Mencari bantuan ke China sekaligus menantang di Laut China Selatan? Berapa banyak konflik dan perhitungan yang tersembunyi di balik krisis energi Filipina?

(来源:钢铁VS观察)

Baru-baru ini, seiring konflik di Timur Tengah yang terus meningkat, sebuah krisis energi yang melanda seluruh dunia sedang dipercepat prosesnya.

Banyak orang menebak: dalam badai energi ini, siapa yang pertama tidak sanggup bertahan? Apakah Jepang dan Korea Selatan yang sangat bergantung pada impor energi? Jawabannya mungkin di luar dugaan banyak orang—yang lebih dulu menyalakan sirene keadaan darurat energi nasional adalah Filipina.

Pada 24 Maret waktu setempat, Presiden Filipina Marcos menandatangani perintah eksekutif, secara resmi mengumumkan seluruh negeri masuk ke dalam keadaan darurat energi selama satu tahun. Hanya 4 hari kemudian, pada 28 Maret, Wakil Menteri Luar Negeri Filipina Herrera-Lin memimpin delegasi tiba di Quanzhou, Fujian, untuk mengadakan perundingan diplomatik ke-24 antara pihak Tiongkok dan Filipina. Dan salah satu tuntutan utama dari perundingan ini adalah mencari bantuan dari pihak Tiongkok untuk meredakan krisis ganda yang sangat mendesak—energi dan pangan—di dalam negeri.

I. 98% minyak bergantung pada impor, cadangan hanya cukup untuk 45 hari: keamanan energi Filipina sudah lama kehilangan bantalan

Krisis meledak sepenuhnya yang dialami Filipina pada dasarnya adalah hasil yang tak terelakkan dari rantai pasokan energi yang “tanpa perlindungan”.

Sebagai negara kepulauan dengan populasi 116 juta jiwa, Filipina hampir tidak memiliki kapasitas produksi minyak mentah domestik yang stabil; ketergantungan minyak terhadap luar negeri mencapai 98%, dan lebih dari 90% minyak mentah impor berasal dari kawasan Timur Tengah.

Yang lebih fatal lagi, jalur pengangkutan minyak mentah tersebut 100% harus melewati Selat Hormuz. Selat sempit ini disebut “tenggorokan energi global”, menanggung hampir 20% perdagangan dan pengiriman minyak dunia. Setelah eskalasi konflik Timur Tengah baru-baru ini, volume pelayaran melalui selat tersebut anjlok 95% dibanding masa sebelum perang; banyak tanker minyak tertahan, sementara biaya pengiriman melonjak tajam. Ini berarti seolah-olah langsung mencabut “urat nadi” pasokan energi Filipina.

Sementara rantai pasokan kapan saja bisa putus, bantalan keamanan energi Filipina pun tipisnya tak masuk akal.

Garis merah keamanan cadangan minyak strategis yang ditetapkan oleh Badan Energi Internasional (IEA) untuk tiap negara adalah setidaknya mampu menopang konsumsi nasional selama 90 hari. Saat ini, cadangan bahan bakar Filipina hanya mampu bertahan 40 sampai 45 hari. Untuk avtur/jet fuel (minyak tanah untuk penerbangan) hanya cukup 39 hari; gas elpiji cair untuk memasak harian warga juga tinggal 23 hari.

Dampak krisisnya sudah merembes ke kehidupan warga Filipina pada umumnya.

Hanya dalam waktu satu bulan, harga solar di dalam negeri Filipina naik dua kali; hampir sepertiga SPBU di seluruh negeri terpaksa tutup karena tidak ada bahan bakar untuk dijual. Maskapai lokal seperti Cebu Pacific Air terpaksa mengurangi penerbangan internasional; sebagian rute jarak jauh bahkan perlu “membawa bahan bakar sendiri untuk pergi-pulang”. Untuk menghemat energi, beberapa lembaga pemerintah di ibu kota Manila sudah menerapkan skema kerja empat hari per minggu; aksi mogok dan protes para sopir swasta pun bermunculan silih berganti. Kehidupan masyarakat dan tatanan ekonomi menghadapi tekanan yang sangat besar.

Yang lebih mendesak daripada krisis energi adalah peringatan darurat keamanan pangan yang menyertainya.

Filipina adalah negara pertanian tradisional, tetapi memiliki kekurangan pertanian yang fatal: tingkat kemandirian pupuk kimia kurang dari 5%, sementara lebih dari 92% pupuk kimia bergantung pada impor. Di antaranya, lebih dari 40% pasokannya berasal dari Tiongkok, dan hampir 20% pupuk nitrogen berasal dari negara-negara Timur Tengah seperti Qatar dan Arab Saudi.

Kini, ketika pelayaran di Timur Tengah terganggu, pasokan impor pupuk tidak hanya terputus; kenaikan harga energi juga mendorong harga pupuk di seluruh dunia melambung. Musim tanam musim semi tahun 2026 sudah di depan mata: stok pupuk kimia yang bisa digunakan di Filipina tinggal 2,8 juta ton, hanya cukup sampai pertengahan hingga akhir April. Kesenjangan kebutuhan pupuk untuk seluruh musim tanam musim semi mencapai 8,2 juta ton.

Jendela waktu pemupukan utama untuk padi dan jagung hanya berlangsung dua sampai tiga minggu. Jika terlewat, produksi padi Filipina sepanjang tahun berpotensi berkurang hingga 3 juta ton; ini setara dengan 15% dari total konsumsi pangan sepanjang tahun seluruh negeri, dan secara langsung terkait dengan masalah makan bagi lebih dari 100 juta penduduk.

II. Mencari bantuan ke AS tanpa hasil lalu beralih ke Tiongkok: sikap mental kontradiktif—di satu sisi meminta bantuan, di sisi lain bergoyang

Menghadapi jalan buntu seperti ini, pihak Filipina pertama kali memikirkan pihak yang bisa dimintai bantuan, yakni sekutu mereka yang selama ini menjadi andalan: Amerika Serikat.

Mereka berharap AS bisa melonggarkan kebijakan dan mengizinkannya membeli minyak dari negara-negara yang dikenai sanksi AS seperti Venezuela dan Iran. Mereka juga berharap AS dapat mengoordinasikan sekutu untuk menambah pasokan energi dan pupuk kimia yang sangat kekurangan.

Namun, terhadap permintaan bantuan mendesak dari Filipina, AS tidak pernah memberikan solusi yang efektif. Bagaimanapun, dalam tata letak geopolitik AS, Filipina lebih banyak merupakan pion dalam permainan; kesulitan kehidupan sehari-hari warga di dalam negeri tidak pernah menjadi prioritas yang dipikirkan.

Dalam keadaan kehabisan pilihan, barulah Filipina menoleh ke pihak Tiongkok dan secara aktif duduk di meja perundingan.

Dalam perundingan Tiongkok-Filipina kali ini, pihak Filipina menekankan pembahasan dengan pihak Tiongkok mengenai hal-hal terkait jaminan pasokan energi dan pupuk kimia yang stabil, sekaligus melepaskan sinyal untuk memulai kembali perundingan pengembangan bersama minyak dan gas di Laut Selatan. Presiden Filipina Marcos juga secara terbuka menyatakan bahwa konflik Timur Tengah saat ini mungkin bisa mendorong perundingan pengembangan minyak dan gas antara Filipina dan Tiongkok mencapai terobosan. Ia juga mengakui bahwa dalam urusan pupuk kimia, pihak Tiongkok “telah memberi bantuan yang sangat besar, dan tidak pernah mengambil keuntungan dari situasi itu dengan cara apa pun”.

Namun yang perlu diperhatikan adalah: ketika pihak Filipina menunjukkan itikad kerja sama, mereka tidak pernah menghentikan tindakan pelanggaran hak (infringement) terkait di Laut Selatan. Keadaan “di satu sisi meminta bantuan, di sisi lain menantang” ini juga memperlihatkan sikap mental yang kontradiktif: mereka ingin memperoleh keuntungan nyata dari kerja sama dengan pihak Tiongkok untuk meredakan krisis kehidupan masyarakat di dalam negeri, namun tidak ingin melepaskan klaim yang tidak semestinya di Laut Selatan; mereka tetap mencoba menghubungkan pihak-pihak di luar kawasan untuk mengacau.

III. Filipina hanya sekadar cerminan: jika konflik terus berlanjut, Jepang dan Korea Selatan pun tak bisa hidup tanpa rasa khawatir

Krisis Filipina bukanlah kasus yang terisolasi—ini hanyalah sebuah cerminan dari krisis energi global yang tengah berlangsung.

Banyak orang bertanya: jika perang di Timur Tengah berlanjut sebulan lagi, apakah Jepang dan Korea Selatan yang sama-sama sangat bergantung pada energi Timur Tengah sanggup bertahan?

Dari data di atas kertas, “modal” Jepang dan Korea Selatan jauh lebih tebal dibanding Filipina.

Jepang membangun sistem cadangan ganda “pemerintah + kalangan swasta”, dengan cadangan minyak strategis total yang bisa menopang konsumsi nasional hingga 254 hari. Cadangan gabungan pemerintah dan perusahaan Korea Selatan juga mampu menutupi kebutuhan domestik hingga 208 hari. Jumlah cadangan kedua negara jauh melampaui garis merah keamanan internasional 90 hari, menjadikan dua negara tersebut sebagai pemasok cadangan minyak paling melimpah di dunia.

Namun itu tidak berarti mereka bisa hidup tanpa rasa khawatir. Struktur energi kedua negara juga sama-sama terikat kuat pada Timur Tengah dan Selat Hormuz.

95,1% minyak mentah impor Jepang berasal dari Timur Tengah, dan lebih dari 70% harus melewati Selat Hormuz. Ketergantungan minyak Korea Selatan terhadap luar negeri mencapai 97%; lebih dari 70% impor minyak mentahnya berasal dari Timur Tengah; dan hampir sembilan per sepuluh minyak mentah impor harus melewati jalur air tersebut.

Kini, ketika konflik terus meningkat, tekanan bagi Jepang dan Korea Selatan mulai terlihat. Di Jepang, harga bensin di dalam negeri sudah melesat ke level tertinggi dalam 36 tahun; Jepang terpaksa, untuk pertama kalinya dalam sejarah, melepas dalam skala besar 80 juta barel cadangan minyak strategis untuk menahan kenaikan harga domestik. Korea Selatan justru langsung menaikkan peringatan krisis keamanan energinya ke level perhatian; mereka menegaskan bahwa jika pasokan terputus, mereka akan segera menyalurkan cadangan. Bahkan mereka mulai meneliti langkah-langkah hemat energi seperti pembatasan kendaraan berdasarkan nomor ganjil-genap.

Yang lebih penting: angka “hari cadangan” di atas kertas hanyalah angka ideal hasil perhitungan statis.

Hampir setengah pasokan listrik Jepang bergantung pada pembangkit listrik gas alam cair (LNG), sementara kapasitas total tangki penyimpanan LNG-nya hanya cukup untuk sekitar 1 bulan. Jika pasokan LNG dari Timur Tengah terputus, agar listrik untuk kebutuhan masyarakat tetap terjamin, Jepang hanya bisa dipaksa beralih besar-besaran ke pembangkit listrik berbahan bakar minyak. Ini akan menghabiskan secara cepat cadangan minyak strategis, sehingga masa bantalan yang semula lebih dari 200 hari akan menyusut drastis.

Dengan kata lain, selama konflik Timur Tengah berlangsung lama, dan Selat Hormuz terus mengalami gangguan pelayaran, bahkan Jepang dan Korea Selatan yang memiliki cadangan melimpah pun pada akhirnya akan tetap ada hari di mana mereka tidak mampu menahan semuanya.

Ditutup dengan catatan terakhir: keamanan energi selalu menjadi garis batas bagi perkembangan negara

Krisis energi yang melanda seluruh dunia ini sekali lagi membuktikan sebuah kebenaran sederhana: minyak adalah nadi industri, sekaligus kebutuhan yang tidak bisa ditawar bagi perkembangan sebuah negara. Inilah mengapa AS sejak lama terus berusaha mengendalikan rantai pasokan minyak global—karena dengan memegang energi, mereka juga memegang otoritas penting dalam ekonomi global dan lanskap geopolitik.

Mulai dari penataan Timur Tengah setelah Perang Dunia II, lalu membelenggu minyak dan dolar dengan cara-cara militer serta finansial, hingga menggunakan konflik geopolitik untuk mengendalikan rantai pasokan energi global—logika inti AS tidak pernah berubah.

Dan keruntuhan awal Filipina juga menjadi peringatan bagi semua negara yang sangat bergantung pada impor energi: menyerahkan nadi kehidupan pembangunan negara kepada kekuatan eksternal yang jauh pada akhirnya hanyalah fatamorgana dan angan-angan belaka.

Hanya dengan membangun sistem pasokan energi yang beragam dan stabil, serta menjaga garis batas keamanan industri dan pangan sendiri, kita bisa benar-benar berdiri kokoh di tengah kekacauan dan gejolak geopolitik.

Arus informasi yang melimpah, interpretasi yang akurat—semuanya ada di aplikasi Sina Finance APP

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan