wall Street memperkirakan pendapatan dan laba Baozun akan naik masing-masing 37% dan 10% tahun ini. Saham ini diperdagangkan pada hanya 19 kali forward earnings dan 1,5 kali penjualan tahun ini, sehingga menjadikannya saham pertumbuhan yang undervalued di sektor e-commerce China yang sedang berkembang pesat.