Konsumsi daging menuntut kualitas dan kesehatan

robot
Pembuatan abstrak sedang berlangsung

Sumber data: Institut Penelitian Konsumsi dan Pengembangan Industri JD.com

Gurita, kepiting rajungan menduduki peringkat teratas dalam volume transaksi, daging babi utuh dan daging kelinci melonjak lebih dari 10 kali lipat, serta daging khas seperti daging keledai dan rusa semakin diminati di Shandong, Guangdong, dan daerah lain… Data konsumsi daging terbaru menunjukkan bahwa pasar daging saat ini menunjukkan ciri khas yang mencolok berupa “kualitas, keunikan, dan regionalisasi”. Dari sekadar “makan cukup dan enak” menjadi mengejar “kualitas, keunikan, dan kesehatan”, konsumsi daging sedang mengalami perubahan besar.

Di satu sisi, produk laut seperti gurita dan kepiting rajungan terus populer dan menjadi “favorit baru” di meja makan. Data menunjukkan bahwa gurita, kepiting rajungan, dan udang putih menempati tiga besar dalam volume transaksi seafood, sementara ikan barakuda, tuna, dan kepiting hijau mengalami peningkatan volume transaksi masing-masing lebih dari 10 kali lipat, 7 kali lipat, dan 4,9 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Preferensi konsumen dari berbagai usia juga semakin beragam: konsumen di bawah 25 tahun lebih menyukai kepiting roti dan kura-kura; usia 26-35 tahun lebih menyukai lobster dan kepiting rajungan sebagai bahan makanan “mewah ringan”; dan kelompok di atas 56 tahun lebih memilih ikan cod, gurita, dan produk bernilai gizi tinggi lainnya. Konsumsi seafood dari “khusus festival” beralih ke “konsumsi harian yang beragam”, menjadi ekspresi kualitas hidup dari berbagai usia.

Di sisi lain, konsumsi daging merah menunjukkan tren “stok + coba rasa”. Dari pertumbuhan volume transaksi, daging babi utuh/setengah babi meningkat lebih dari 10 kali lipat, dan kotak hadiah daging babi meningkat 174%, mencerminkan kebutuhan stok keluarga dan skenario pemberian hadiah saat hari raya. Sementara itu, daging kelinci dan rusa masing-masing meningkat 211% dan 103%, menunjukkan keinginan kuat konsumen untuk mencoba rasa baru. Berdasarkan preferensi wilayah, konsumen di Beijing lebih menyukai produk daging babi, sementara Shanghai memimpin dengan kotak hadiah daging babi dan kombinasi daging sapi, dan Jiangsu lebih suka daging babi utuh/setengah babi. Guangdong menyukai perut babi dan daging bahu babi, sementara Shandong lebih menyukai daging keledai dan daging kuda. Perkembangan budaya kuliner lokal yang beragam sedang membentuk ulang peta konsumsi daging merah berdasarkan wilayah.

Selain itu, wilayah tengah dan barat serta beberapa provinsi pesisir mulai menjadi pusat pertumbuhan baru dalam konsumsi daging. Volume transaksi daging merah di Hainan, Inner Mongolia, dan Tianjin masing-masing meningkat 208%, 190%, dan 141% dibandingkan tahun sebelumnya. Volume transaksi seafood di Henan meningkat 5,5 kali lipat, dan daerah seperti Hainan, Qinghai, dan Xinjiang juga menunjukkan pertumbuhan yang mengesankan. Batas wilayah konsumsi daging sedang terpecah, dan kekuatan pasar nasional yang terpadu terus berkembang.

Dari stok daging babi utuh hingga gurita di meja makan, dari preferensi lokal hingga coba rasa lintas wilayah, konsumsi daging mencerminkan tradisi perayaan yang hangat dan meriah sekaligus ekspresi kehidupan berkualitas. Perpaduan antara tradisi dan modernisasi, serta kemajuan kota dan desa, tercermin dalam tren konsumsi daging yang terus meningkat, mencerminkan kehidupan yang semakin indah dan penuh semangat. (Sumber artikel: Economic Daily, Penulis: Liu Chunmuyang)

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan