Akankah Anda Membayar untuk Emosi Anda Sendiri? Mengungkap Pasar "Konsumsi Emosi" Senilai Triliun

Memandang kembali ke pasar konsumsi tahun 2025, salah satu fenomena paling mencolok adalah ledakan lengkap dari konsumsi emosional.

Dari konsumsi kotak kejutan untuk meredakan stres rata-rata seribu yuan per bulan bagi kaum profesional di Shanghai, hingga antrean dua jam untuk teh nostalgia bagi lansia di Chengdu; dari antusiasme muda-mudi yang menempuh lintas provinsi untuk menonton konser, hingga lonjakan penjualan produk pendamping AI… tanpa disadari, konsumsi emosional telah melampaui batas usia dan lapisan sosial, menjadi bentuk konsumsi baru yang meresap ke dalam berbagai skenario kehidupan, dan menunjukkan kekuatan pertumbuhan yang kuat. Data dari iMedia Consulting menunjukkan bahwa pada tahun 2024, skala konsumsi emosional di China telah mencapai 2 triliun yuan, dan diperkirakan akan menembus 4,5 triliun yuan pada tahun 2029.

Dapat dikatakan, gelombang konsumsi ini datang dengan sangat deras, tidak hanya merombak logika pasokan pasar, tetapi juga mencerminkan gambaran spiritual masyarakat kontemporer, yang layak untuk kita teliti secara mendalam.

Apa itu konsumsi emosional?

Konsumsi emosional, juga dikenal sebagai “konsumsi perasaan”, umumnya merujuk pada perilaku konsumen yang selain memenuhi kebutuhan materi dasar, lebih memperhatikan pengalaman emosional dan kepuasan psikologis yang dibawa oleh barang atau jasa, melalui tindakan pembelian untuk melepaskan emosi, menikmati spiritual, dan melakukan kompensasi psikologis. Dalam skenario konsumsi emosional, barang atau jasa tidak hanya berfungsi sebagai objek yang memiliki nilai guna, tetapi juga menjadi media yang menyampaikan nilai emosional.

Dari sudut pandang makro, munculnya konsumsi emosional sangat terkait erat dengan tahap perkembangan ekonomi sosial.

Seiring masyarakat beralih dari kekurangan material menuju kekayaan, tingkat konsumsi masyarakat terus meningkat. Pada masa kekurangan bahan pokok, konsumsi utama adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal; ketika kehidupan materi semakin makmur, orang mulai mengejar kepuasan spiritual yang lebih tinggi, dan di sinilah muncul konsumsi emosional.

Melihat ke saat ini, contoh konsumsi emosional sangat melimpah, terutama dalam pasar konsumsi tahun 2025, di mana konsumsi emosional telah membentuk berbagai bentuk penetrasi menyeluruh yang beragam.

Sebagai contoh, kotak kejutan, boneka di dalamnya biasanya berwajah lucu dan bergaya berbeda-beda, serta memiliki nilai koleksi dan unsur acak tertentu. Konsumen membeli kotak kejutan bukan hanya untuk mendapatkan boneka itu sendiri, tetapi lebih untuk menikmati pengalaman emosional penuh kejutan dan harapan saat membuka kotak, serta rasa pencapaian dan kepuasan yang diperoleh dari mengumpulkan berbagai model boneka. Data terkait menunjukkan bahwa Pop Mart, sebagai merek terdepan di industri kotak kejutan, terus memperluas pengaruh pasarnya, mencerminkan popularitas konsumsi kotak kejutan di pasar konsumsi emosional. Harga sekunder dari seri LABUBU bahkan mencapai beberapa kali lipat, dan edisi terbatas yang tersembunyi bisa diperdagangkan hingga ribuan yuan.

Contoh lain, antusiasme kaum muda terhadap “Guzi” (produk terkait anime, game, dan sejenisnya), juga merupakan manifestasi dari konsumsi emosional. Produk-produk ini memuat kecintaan dan emosi konsumen terhadap karya dan karakter anime serta game, dan pembelian produk “Guzi” dapat memberikan mereka kepuasan emosional dan resonansi.

Layanan konsumsi emosional di platform daring juga menarik perhatian. Misalnya, layanan “bangun dan tidur nyenyak”, yang menyediakan perhatian emosional bagi mereka yang merasa kesepian dan kurang pendampingan dalam kehidupan yang serba cepat. Saat membeli layanan ini, konsumen menghargai sapaan hangat dan pendampingan penuh perhatian dari penyedia layanan, dan nilai emosional ini menjadi kekuatan pendorong utama konsumsi.

Contoh lain, layanan “penghiburan patah hati”, di mana saat konsumen mengalami kegagalan emosional dan suasana hati yang rendah, para profesional melalui pendengaran dan pengarahan dapat membantu mereka meredakan rasa sakit dan mendapatkan penghiburan psikologis. Kehadiran layanan ini secara tepat menangkap kebutuhan konsumen dalam kondisi emosional tertentu, dan berorientasi pada pemenuhan nilai emosional, membangun skenario konsumsi yang unik.

Empat kekuatan pendorong ledakan konsumsi emosional

Ledakan lengkap konsumsi emosional pada tahun 2025 bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari interaksi berbagai faktor, dan penyebab mendalamnya dapat diringkas ke dalam empat dimensi utama.

● Dasar Ekonomi: Kekayaan Material Mendorong Kebutuhan Spiritual

Setelah puluhan tahun berkembang, pendapatan per kapita masyarakat di China terus meningkat, dan kebutuhan materi dasar telah terpenuhi secara memadai. Menurut teori hierarki kebutuhan Maslow, setelah kebutuhan fisiologis dan keamanan terpenuhi, kebutuhan akan rasa memiliki, penghormatan, dan aktualisasi diri yang lebih tinggi akan menjadi dominan. Dari kenyataan, ketika orang tidak lagi khawatir tentang pengeluaran hidup dasar, mereka akan menginvestasikan lebih banyak dana ke dalam konsumsi yang membawa kebahagiaan spiritual.

Sebagai contoh, dalam hal wisata, dulu bagi banyak orang, berwisata adalah konsumsi yang mewah. Sekarang, seiring peningkatan pendapatan, semakin banyak orang memilih berlibur saat liburan, mengunjungi tempat berbeda untuk merasakan budaya dan bersantai, dan ini adalah manifestasi dari konsumsi emosional.

Perlu dicatat bahwa generasi Z, sebagai kekuatan utama konsumsi baru, memiliki pandangan unik yang sangat mendorong perkembangan konsumsi emosional. Mereka tumbuh di era internet, memiliki akses luas ke informasi, lebih memperhatikan ekspresi diri dan personalisasi, serta mengejar pengalaman konsumsi yang unik. Bagi mereka, konsumsi bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga sebagai cara menampilkan diri dan mengekspresikan sikap. Oleh karena itu, mereka sangat antusias membeli produk dengan citra IP yang unik, seperti produk anime, kolaborasi game, dan sejenisnya. Nilai emosional dan budaya yang terkandung dalam produk ini sesuai dengan minat dan kepribadian mereka, memungkinkan mereka merasakan resonansi emosional dan kepuasan yang kuat melalui konsumsi.

● Konteks Sosial: Tekanan dan Kesepian Mendorong Kebutuhan Kompensasi Emosional

Kecepatan hidup yang tinggi dan kompetisi yang sengit di masyarakat saat ini menyebabkan berbagai kelompok usia menghadapi tekanan yang besar. Remaja menghadapi kecemasan akademik, pekerjaan, dan hubungan asmara; kelompok dewasa tengah memikul tanggung jawab keluarga dan menghadapi krisis karier; lansia menghadapi rasa kesepian dan jarak antar generasi. Data survei menunjukkan bahwa lebih dari 80% responden merasa mengalami tekanan, dan lebih dari separuh merasa tekanan cukup besar.

Dalam lingkungan seperti ini, konsumsi emosional menjadi jalur penting bagi orang untuk meredakan stres dan mencari penghiburan psikologis. Saat orang mengalami kegagalan di tempat kerja atau merasa terbebani oleh rutinitas, membeli figur koleksi yang sudah lama diidamkan atau mengikuti kelas meditasi relaksasi dapat membantu meredakan ketegangan. Perilaku konsumsi ini tidak lagi semata-mata untuk mendapatkan barang, tetapi juga untuk memenuhi keinginan akan ketenangan dan kebahagiaan dalam hati.

Selain itu, perubahan dalam cara bersosialisasi semakin memperbesar kekurangan kebutuhan emosional. Meskipun media sosial dan komunikasi daring meningkatkan efisiensi komunikasi secara signifikan, mereka juga menyebabkan isolasi sosial di dunia nyata, dan “kesepian kolektif” menjadi mentalitas umum. Pada saat ini, konsumsi emosional dapat melalui layanan pendamping virtual dan pengakuan dalam komunitas, secara efektif mengisi kekosongan sosial nyata.

● Dukungan Teknologi: Inovasi Digital dan Kontekstual Memperluas Batas Konsumsi

Perkembangan pesat internet dan media sosial membuat penyebaran informasi menjadi sangat cepat. Rekomendasi dari influencer dan berbagi di platform sosial dapat secara cepat membangkitkan keinginan beli konsumen. Ketika seorang influencer membagikan pengalaman membeli mainan penghilang stres dan menceritakan efek relaksasinya, biasanya akan memicu pengikutnya untuk meniru dan membeli. Media sosial telah menjadi platform utama bagi konsumen untuk memperoleh informasi dan berbagi pengalaman konsumsi, dan saat mereka menelusuri media sosial, mereka sangat mudah terpengaruh orang lain, sehingga memunculkan perilaku konsumsi emosional.

Selain itu, popularitas platform e-commerce dan kemudahan belanja daring juga menyediakan ruang pasar yang luas untuk konsumsi emosional. Konsumen cukup dengan beberapa ketukan jari dapat dengan mudah mencari berbagai produk dan layanan yang memenuhi kebutuhan emosional mereka, mulai dari kotak kejutan, figur koleksi, hingga layanan pendamping emosional daring, semuanya dapat dipesan dengan sekali klik dan dikirim dengan cepat. Platform e-commerce juga menggunakan analisis data besar untuk secara akurat merekomendasikan produk yang sesuai dengan minat dan kebutuhan emosional konsumen, semakin mendorong konsumsi emosional. Sebagai contoh, Taobao memanfaatkan riwayat penelusuran dan pembelian pengguna untuk merekomendasikan produk yang dipersonalisasi, secara signifikan meningkatkan efisiensi dan kepuasan pembelian.

Selain itu, penerapan teknologi baru seperti VR dan AR dalam bidang konsumsi juga memberikan pengalaman berbelanja yang imersif, memperkuat sensasi emosional selama proses konsumsi. Di beberapa platform e-commerce perabot rumah tangga, konsumen dapat menggunakan teknologi VR untuk secara virtual mencoba penataan berbagai furnitur, seolah-olah mereka berada di dalam ruangan nyata, dan pengalaman ini memudahkan pengambilan keputusan pembelian.

● Dorongan Budaya: Hedonisme dan Budaya Kelompok Memberikan Dukungan Ganda

Transformasi budaya konsumsi memberikan landasan konseptual bagi konsumsi emosional. Secara spesifik, pandangan konsumsi tradisional yang menekankan “penghematan dan hemat” secara perlahan bertransformasi menjadi “menikmati diri secara moderat”, terutama di kalangan muda. Mereka lebih bersedia membayar untuk pengalaman pribadi dan menganggap konsumsi emosional sebagai bentuk perhatian diri yang penting. Laporan “Konsumsi Emosi Generasi Z 2025” dari sebuah lembaga menunjukkan bahwa hampir 60% kaum muda bersedia membayar untuk nilai emosional; dari sudut pandang mentalitas konsumsi saat ini, sekitar 56,3% dari mereka memilih “konsumsi bahagia, membayar untuk nilai emosional/minat”, meningkat 16,2 poin persentase dibandingkan tahun 2024; dan 44,8% lainnya memperhatikan “peningkatan kualitas”, menunjukkan bahwa kaum muda tidak sekadar memanjakan diri secara buta, tetapi mengejar pengalaman yang lebih baik didorong oleh emosi.

Selain itu, munculnya budaya kelompok juga memperbesar efek penyebaran konsumsi emosional. Dalam komunitas mainan tren, anime, dan fandom, konsumsi emosional menjadi media identitas dan interaksi sosial. Konsumen melalui pembelian produk sejenis dan partisipasi dalam pengalaman yang sama mendapatkan rasa memiliki dan pengakuan dalam kelompok, dan resonansi emosional ini semakin mendorong konsumsi berulang dan penyebaran dari mulut ke mulut, yang selanjutnya mendorong perkembangan konsumsi emosional.

Dua sisi konsumsi emosional: peluang dan tantangan

Sebagai bentuk ekonomi baru yang muncul, konsumsi emosional tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi dan secara tepat memenuhi kebutuhan emosional masyarakat, tetapi juga menimbulkan risiko konsumsi yang beragam dan kekhawatiran dalam pengelolaan sosial, menampilkan pola yang kompleks dengan peluang dan tantangan.

● Peluang

Dari sudut pandang positif, konsumsi emosional secara alami memainkan peran sebagai kekuatan ekonomi baru, pengatur emosi sosial, dan akselerator inovasi.

Pertama, dari aspek ekonomi, konsumsi emosional telah menjadi mesin utama dalam mendorong permintaan domestik. Dengan skala pasar yang mencapai triliunan yuan, tidak hanya secara langsung mempercepat perkembangan industri seperti mainan tren, pariwisata budaya, dan layanan digital, tetapi juga melahirkan jalur baru seperti “ekonomi penyembuhan” dan “ekonomi nostalgia”, menciptakan banyak lapangan pekerjaan.

Sebagai contoh, dalam promosi besar “618” di Taobao Tmall tahun 2025, lebih dari 2.400 toko mainan tren mengalami pertumbuhan penjualan tiga digit secara year-on-year, yang terutama didorong oleh ledakan kategori seperti kotak kejutan dan figur koleksi, serta meningkatnya popularitas IP nasional dan produk kolaborasi game, yang secara langsung membuktikan kekuatan dorongan konsumsi emosional terhadap ekonomi.

Kedua, dari aspek sosial, konsumsi emosional berperan sebagai “pengatur emosi sosial” yang penting. Melalui konsumsi ini, orang dapat secara besar-besaran melepaskan tekanan hidup, meredakan kecemasan internal, dan mendapatkan penghiburan emosional, yang tidak hanya membantu menjaga kesehatan mental individu, tetapi juga secara tertentu mengurangi risiko ledakan konflik sosial. Dari museum patah hati yang menyimpan kenangan emosional, hingga tempat pameran bertema yang menawarkan pengalaman relaksasi, skenario konsumsi ini mengubah emosi negatif menjadi pengalaman konstruktif, secara lembut menyembuhkan luka emosional; dan kelompok lansia yang melalui konsumsi nostalgia menghidupkan kembali kenangan masa lalu dan memperkaya kehidupan spiritual mereka, secara efektif mengurangi rasa kesepian dan secara signifikan meningkatkan kualitas hidup di usia lanjut.

Ketiga, dari aspek industri, konsumsi emosional memaksa sisi pasokan untuk mempercepat inovasi dan peningkatan. Logika inti perusahaan beralih dari “memenuhi fungsi” menjadi “meningkatkan emosi” dan “penawaran nilai tambah”, melalui inovasi produk, penciptaan skenario, dan peningkatan layanan untuk memperkuat daya saing inti, mendorong pasar konsumsi menuju perkembangan berkualitas tinggi. Produk dan layanan inovatif seperti “kue tema putus cinta” dan “penginapan boutique penyembuhan” adalah praktik nyata dari respons pasokan yang tepat terhadap kebutuhan emosi masyarakat.

● Tantangan

Dari sudut pandang lain, perlu diwaspadai bahwa ekspansi cepat konsumsi emosional juga mengungkapkan berbagai masalah, dan serangkaian dampak negatifnya patut diperhatikan.

Pertama, risiko konsumsi berlebihan dan impulsif semakin nyata.

Beberapa konsumen, terutama kaum muda, di bawah pengaruh pemasaran emosional yang dirancang secara cermat oleh pelaku industri, mudah terjebak dalam kesalahan persepsi bahwa “mengisi kekosongan emosional melalui konsumsi”, yang memicu perilaku konsumsi yang tidak rasional. Contohnya, beberapa wanita menghabiskan banyak uang untuk game otaku, pria mengeluarkan ribuan yuan untuk skin virtual di game online, bahkan ada yang menggunakan biaya hidup sehari-hari untuk konsumsi emosional, yang tidak hanya memperberat beban ekonomi pribadi, tetapi juga berpotensi menimbulkan konflik keuangan keluarga.

Kedua, munculnya kekacauan industri dan kualitas layanan yang beragam.

Bidang konsumsi emosional secara umum memiliki hambatan masuk yang rendah, dan banyak pelaku tidak memiliki kualifikasi yang diatur secara ketat. Sebagai contoh, di platform e-commerce tertentu, harga layanan seperti ngobrol dan penghiburan sangat bervariasi, tanpa penjelasan yang jelas tentang isi layanan, durasi, dan kualifikasi pelaku; beberapa pelaku bahkan melakukan promosi berlebihan dan pemasaran palsu, menawarkan “produk emosional” yang tidak memiliki nilai nyata, sehingga hak-hak konsumen sering kali dirugikan.

Ketiga, risiko kebocoran privasi dan aspek moral serta hukum yang tersembunyi.

Layanan curhat di lubang rahasia dan voice chat sering kali membutuhkan pengumpulan data pribadi pengguna. Jika perlindungan data tidak memadai, sangat rentan terhadap kebocoran privasi dan penipuan daring; bahkan beberapa layanan pendamping emosional menyembunyikan konten yang berbau pornografi lembut, yang tidak hanya bertentangan dengan norma sosial, tetapi juga berpotensi melanggar hukum, dan memberikan pengaruh buruk terhadap moral masyarakat.

Keempat, ketergantungan emosional yang meningkat dan penurunan kemampuan bersosialisasi.

Ketergantungan berlebihan terhadap konsumsi emosional dapat menyebabkan individu kehilangan kemampuan mengatur emosi secara mandiri, membentuk “ketergantungan konsumsi”; dan penyebaran layanan pendamping virtual dapat semakin melemahkan keinginan dan kemampuan bersosialisasi secara nyata, memperparah jarak antar manusia, dan bahkan menimbulkan kekurangan emosi yang lebih dalam.

Segala hal tersebut tentu saja menjadi perhatian dan pemikiran mendalam bagi kita.

Bagaimana konsumsi emosional bisa berjalan lebih jauh?

Agar nilai positif dari konsumsi emosional dapat sepenuhnya dimanfaatkan dan risiko potensial dapat dihindari, secara objektif diperlukan kolaborasi dari pemerintah, perusahaan, konsumen, dan masyarakat untuk membangun ekosistem pengembangan yang sehat dan tertib.

● Dari sisi pemerintah

Departemen terkait harus mempercepat penyusunan standar industri konsumsi emosional, memperjelas isi layanan, kualifikasi pelaku, aturan operasional platform, dan membangun mekanisme masuk yang ketat. Untuk lembaga yang menyediakan layanan konsultasi psikologis dan pendampingan emosional, wajib mengharuskan pelaku memiliki kualifikasi profesional; memperkenalkan lembaga penilaian pihak ketiga untuk melakukan evaluasi terbuka terhadap kualitas layanan platform dan keamanan data, membentuk siklus pengawasan yang lengkap. Selain itu, perlu memperbaiki regulasi dan memperkuat penegakan hukum, menindak keras promosi palsu, konten pornografi lembut, dan pelanggaran privasi; memperbaiki saluran perlindungan hak konsumen, menyederhanakan proses penyelesaian sengketa konsumsi emosional, dan melindungi hak-hak legal konsumen. Selain itu, memperkuat legislasi perlindungan data pribadi, memperjelas tanggung jawab platform dalam pengumpulan, penyimpanan, dan penggunaan data, serta mencegah risiko kebocoran informasi.

● Dari sisi perusahaan

Pelaku usaha harus meninggalkan pola keuntungan jangka pendek, mengintegrasikan tanggung jawab sosial ke dalam filosofi bisnis, dan menghindari pemasaran berlebihan serta pemanfaatan emosi secara manipulatif. Tingkatkan inovasi produk dan layanan, tingkatkan kualitas penawaran nilai emosional, beralih dari “stimulus emosional” ke “pemberdayaan jangka panjang”, misalnya mengembangkan produk pengaturan emosi yang ilmiah dengan menggabungkan pengetahuan kesehatan mental.

Selain itu, perlu membangun sistem pelatihan dan evaluasi untuk meningkatkan profesionalisme layanan; memperkuat manajemen keamanan data, menggunakan teknologi enkripsi dan kontrol akses untuk melindungi privasi pengguna, serta menyiapkan peringatan privasi di skenario berisiko tinggi. Berikan pengingat yang baik kepada pengguna yang melakukan transaksi besar atau sering, dan arahkan mereka untuk berbelanja secara rasional.

● Dari sisi konsumen

Harus memahami bahwa inti dari konsumsi emosional adalah sebagai pendukung emosi, bukan sebagai pengganti emosi, dan menghindari menjadikannya satu-satunya cara untuk mengisi kekosongan emosional. Kelompok muda harus membangun pandangan konsumsi “sesuai kemampuan”, memilih produk dan layanan yang sesuai dengan kemampuan ekonomi mereka, dan waspada terhadap konsumsi impulsif dan perbandingan sosial.

Selain itu, tingkatkan kesadaran perlindungan informasi pribadi, berhati-hati saat memberikan data sensitif ke platform; tingkatkan kesadaran hak dan kewajiban, dan segera mengadukan jika menemukan promosi palsu atau layanan yang tidak sesuai. Secara aktif, kembangkan cara sehat untuk mengatur emosi, seperti berolahraga, membaca, dan bersosialisasi secara nyata, untuk melepaskan tekanan dan mengurangi ketergantungan berlebihan terhadap perilaku konsumsi.

● Dari sisi masyarakat

Lembaga pendidikan dan organisasi sosial harus memperkuat pendidikan emosional, membantu masyarakat, terutama kaum muda, meningkatkan kemampuan pengelolaan emosi dan membangun literasi emosional yang sehat. Melalui kegiatan offline dan seminar publik, bangun platform sosial nyata untuk mengurangi rasa kesepian kolektif. Pada saat yang sama, media harus berperan dalam mengarahkan opini, melaporkan secara objektif manfaat dan risiko konsumsi emosional, mengungkap pelaku usaha dan jebakan konsumsi yang buruk, serta menyebarkan konsep konsumsi rasional. Dorong komunitas untuk membangun layanan dukungan emosional, menyediakan bimbingan psikologis bagi lansia dan remaja, dan membangun jaringan dukungan emosional yang beragam.

Secara keseluruhan, fenomena ledakan konsumsi emosional di tahun 2025 merupakan hasil dari perkembangan zaman. Ia mencerminkan keberhasilan dan tren peningkatan konsumsi dari sisi ekonomi China, sekaligus mencerminkan kebutuhan emosional dalam hati masyarakat saat ini. Sebagai bentuk ekonomi baru dengan skala triliunan yuan, konsumsi emosional memberikan energi baru yang kuat bagi pasar, menjadi mesin penggerak pertumbuhan ekonomi yang baru. Namun, di baliknya, terdapat jebakan konsumsi dan risiko sosial yang perlu kita sadari secara jernih.

Pada akhirnya, perkembangan sehat dari konsumsi emosional sangat bergantung pada keseimbangan antara “rasional” dan “kehangatan”.

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan