Dasar
Spot
Perdagangkan kripto dengan bebas
Perdagangan Margin
Perbesar keuntungan Anda dengan leverage
Konversi & Investasi Otomatis
0 Fees
Perdagangkan dalam ukuran berapa pun tanpa biaya dan tanpa slippage
ETF
Dapatkan eksposur ke posisi leverage dengan mudah
Perdagangan Pre-Market
Perdagangkan token baru sebelum listing
Futures
Akses ribuan kontrak perpetual
TradFi
Emas
Satu platform aset tradisional global
Opsi
Hot
Perdagangkan Opsi Vanilla ala Eropa
Akun Terpadu
Memaksimalkan efisiensi modal Anda
Perdagangan Demo
Pengantar tentang Perdagangan Futures
Bersiap untuk perdagangan futures Anda
Acara Futures
Gabung acara & dapatkan hadiah
Perdagangan Demo
Gunakan dana virtual untuk merasakan perdagangan bebas risiko
Peluncuran
CandyDrop
Koleksi permen untuk mendapatkan airdrop
Launchpool
Staking cepat, dapatkan token baru yang potensial
HODLer Airdrop
Pegang GT dan dapatkan airdrop besar secara gratis
Launchpad
Jadi yang pertama untuk proyek token besar berikutnya
Poin Alpha
Perdagangkan aset on-chain, raih airdrop
Poin Futures
Dapatkan poin futures dan klaim hadiah airdrop
Investasi
Simple Earn
Dapatkan bunga dengan token yang menganggur
Investasi Otomatis
Investasi otomatis secara teratur
Investasi Ganda
Keuntungan dari volatilitas pasar
Soft Staking
Dapatkan hadiah dengan staking fleksibel
Pinjaman Kripto
0 Fees
Menjaminkan satu kripto untuk meminjam kripto lainnya
Pusat Peminjaman
Hub Peminjaman Terpadu
Kim Jong Un menggambarkan Israel sebagai instrumen dominasi Amerika: sebuah deklarasi sarat dengan simbol-simbol geopolitik
Baru-baru ini, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengeluarkan pernyataan yang tajam menyebut Israel sebagai “proyek teror yang didukung oleh Washington”, sehingga memicu kembali ketegangan retorika antara Pyongyang dan Barat. Pernyataan ini merupakan bagian dari strategi Korea Utara yang sudah matang: menggunakan konflik Israel-Palestina sebagai alat kritik anti-imperialis.
Konteks Strategis Pernyataan Korea Utara
Komentar Kim Jong Un tidak muncul secara terpisah. Menurut media resmi Korea Utara, pemimpin ini menyampaikan kritik tersebut dalam sebuah pidato memperingati sebuah acara nasional, mengulang pola lama: menempatkan Israel dalam kerangka teori hegemoni Amerika yang lebih luas. Secara historis, Korea Utara memposisikan diri sebagai lawan ideologis kekuatan Barat, khususnya Amerika Serikat.
Pernyataan ini mencerminkan posisi doktrinal lama. Puluhan tahun, Pyongyang menggambarkan sekutu-sekutu Amerika sebagai perpanjangan dari imperialisme Barat, dengan Israel sebagai pusat narasi tersebut. Dengan menyebut Israel sebagai “proyek teror”, Kim Jong Un memperkuat narasi sebagai “pembela yang tertindas” terhadap dominasi yang dianggap global.
Tantangan Geopolitik dan Tujuan Internal
Selain posisi internasional, pernyataan ini mengungkapkan kalkulasi internal dan eksternal Korea Utara. Secara domestik, pernyataan keras ini bertujuan memperkuat konsolidasi nasional: mengalihkan perhatian dari tantangan ekonomi yang serius dan sanksi internasional yang membebani rezim. Retorika anti-Barat sangat resonan di kalangan rakyat, memperkuat rasa terkepung.
Secara geopolitik, Kim Jong Un berusaha menempatkan dirinya sebagai suara alternatif di “Selatan Global”, menggabungkan kritik anti-imperialis dengan simpati terhadap perjuangan Palestina. Strategi ini bertujuan membangun koneksi simbolis dengan aktor non-blok lain, meskipun Korea Utara memiliki pengaruh langsung yang terbatas di Timur Tengah.
Reaksi Internasional dan Implikasi
Komunitas internasional merespons secara polar. Amerika Serikat dan sekutu Barat menolak pernyataan tersebut sebagai tipikal retorika Korea Utara. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS menyebutnya “tidak produktif”, mendesak Pyongyang fokus pada negosiasi denuklirisasi daripada serangan verbal.
Israel, untuk sementara, tetap diam secara diplomatis, menganggap pernyataan tersebut sebagai bagian dari pola yang bisa diperkirakan dari Pyongyang. Namun, beberapa kelompok dan negara di Timur Tengah yang bersimpati kepada Palestina memperkuat pernyataan ini di media sosial, menjadikannya simbol perlawanan. Diskusi daring menunjukkan adanya opini yang terbagi, ada yang melihat langkah ini sebagai keberanian, ada pula yang menuduh rezim ini hipokrit karena memiliki senjata nuklir dan kamp kerja paksa.
Propaganda atau Reposisi Diplomatik?
Pertanyaan utama adalah: apakah pernyataan ini merupakan upaya serius mempengaruhi geopolitik atau sekadar propaganda untuk audiens internal? Para ahli umumnya sepakat bahwa ini lebih ke arah yang kedua. Korea Utara kekurangan kekuatan nyata untuk mempengaruhi dinamika Israel-Palestina, dan pernyataannya lebih bersifat simbolis.
Namun, retorika ini mencerminkan strategi yang lebih dalam: menjaga relevansi Pyongyang dalam tatanan internasional yang tetap mengisolasi mereka. Dengan memanfaatkan sentimen anti-Barat yang masih kuat di beberapa wilayah, Kim Jong Un berusaha menampilkan citra tantangan dan ketegasan ideologis. Pendekatan ini memperumit posisi mereka, yang dianggap hipokrit oleh kritik karena menyoroti catatan buruk Korea Utara dalam pemerintahan otoriter dan pelanggaran hak asasi manusia.
Menuju Masa Depan yang Tidak Pasti
Meskipun pernyataan ini kecil kemungkinannya memicu perubahan nyata dalam geopolitik global, hal ini menegaskan bahwa strategi Korea Utara tetap menggunakan retorika sebagai alat politik. Seiring ketegangan di Timur Tengah tetap kronis dan Korea Utara terus menavigasi tantangan internal dan eksternal, langkah-langkah seperti ini kemungkinan akan tetap menjadi alat pilihan Pyongyang.
Saat ini, dunia mengamati bagaimana pernyataan ini terintegrasi dalam lanskap geopolitik yang lebih luas, sementara dampaknya yang sebenarnya masih bersifat retoris. Kim Jong Un mengingatkan dunia bahwa dalam permainan pengaruh internasional, kata-kata tetap menjadi senjata yang tidak kalah penting, meskipun dampaknya bersifat simbolis.