Krisis Saham Konsumen di Tengah Lonjakan Harga Minyak: Inflasi Lengket + Kelemahan Permintaan, Akankah Sektor Konsumen AS Mengulangi Skenario Tahun 1970-an?

robot
Pembuatan abstrak sedang berlangsung

Apa yang terjadi? Harga minyak melonjak, menghidupkan kembali ingatan tentang masa stagflasi di tahun 1970-an

1. Rata-rata saham konsumsi utama AS mengalami penurunan secara kolektif:

Pada 18 Maret 2026, saham-saham konsumsi besar di AS mengalami penjualan besar-besaran. Di antaranya, McDonald’s dan Nike turun sekitar 3%, sementara Starbucks dan restoran barat Meksiko turun lebih dari 5%.

Penurunan kolektif ini bukanlah sekadar akibat memburuknya fundamental perusahaan secara mikro secara terisolasi, melainkan cerminan dari ekspektasi “stagflasi” yang meningkat di tingkat makroekonomi yang tercermin secara konsisten di pasar ekuitas. Kenaikan harga minyak mentah baru-baru ini, ditambah data makro yang menunjukkan permintaan yang lemah, memperkuat kekhawatiran pasar akan munculnya kembali inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi secara bersamaan.

2. Kenangan pahit yang tertidur kembali diingatkan:

Ketakutan pasar terhadap “stagflasi” berasal dari ingatan mendalam terhadap sejarah. Melihat kembali ke tahun 1970-an, ekonomi AS terjerumus ke dalam masa sulit stagflasi yang khas. Antara tahun 1974 hingga 1980, pertumbuhan GDP rata-rata hanya sekitar 2,5%, sementara inflasi (CPI) rata-rata mencapai 9,3%. Di tengah tekanan dari permintaan yang lemah dan biaya yang meningkat, laba perusahaan secara umum mengalami tekanan besar.

……

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan