Isu Tenaga Kerja Paksa yang Tersekuritisasi: Dampak Baru terhadap Tatanan Perdagangan Internasional

robot
Pembuatan abstrak sedang berlangsung

18.03.2026

Jumlah kata dalam artikel ini: 1177, waktu baca sekitar 2 menit

Penulis | Yicai International

Belakangan ini, Barat dan Amerika Serikat mendorong isu kerja paksa menjadi semakin bersifat keamanan umum, yang mengancam tatanan ekonomi dan perdagangan internasional.

Pada 12 Maret waktu Timur AS, AS mengumumkan peluncuran penyelidikan 301 terhadap produk yang diduga mengandung unsur kerja paksa, melibatkan 60 ekonomi termasuk China. Dalam beberapa tahun terakhir, Barat dan AS terus memanaskan retorika tentang “kelebihan kapasitas” di industri energi baru dan sektor lainnya di China, dengan berbagai kesalahan dan mitos yang saling terkait, mencerminkan perubahan mendalam dalam tatanan ekonomi dan perdagangan internasional baru-baru ini, di mana permainan aturan telah meluas dari hambatan tarif tradisional ke bidang nilai-nilai, dengan kecenderungan menjadi lebih bersifat keamanan umum dan politisasi yang semakin nyata.

Esensi Alat Kebijakan Barat dan AS yang Berkaitan dengan Isu “Kerja”

Dari sudut pandang alat kebijakan, penggunaan “pasal 301” oleh AS berbeda secara signifikan dari Regulasi Larangan Kerja Paksa Uni Eropa. Investigasi hak-hak buruh yang dilakukan Kantor Perwakilan Perdagangan AS berdasarkan Pasal 301 dari “Undang-Undang Perdagangan 1974” tidak mengikuti prosedur kepatuhan domestik. Pada 20 Februari, Mahkamah Agung AS memutuskan bahwa kebijakan tarif seimbang pemerintahan Trump melanggar konstitusi, dan peluncuran kembali penyelidikan “pasal 301” oleh pemerintahan Trump jelas merupakan langkah untuk membangun kembali hambatan tarif.

Perlu dicatat bahwa kebijakan semacam ini secara legislasi mengikuti Konvensi Inti Organisasi Buruh Internasional (ILO), tetapi dalam pelaksanaan operasionalnya, terdapat masalah seperti penerapan selektif dan penggunaan diskresi yang berlebihan. Penggunaan mekanis pasal dan alat kebijakan terkait oleh Barat dan AS sangat berpotensi menyebabkan gangguan serius terhadap pembagian kerja internasional yang dibangun berdasarkan keunggulan komparatif.

Retorika “kelebihan kapasitas” dan Perangkap Wacana serta Realitas China

Dalam konteks meningkatnya persaingan aturan ekonomi dan perdagangan internasional, retorika tentang “kelebihan kapasitas” dan isu kerja paksa mulai menyatu dalam wacana. Sebelumnya, pejabat seperti Menteri Keuangan AS sering memanipulasi isu “kelebihan kapasitas” industri energi baru China, menyatakan bahwa hal tersebut “mengacaukan harga dan pola produksi global.” Retorika ini jelas mengabaikan fakta dasar pasar global saat ini, yaitu bahwa transisi hijau global masih menghadapi kekurangan kapasitas besar. Menurut perkiraan Badan Energi Internasional (IEA), hingga 2030, permintaan kendaraan energi baru global akan mencapai 45 juta unit, dan kebutuhan pemasangan panel surya baru akan mencapai 820 gigawatt, masing-masing 4,5 kali dan 4 kali lipat dari tahun 2022. Dalam latar belakang lebih dari 130 negara dan wilayah yang menetapkan target karbon netral, permintaan global terhadap kapasitas hijau jauh melebihi output yang ada.

Perubahan Mendalam dalam Lingkungan Ekonomi dan Perdagangan Internasional serta Suara Kritik Balasan dari Masyarakat Internasional

Dengan menganalisis dinamika dan retorika terbaru Barat dan AS di bidang ekonomi dan perdagangan internasional, dapat dilihat tiga perubahan utama: Pertama, pengarahannya menuju nilai-nilai dalam permainan aturan. Isu-isu seperti standar buruh dan perlindungan lingkungan diberi nilai moral yang lebih tinggi, menjadi dasar “alasan” yang sah untuk membangun hambatan perdagangan. Kedua, kecenderungan ideologis dalam kompetisi rantai pasok. Permintaan investigasi kewajiban kerja paksa bagi perusahaan untuk melakukan audit kepatuhan di seluruh rantai pasok akan meningkatkan biaya transaksi dan risiko kepatuhan secara signifikan. Ketiga, tantangan terhadap mekanisme tata kelola multilateral yang mulai menggelembung. AS menghindari aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan membangun hambatan perdagangan secara unilateral melalui legislasi sendiri, yang secara serius merusak otoritas sistem perdagangan multilateral.

Menghadapi perubahan mendalam dalam lingkungan ekonomi dan perdagangan internasional, China selalu berpartisipasi secara terbuka dalam pembentukan aturan tata kelola tenaga kerja global, dan berpegang pada respons terhadap berbagai tuduhan tidak benar berdasarkan kebutuhan pasar dan hukum industri. Menggunakan isu kerja paksa sebagai alat politik pada dasarnya adalah bentuk proteksionisme yang disamarkan sebagai moral. Namun, pilihan pasar jauh lebih meyakinkan daripada narasi politik—apakah kapasitas berlebih atau tidak, pasar akan memberikan jawaban sendiri.

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan