Kripto Menghadapi Tekanan Berlapis: Dolar Kuat dan Ketegangan Geopolitik Mendominasi Tren Pasar

Pasar kripto terus bergejolak di minggu lalu, dengan Bitcoin dan berbagai altcoin mengalami koreksi signifikan meskipun akhirnya menunjukkan pemulihan. Tekanan yang dihadapi aset digital berasal dari berbagai faktor eksternal, mulai dari penguatan mata uang dolar hingga geopolitik internasional. Untuk memahami kenapa kripto mengalami volatilitas ini, kita perlu menggali lebih dalam kondisi pasar yang kompleks.

Koreksi Harga di Tengah Penguatan Dolar yang Agresif

Bitcoin yang mencapai $74.000 pada pertengahan minggu lalu tidak mampu mempertahankan momentum tersebut. Harga aset terbesar dunia terkoreksi hingga memasuki zona $68.000, mengalami penurunan sekitar 3,4 persen dalam 24 jam tertentu. Data terkini menunjukkan posisi Bitcoin kini berada di $70.93K dengan kenaikan 4,58% dalam periode 24 jam terakhir, mencerminkan pemulihan yang sedang berlangsung.

Pola penjualan menjelang akhir pekan menjadi karakteristik yang terus terulang dalam beberapa bulan belakangan. Fenomena ini menciptakan kisaran perdagangan yang relatif ketat, dengan investor retail cenderung menutup posisi sebelum penutupan minggu.

Penyebab utama tekanan pada kripto adalah membumbungnya kurs dolar yang mencatat peningkatan mingguan terbesar dalam setahun terakhir. Dolar AS menguat seiring dengan revisi pasar terhadap ekspektasi suku bunga Federal Reserve. Analis dari Aurelion menjelaskan bahwa investor beralih ke keamanan dolar ketika ketegangan geopolitik meningkat, terutama terkait dengan situasi di Timur Tengah yang berdampak pada harga energi global.

Altcoin Juga Merasakan Tekanan yang Serupa

Selain Bitcoin, aset digital lainnya mengalami pola serupa. Ether turun menjadi $1.974 saat kondisi terburuk, namun kini pulih menjadi $2.16K dengan kenaikan 5,73% dalam 24 jam. Solana terkoreksi ke level $84,31 dan sekarang berada di $91.84 dengan peningkatan 6,91%. Dogecoin melorot hingga $0,09 tetapi kini mencatat posisi $0.10 dengan kenaikan 5,81%. BNB mengalami penurunan ke $627 dan saat ini di $640.30 (+2,39%), sementara XRP terkoreksi ke $1,37 dan sekarang $1.44 dengan pertumbuhan 4,28%.

Meski demikian, ketika dilihat dari perspektif mingguan, gambaran menjadi lebih nuansa. Bitcoin masih mencatat kenaikan 3,6% selama tujuh hari perdagangan, Ether naik 2,6%, dan BNB bertambah 2,1%. Lonjakan pertengahan minggu yang dipicu oleh pengumuman Presiden Trump mengenai penundaan lima hari untuk serangan infrastruktur energi Iran berhasil meredam kekhawatiran pasar.

Data Rantai Mengungkap Tekanan Penjual yang Berkelanjutan

Mengapa Bitcoin mengalami kesulitan untuk terus naik? Analisis mendalam terhadap data on-chain memberikan jawaban penting. Menurut data dari Glassnode, sebanyak 43 persen dari total pasokan Bitcoin saat ini berada dalam posisi rugi (underwater). Situasi ini menciptakan tekanan jual yang berkelanjutan setiap kali terjadi pemulihan harga.

Mekanismenya sederhana namun efektif: ketika harga aset naik, para pemegang yang menunggu untuk mencapai titik impas (break even) akan menjual, menciptakan hambatan psikologis untuk penetrasi harga lebih tinggi. Inilah sebabnya mengapa momentum menuju $74.000 tidak dapat bertahan—setiap rally menghadapi penawaran dari investor yang telah menunggu berbulan-bulan untuk keluar dari posisi rugi.

Namun, ada satu sinyal positif dari sisi aliran modal. Messari melaporkan lonjakan spektakuler dalam arus masuk net stablecoin sebesar 415 persen, mencapai $1,7 miliar dalam seminggu. Transfer stablecoin harian juga meningkat hampir 10 persen. Data ini menunjukkan bahwa modal fresh tetap berada di sekitar ekosistem, mungkin hanya menunggu kesempatan yang lebih baik untuk kembali masuk.

Faktor Geopolitik Terus Mempengaruhi Sentimen Pasar

Konflik AS-Iran menjadi backdrop makro yang terus membentuk pola perdagangan. Selat Hormuz yang menjadi titik strategis dalam perdagangan minyak global masih mengalami gangguan potensial, menjaga harga energi tetap tinggi. Situasi ini menciptakan dilema bagi policymaker—naiknya biaya energi berpotensi memperpanjang inflasi, yang kemudian membuat Federal Reserve lebih berkewajiban untuk mempertahankan suku bunga pada level tinggi.

Kombinasi ini menjadi lingkungan terburuk untuk aset berisiko seperti kripto. Dolar kuat, inflasi yang persisten, dan penundaan pemotongan suku bunga membentuk trinity tekanan yang sulit ditembus.

Prospek Kripto: Tergantung pada Stabilisasi Geopolitik dan Energi

Melihat ke depan, perjalanan kripto akan sangat bergantung pada dua variabel kunci. Pertama, apakah harga minyak dan pengiriman melalui Selat Hormuz dapat stabil. Jika kondisi membaik, pasar kripto dapat mengujicoba kembali kisaran $74.000 hingga $76.000, membuka peluang untuk momentum lebih lanjut.

Sebaliknya, jika ketegangan geopolitik memburuk, tekanan dapat menyeret harga Bitcoin kembali ke kisaran mid-$60.000, di mana resistensi psikologis dari pemegang di bawah titik impas akan menjadi hambatan lagi. Keputusan ini akan dibuat oleh faktor-faktor yang di luar kontrol pasar kripto itu sendiri.

Saat ini, data on-chain menunjukkan bahwa investor ritel tidak sepenuhnya absen meskipun sentimen didominasi oleh kekhawatiran. Arus masuk stablecoin yang melimpah adalah indikasi bahwa modal tetap bersiap, dan pertanyaannya hanya saat ini apakah akan digunakan untuk entry baru atau menunggu level yang lebih menguntungkan. Pasar kripto tetap dalam dinamisika tarik-ulur antara tekanan fundamental dan harapan pemulihan.

BTC0,39%
SOL1,56%
DOGE1,59%
BNB1,54%
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan