Dasar
Spot
Perdagangkan kripto dengan bebas
Perdagangan Margin
Perbesar keuntungan Anda dengan leverage
Konversi & Investasi Otomatis
0 Fees
Perdagangkan dalam ukuran berapa pun tanpa biaya dan tanpa slippage
ETF
Dapatkan eksposur ke posisi leverage dengan mudah
Perdagangan Pre-Market
Perdagangkan token baru sebelum listing
Futures
Akses ribuan kontrak perpetual
TradFi
Emas
Satu platform aset tradisional global
Opsi
Hot
Perdagangkan Opsi Vanilla ala Eropa
Akun Terpadu
Memaksimalkan efisiensi modal Anda
Perdagangan Demo
Pengantar tentang Perdagangan Futures
Bersiap untuk perdagangan futures Anda
Acara Futures
Gabung acara & dapatkan hadiah
Perdagangan Demo
Gunakan dana virtual untuk merasakan perdagangan bebas risiko
Peluncuran
CandyDrop
Koleksi permen untuk mendapatkan airdrop
Launchpool
Staking cepat, dapatkan token baru yang potensial
HODLer Airdrop
Pegang GT dan dapatkan airdrop besar secara gratis
Launchpad
Jadi yang pertama untuk proyek token besar berikutnya
Poin Alpha
Perdagangkan aset on-chain, raih airdrop
Poin Futures
Dapatkan poin futures dan klaim hadiah airdrop
Investasi
Simple Earn
Dapatkan bunga dengan token yang menganggur
Investasi Otomatis
Investasi otomatis secara teratur
Investasi Ganda
Keuntungan dari volatilitas pasar
Soft Staking
Dapatkan hadiah dengan staking fleksibel
Pinjaman Kripto
0 Fees
Menjaminkan satu kripto untuk meminjam kripto lainnya
Pusat Peminjaman
Hub Peminjaman Terpadu
Strategi Ganda Ogasagawa Takashi: Teori Evolusi Perdagangan dari 100 Juta hingga 8 Miliar
Dalam legenda pasar saham Jepang, ada dua nama yang terkenal seperti petir—BNF (nama asli Takashi Kotegawa), yang dikenal sebagai dewa perdagangan, dan investor ritel terkuat CIS. Kedua trader top ini tidak hanya sahabat lama, tetapi juga membentuk filosofi trading unik mereka melalui pengalaman di pasar. Mereka berdua mulai mengenal trading sejak masa kuliah, dari modal kecil secara bertahap mengumpulkan kekayaan, hingga akhirnya menjadi trader yang mengelola dana bernilai miliaran yen. Yang membuat mereka terkenal secara bersamaan adalah insiden pesanan salah J-COM yang terkenal—pada hari itu, CIS meraih 600 juta yen, sementara Takashi Kotegawa secara mengejutkan hanya dalam 10 menit mendapatkan keuntungan sebesar 2 miliar yen, setara sekitar 150 juta RMB pada kurs saat itu.
Di kalangan trader Jepang yang umumnya rendah hati dan konservatif, sangat jarang trader secara terbuka mengungkapkan strategi trading mereka. Namun, Takashi Kotegawa secara langka berbagi sistem trading energi potensialnya, dan CIS juga tidak ragu menjelaskan prinsip tren mengikuti pasar yang dia anut. Kedua metode ini kemudian dipelajari secara mendalam oleh banyak trader dan diintegrasikan ke dalam strategi mereka sendiri. Hingga hari ini, metode-metode ini tetap memiliki nilai referensi penting bagi para pelaku pasar.
Pemburu Nilai yang Underestimated—Pencerahan Investasi Terbalik Takashi Kotegawa
Untuk memahami bagaimana Takashi Kotegawa mampu mengumpulkan kekayaan dari 1 miliar yen menjadi 80 miliar yen dengan cepat, kita harus kembali ke tahap awal karier trading-nya. Pada fase ini, strategi utama adalah investasi terbalik, yang juga menjadi mesin utama pertumbuhan akun dari kecil menjadi besar.
Antara tahun 2000 hingga 2003, dunia mengalami luka akibat pecahnya gelembung internet. Pasar saham Jepang pun memasuki masa bear market yang berkepanjangan, dengan sentimen investor yang sangat pesimis dan banyak yang mengalami kerugian besar. Namun, Takashi Kotegawa menemukan peluang tersembunyi di tengah pesimisme ekstrem ini.
Meskipun harga saham terus menurun selama bear market, harga tidak akan turun secara linier sampai ke dasar. Pasar selalu melakukan pencarian support melalui rebound berulang di bagian bawah. Dalam proses ini, harga sering menyimpang jauh dari nilai sebenarnya. Prinsip investasi terbalik Takashi Kotegawa adalah menangkap momen ini: dia menggunakan analisis data untuk menemukan saham yang sangat undervalued, lalu masuk saat harga rebound setelah mencapai titik ekstrem penurunan, sehingga memperoleh keuntungan.
Metode ini membutuhkan dua hal: pertama, keberanian mental—berani melakukan posisi berlawanan tren di tengah keputusasaan; kedua, kesabaran eksekusi—menghabiskan waktu untuk riset mendalam dan analisis fundamental. Takashi Kotegawa terutama mengandalkan pengamatan deviasi antara garis rata-rata pergerakan 25 hari dan harga saat ini untuk memilih saham.
Secara spesifik, jika sebuah saham memiliki garis rata-rata 25 hari sebesar 100 yen dan harga saat ini 80 yen, maka deviasi adalah -20%. Ketika deviasi ini cukup besar dan negatif, itu bisa menandakan bahwa harga sangat undervalued—ini adalah peluang yang dicari Takashi Kotegawa. Dia akan membangun posisi di level undervalued ini dan menunggu rebound. Sebaliknya, jika harga naik ke 120 yen dan deviasi menjadi +20%, maka perlu waspada terhadap overvalued jangka pendek dan risiko overbought yang menyertainya.
Berbeda saham dan industri memiliki standar deviasi yang berbeda pula. Takashi Kotegawa menetapkan garis acuan deviasi sesuai karakteristik saham besar, kecil, dan sektor industri yang berbeda, dan menggunakan ini sebagai indikator utama masuk posisi. Metode ini membantunya mengendalikan risiko secara efektif selama masa bear market dan sekaligus menangkap peluang rebound yang menguntungkan.
Dari Pertahanan ke Serangan—Perubahan Tren Saat Pasar Menghangat
Sekitar tahun 2003, kondisi pasar saham Jepang mengalami perubahan fundamental. Reformasi dan pemulihan ekonomi global membawa pasar ke siklus kenaikan baru. Dengan perubahan ini, metode trading Takashi Kotegawa juga mengalami transformasi penting—transformasi ini menjadi faktor kunci dalam pertumbuhan kekayaannya dari 1 miliar yen menjadi 80 miliar yen.
Jika investasi terbalik adalah strategi defensif saat bear market, maka saat pasar bullish dia beralih ke strategi ofensif. Dia tidak lagi menunggu rebound di dasar, melainkan mengikuti tren kenaikan pasar secara ketat. Ini menunjukkan kebijaksanaan trading penting: strategi harus disesuaikan dengan kondisi pasar, karena berpegang pada satu metode saja bisa membuat kehilangan peluang.
Pada tahap baru ini, Takashi Kotegawa mengadopsi pola trading jangka pendek yang unik—disebut “dua hari satu malam”. Artinya, dia membuka posisi dalam satu hari dan menahannya sampai sesi pagi hari berikutnya, lalu dengan cepat menutup posisi tersebut. Siklus ini sangat singkat, tetapi mengandung filosofi manajemen risiko yang mendalam.
Sistem operasinya memiliki ciri khas: dalam satu hari, dia bisa memegang 20 hingga 50 saham sekaligus. Meski tampak seperti melakukan “full position” (full margin), sebenarnya ini adalah metode diversifikasi risiko yang cerdas. Dengan menyebar dana ke banyak saham, meskipun beberapa saham bergerak berlawanan tren, posisi kecil di masing-masing saham memungkinkan kerugian individual dikendalikan dalam batas yang dapat ditanggung, sehingga risiko kerugian total diminimalkan.
Dalam setiap siklus trading, saham yang dibeli hari itu akan dipertahankan sampai sesi pagi hari berikutnya, lalu diambil keuntungan atau dihentikan kerugiannya untuk menutup posisi tersebut. Setelah itu, Takashi Kotegawa akan cepat memindai pasar untuk menemukan peluang trading berikutnya dan mengulangi proses ini. Pola trading frekuensi tinggi ini menuntut ketepatan eksekusi dan kekuatan mental yang tinggi, tetapi inilah alasan utama dia mampu terus mengakumulasi kekayaan.
Ahli dalam Keterkaitan Industri—Menemukan Peluang yang Dilupakan Pasar
Dalam operasi multi-saham dan siklus pendek, Takashi Kotegawa menunjukkan pemahaman mendalam tentang hubungan internal pasar. Dia sangat mahir memanfaatkan efek keterkaitan antar industri, kemampuan ini memungkinkannya menemukan peluang yang sementara terlupakan oleh pasar di antara banyak saham.
Contoh klasik adalah strategi “saham tertahan kenaikan” (滞涨股). Misalnya, dalam empat perusahaan besar industri baja, jika salah satu dari mereka mulai melonjak cepat karena alasan tertentu, Takashi Kotegawa akan mengalihkan perhatian ke tiga perusahaan lain yang belum mengikuti kenaikan tersebut. Logikanya sederhana: jika satu perusahaan industri sudah membuktikan arah ini benar, perusahaan sejenis lainnya pasti akan mengikuti. Dia akan masuk ke saham-saham tertinggal ini dan menunggu tren rebound industri secara keseluruhan.
Keunggulan metode ini terletak pada kemampuannya menggabungkan pemahaman terhadap sentimen pasar dan logika dasar. Modal pasar sering kali mengalir ke peluang bagus yang sudah terbukti, tetapi karena keterlambatan informasi dan perhatian yang terbagi, peluang lain yang juga berkualitas tinggi sering terlewatkan. Takashi Kotegawa memanfaatkan celah ini untuk terus mendapatkan keuntungan dari fluktuasi pasar yang berulang.
Melampaui Mitos Rasio Menang—Inti dari Tren Mengikuti Pasar
Jika Takashi Kotegawa mewakili sebuah sistem operasi tertentu, maka CIS adalah dasar filosofi trading tren mengikuti pasar. Meskipun tidak memberikan metode spesifik, beberapa pandangannya yang inti memberikan wawasan penting bagi siapa saja yang ingin meraih keuntungan di pasar.
Prinsip tren mengikuti pasar CIS dapat dirangkum dalam satu kalimat: saham yang terus naik besar kemungkinan akan terus naik, dan saham yang terus turun besar kemungkinan akan terus turun. Sebagian besar tradingnya didasarkan pada asumsi ini, dan ini adalah inti logika tren mengikuti pasar yang dia anut.
Pandangan ini tampak sederhana, tetapi berlawanan dengan intuisi kebanyakan orang. Secara umum, manusia cenderung memandang kenaikan dan penurunan harga saham sebagai permainan 50-50—ketika saham naik banyak, mereka berpikir “seharusnya sudah turun,” lalu memutuskan untuk menjual atau menunggu. Tetapi, kenyataannya, logika pasar tidak mengikuti keseimbangan ini. Sebaliknya, pasar menunjukkan sifat keberlanjutan yang kuat.
Ketika sebuah saham menunjukkan performa yang kuat dan terus mencapai rekor tertinggi, ia akan menarik lebih banyak investor dan dana masuk, yang selanjutnya mendorong harga naik lebih tinggi. Dalam proses ini, saham yang kuat akan semakin menguat, sementara saham yang lemah akan semakin melemah—itulah pola operasi pasar yang sebenarnya. Yang perlu kita lakukan bukan melawan kekuatan ini, tetapi mengikuti arusnya.
Sebaliknya, hal yang sama berlaku: banyak orang takut membeli di puncak kenaikan dan terjebak dalam kerugian besar, lalu menunggu koreksi kecil sebelum membeli lagi. Masalahnya, tidak ada yang tahu kapan koreksi itu akan terjadi. Dalam pasar bullish yang kuat, menunggu seperti ini bisa membuat kita melewatkan seluruh tren. Strategi “berkumpul saat koreksi” tampak aman, tetapi sering kali justru menjadi penghambat keuntungan.
Ada juga pendekatan berlawanan: saat saham yang kita beli mulai turun, bukan melakukan cut loss, tetapi menambah posisi—dikenal sebagai “averaging down” atau “kerugian tambah”. Logika ini sangat bertentangan: sebuah transaksi yang gagal justru diperbesar taruhannya, yang biasanya hanya memperbesar kerugian. CIS berpendapat bahwa cara paling benar adalah segera mengakui kegagalan dan melakukan cut loss secara cepat.
Banyak trader terlalu terikat pada rasio kemenangan mereka—berapa kali menang dan kalah. Namun, CIS menegaskan bahwa yang paling penting bukanlah rasio kemenangan, melainkan hasil akhir akun. Sistem trading dengan rasio kemenangan 30% yang mampu menghasilkan keuntungan bersih melalui strategi profit kecil dan kerugian kecil jauh lebih baik daripada sistem dengan rasio kemenangan 60% yang akhirnya merugi karena kerugian besar saat kalah. Ini menyangkut dua konsep terpenting dalam trading: manajemen risiko dan manajemen keuntungan.
Tiga Larangan Utama Trader dan Peluang Pasar
Dalam pengalaman bertahun-tahun di pasar, Takashi Kotegawa dan CIS menyadari beberapa kesalahan fatal dalam trading.
Pertama, takhayul terhadap aturan masa lalu. Pasar adalah sistem yang sangat kompleks dan dinamis. Banyak “aturan emas” yang terbukti benar secara historis, tetapi begitu disebarluaskan dan diterapkan secara luas, biasanya cepat kehilangan efektivitas. Hal ini karena ketika cukup banyak orang mengikuti aturan yang sama, pasar akan melakukan penyesuaian sendiri untuk melawan tindakan seragam tersebut. Oleh karena itu, trader yang benar-benar unggul adalah mereka yang memiliki sudut pandang unik dan kemampuan menilai secara tajam, bukan sekadar mengikuti pola yang sudah ada.
Kedua, terlalu mengendalikan psikologi. Hasrat manusia untuk merasa pasti dan mengendalikan situasi sangat kuat, sehingga sering membuat trader menetapkan aturan yang terlalu ketat. Tetapi kenyataannya, pasar jauh lebih kompleks dari yang kita bayangkan, dan aturan yang terlalu kaku justru menjadi penghambat, bukan penunjang.
Terakhir dan yang paling sering diabaikan adalah: momen di mana trader besar mampu lahir biasanya muncul saat krisis besar. Ketika pasar saham global mengalami bencana besar, krisis ekonomi, atau titik balik pasar, sebagian besar orang akan terjebak dalam ketakutan ekstrem dan tidak tahu harus berbuat apa. Pada saat ini, pasar akan mengalami volatilitas terbesar—semakin besar volatilitasnya, semakin besar peluang tersembunyi di dalamnya. Mereka yang mampu tetap tenang di tengah kepanikan dan mengambil tindakan tegas akan menonjol dan mendapatkan keuntungan besar.
Karir trading Takashi Kotegawa membuktikan hal ini—dia mengumpulkan pengalaman dan keberanian saat berbalik melawan tren di masa bear market, yang kemudian menjadi fondasi keberhasilannya. Pengalaman ini mengajarkan bahwa risiko dan kerugian adalah bagian dari pasar, dan tujuan kita bukan menghindari semua kegagalan, tetapi mengendalikan kerugian individual melalui stop loss yang tepat, sehingga akhirnya bisa meraih keuntungan besar dari kerugian kecil.
Investasi memang berisiko, trading harus dilakukan dengan hati-hati. Ingatlah sistem strategi ganda Takashi Kotegawa dari 1 miliar hingga 80 miliar, tetapi yang lebih penting adalah memahami filosofi pasar di baliknya—mengikuti kekuatan pasar, bukan melawannya.