Dasar
Spot
Perdagangkan kripto dengan bebas
Perdagangan Margin
Perbesar keuntungan Anda dengan leverage
Konversi & Investasi Otomatis
0 Fees
Perdagangkan dalam ukuran berapa pun tanpa biaya dan tanpa slippage
ETF
Dapatkan eksposur ke posisi leverage dengan mudah
Perdagangan Pre-Market
Perdagangkan token baru sebelum listing
Futures
Akses ribuan kontrak perpetual
TradFi
Emas
Satu platform aset tradisional global
Opsi
Hot
Perdagangkan Opsi Vanilla ala Eropa
Akun Terpadu
Memaksimalkan efisiensi modal Anda
Perdagangan Demo
Pengantar tentang Perdagangan Futures
Bersiap untuk perdagangan futures Anda
Acara Futures
Gabung acara & dapatkan hadiah
Perdagangan Demo
Gunakan dana virtual untuk merasakan perdagangan bebas risiko
Peluncuran
CandyDrop
Koleksi permen untuk mendapatkan airdrop
Launchpool
Staking cepat, dapatkan token baru yang potensial
HODLer Airdrop
Pegang GT dan dapatkan airdrop besar secara gratis
Launchpad
Jadi yang pertama untuk proyek token besar berikutnya
Poin Alpha
Perdagangkan aset on-chain, raih airdrop
Poin Futures
Dapatkan poin futures dan klaim hadiah airdrop
Investasi
Simple Earn
Dapatkan bunga dengan token yang menganggur
Investasi Otomatis
Investasi otomatis secara teratur
Investasi Ganda
Keuntungan dari volatilitas pasar
Soft Staking
Dapatkan hadiah dengan staking fleksibel
Pinjaman Kripto
0 Fees
Menjaminkan satu kripto untuk meminjam kripto lainnya
Pusat Peminjaman
Hub Peminjaman Terpadu
Mengapa negara-negara tidak bisa mencetak uang sendiri tetapi harus berhutang?
Pertanyaan ini terdengar kontradiktif: jika setiap negara memiliki hak untuk mencetak uang sendiri, mengapa harus meminjam dari negara lain? Jawabannya terletak pada akar sistem mata uang internasional modern dan cara dunia mengatur aktivitas jual beli barang antar bangsa.
Bayangkan dunia setelah Perang Dunia II seperti sebuah desa besar, di mana setiap negara seperti keluarga yang ahli dalam produksi. Keluarga Rusia membuat alat kerja, keluarga Amerika memproduksi barang konsumsi, keluarga Tiongkok menjahit pakaian, keluarga Jerman membuat suku cadang, keluarga Prancis memproduksi parfum, dan keluarga Vietnam menanam padi. Setiap keluarga ingin hidup baik, mereka harus membeli barang dari keluarga lain—itulah kegiatan impor.
Masalah muncul ketika semua orang membutuhkan alat pembayaran bersama. Emas bisa menjadi pilihan ideal, tetapi terlalu berat dan sulit dibagi. Pada tahun 1944, setelah Perang Dunia II, sistem Bretton Woods didirikan, menetapkan dolar AS sebagai mata uang internasional yang dikonversi ke emas. Pria bernama Amerika—kuat, kaya, dan dipercaya—mengumumkan: “Mulai sekarang, kalian gunakan uang saya untuk bertransaksi, uang ini disebut dolar AS, yang terkait dengan emas.”
Sejak saat itu, semua transaksi internasional menggunakan dolar AS sebagai ukuran.
Dolar AS: Mata uang internasional dan kekuasaan luar negeri
Mengapa negara harus meminjam dolar AS daripada mencetak uang sendiri? Alasannya cukup sederhana tapi mendalam: ketika negara lain ingin menjual barang ke AS atau negara lain, mereka tidak akan menerima mata uang yang mereka cetak sendiri, melainkan hanya menerima dolar AS. Itu karena dolar didukung oleh keluarga terkuat di “desa”—Amerika—dan semua orang percaya padanya.
Ada mata uang lain seperti Euro atau Yuan, tetapi hanya diterima dalam batas tertentu. Hanya dolar AS yang dianggap sebagai “mata uang asing universal”, digunakan secara luas di seluruh dunia untuk mengakumulasi nilai dan melakukan transaksi internasional.
Jika Vietnam memiliki 100 miliar dolar AS dari ekspor tetapi perlu membeli mesin dari Jerman, Vietnam harus menggunakan dolar AS untuk membayar. Jika tidak punya dolar, Vietnam harus meminjam atau membeli secara kredit, dan mengonversinya ke dolar AS. Tidak ada negara yang bisa mencetak dolar AS sendiri, hanya Federal Reserve yang punya hak melakukan itu.
Setiap negara bisa mencetak uang, tapi bukan dolar AS
Setiap negara memang memiliki hak untuk mencetak uang sendiri melalui bank sentranya. Namun, saat ingin mengimpor barang dari luar negeri, negara-negara ini menghadapi masalah dasar: penyedia internasional tidak percaya pada mata uang negara kecil.
Misalnya, negara A mencetak 1 juta lembar uang, tetapi hanya 100.000 rumah tangga yang membutuhkannya. Jika negara A terus mencetak, setiap lembar uang akan kehilangan nilai. Harga dalam negeri akan naik, tetapi uang tunai di tangan rakyat kehilangan daya beli. Hasilnya: inflasi.
Prinsip dasar ini berlaku untuk semua mata uang: nilainya ditentukan oleh penawaran dan permintaan. Ketika penawaran melebihi permintaan, uang kehilangan nilai. Ketika permintaan lebih besar dari penawaran, uang menguat. Sebuah negara harus mencari titik keseimbangan antara keduanya, jika tidak, akan mengalami konsekuensi ekonomi seperti Zimbabwe.
Mekanisme pencetakan uang sembarangan Zimbabwe: Pelajaran tentang inflasi
Mengapa setiap negara tidak bisa sekadar mencetak uang tanpa harus meminjam? Jawabannya terletak pada kisah nyata dalam sejarah terbaru: Zimbabwe di bawah pemerintahan Mugabe.
Pada tahun 1980, saat Zimbabwe merdeka, negara ini salah satu yang terkaya di Afrika. Struktur ekonomi beragam, industri berkembang, pertanian efisien. Kurs: 1 dolar AS = 0,678 dolar Zimbabwe. Orang dari negara lain ingin tinggal di sini karena kemakmuran.
Namun, pada akhir 1990-an, saat mantan pejuang perang menuntut tunjangan pasca perang, Mugabe—pemimpin dengan gelar master hukum dan manajemen dari Inggris—mengambil keputusan: mencetak uang lebih banyak. Ia percaya masalah ekonomi bisa diselesaikan dengan mencetak uang.
Awalnya, setelah mantan pejuang menerima uang dari pembangunan infrastruktur, mereka mulai berbelanja. Petani Vietnam (simbol petani) ingin mempercantik diri, membeli pakaian, lalu mobil. Karena pasokan tidak cukup, harga mulai naik dua kali lipat. Penjual menyadari uang tidak lagi bernilai, lalu menaikkan harga untuk menutupi kerugian. Siklus ini pun berputar.
Mugabe terus mencetak uang, semakin banyak, berharap orang akan punya uang untuk berbelanja. Tapi hasilnya justru sebaliknya: inflasi melonjak.
Warga Zimbabwe harus mengangkut uang dengan kereta sapi untuk membeli sepotong roti. Mata uang Zimbabwe generasi keempat akhirnya diganti dengan 1 triliun dolar Zimbabwe generasi ketiga.
Pelajaran dari Zimbabwe jelas: setiap negara bisa mencetak uang, tapi tidak sembarangan. Jika mencetak uang tidak seimbang dengan produk dan jasa nyata dalam ekonomi, hasilnya adalah inflasi parah.
Cadangan devisa: Indikator kesehatan ekonomi negara
Agar bertahan dalam sistem ekonomi global, setiap negara perlu mengakumulasi devisa—terutama dolar AS. Jumlah devisa yang dimiliki disebut “cadangan devisa dalam dolar AS”. Ini adalah indikator sangat penting, seperti tabungan di rekening bank keluarga.
Negara bisa memperoleh devisa melalui:
Saat Tiongkok menghadapi krisis keuangan Hong Kong tahun 1997, cadangan devisa besar mereka menyelamatkan situasi. Saat ini, negara dengan cadangan devisa terbesar adalah:
Mengapa hanya AS yang boleh mencetak uang “tanpa batas”?
Terdengar tidak adil, tapi kenyataannya: hanya Amerika Serikat yang mampu mencetak uang melebihi batas normal tanpa menghadapi konsekuksi bencana.
Mengapa? Karena dolar AS digunakan di seluruh dunia, sehingga dampak pencetakan berlebih akan dibagi seluruh dunia, bukan hanya Amerika.
Amerika melakukan tiga langkah untuk mengeluarkan uang:
Sistem ini disebut “kebijakan pelonggaran kuantitatif”. Melaluinya, AS mencetak lebih banyak uang daripada kebanyakan negara lain tanpa terlalu banyak inflasi, karena biaya inflasi dibagi ke seluruh dunia.
Namun, bahkan AS tidak bisa mencetak uang tanpa batas. Jika terlalu banyak, dolar akan kehilangan nilai dengan cepat, menyebabkan inflasi global—yang juga merugikan AS sendiri. Oleh karena itu, AS harus mengendalikan jumlah uang yang dicetak dalam batas yang dapat diterima dunia.
Lingkaran utang internasional
Meskipun AS memegang hak mencetak uang untuk seluruh dunia, ironisnya, AS sendiri adalah negara dengan utang terbesar. Ini adalah paradoks besar dalam sistem ekonomi global.
Negara lain harus meminjam karena mereka membutuhkan devisa untuk mengimpor. Tanpa dolar, mereka tidak bisa membeli barang dari luar negeri. Bahkan, setiap negara harus selalu mempertimbangkan: mencetak uang sendiri atau meminjam dolar? Jika mencetak terlalu banyak, akan terjadi inflasi seperti Zimbabwe. Jika meminjam dolar, mereka harus menanggung utang luar negeri.
Inilah sebabnya negara-negara terjebak dalam kebutuhan cadangan devisa. Mereka harus mengekspor, mengumpulkan dolar, lalu menggunakannya untuk impor. Jika tidak, mencetak uang sembarangan akan mengarah ke Zimbabwe.
Singkatnya, setiap negara meskipun punya hak mencetak uang, hanya boleh melakukannya sesuai dengan kapasitas ekonomi nyata. Dunia modern memilih dolar AS sebagai mata uang internasional, sehingga negara lain harus meminjam atau mendapatkan devisa dari ekspor. Itu bukan ketidakadilan, melainkan hasil dari sistem ekonomi global yang disepakati semua pihak demi menjaga stabilitas.