Dasar
Spot
Perdagangkan kripto dengan bebas
Perdagangan Margin
Perbesar keuntungan Anda dengan leverage
Konversi & Investasi Otomatis
0 Fees
Perdagangkan dalam ukuran berapa pun tanpa biaya dan tanpa slippage
ETF
Dapatkan eksposur ke posisi leverage dengan mudah
Perdagangan Pre-Market
Perdagangkan token baru sebelum listing
Futures
Akses ribuan kontrak perpetual
TradFi
Emas
Satu platform aset tradisional global
Opsi
Hot
Perdagangkan Opsi Vanilla ala Eropa
Akun Terpadu
Memaksimalkan efisiensi modal Anda
Perdagangan Demo
Pengantar tentang Perdagangan Futures
Bersiap untuk perdagangan futures Anda
Acara Futures
Gabung acara & dapatkan hadiah
Perdagangan Demo
Gunakan dana virtual untuk merasakan perdagangan bebas risiko
Peluncuran
CandyDrop
Koleksi permen untuk mendapatkan airdrop
Launchpool
Staking cepat, dapatkan token baru yang potensial
HODLer Airdrop
Pegang GT dan dapatkan airdrop besar secara gratis
Launchpad
Jadi yang pertama untuk proyek token besar berikutnya
Poin Alpha
Perdagangkan aset on-chain, raih airdrop
Poin Futures
Dapatkan poin futures dan klaim hadiah airdrop
Investasi
Simple Earn
Dapatkan bunga dengan token yang menganggur
Investasi Otomatis
Investasi otomatis secara teratur
Investasi Ganda
Keuntungan dari volatilitas pasar
Soft Staking
Dapatkan hadiah dengan staking fleksibel
Pinjaman Kripto
0 Fees
Menjaminkan satu kripto untuk meminjam kripto lainnya
Pusat Peminjaman
Hub Peminjaman Terpadu
Krisis minyak pada tahun 70an menciptakan kejayaan mobil bertenaga bahan bakar Jepang, jadi akankah 2026 menjadi titik balik bagi mobil listrik China?
Harga minyak melonjak, Selat Hormuz terblokir, sebuah guncangan energi sedang membentuk kembali pola pasar mobil global. Getaran sejarah jelas terasa: Krisis minyak 1973 memicu kebangkitan mobil Jepang, dan krisis tahun 2026 ini mungkin menjadi titik balik di mana kendaraan listrik China menguasai pasar dunia.
Brent crude naik ke $112 per barel pada perdagangan hari Rabu, mendekati puncak sejarah. Guncangan energi ini mempercepat peralihan konsumen ke kendaraan listrik, dengan logika yang sama seperti embargo minyak OPEC 1973 yang mengubah pasar mobil. Para analis menunjukkan bahwa di tengah pelonggaran tarif di Barat dan pasar di Australia, Kanada, serta Eropa yang mulai terbuka, merek kendaraan listrik China berpotensi memanfaatkan gejolak energi ini untuk ekspansi besar-besaran ke pasar global.
Bagi konsumen biasa, dampaknya sudah terasa nyata. Menurut analisis, jika harga minyak tetap di atas $100 per barel, keunggulan biaya listrik kendaraan listrik akan semakin jelas—biaya bulanan mengemudi mobil bensin di Eropa sekitar 140 euro, sedangkan kendaraan listrik hanya sekitar 65 euro. Selisih harga ini mendorong semakin banyak orang yang mempertimbangkan pembelian kendaraan listrik.
Krisis Hormuz—Pemicu Guncangan Pasokan
Pemicu langsung lonjakan harga minyak ini adalah konflik militer yang terus meningkat di kawasan Teluk. Sejak 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran, menargetkan pusat ekspor minyak utama Iran di Pulau Kharg dan fasilitas minyak-gas di Pars. Iran segera melakukan balasan dengan memblokir Selat Hormuz dan menyerang fasilitas minyak-gas di negara-negara Teluk sekitar.
Selat Hormuz mengangkut sekitar 20% volume perdagangan minyak dunia, dan penutupan ini menyebabkan gangguan pasokan yang digambarkan sebagai yang terparah dalam beberapa tahun terakhir, sebanding dengan krisis 1973. Harga Brent pada 19 Maret mencapai $112, mendekati puncak tertinggi dalam perdagangan tahun 2008 di $147,50.
Ketidakstabilan pasokan energi ini mulai menyebar ke bidang ekonomi yang lebih luas. Para analis menyatakan bahwa harga minyak yang tinggi akan menaikkan biaya seluruh rantai pasokan, dari makanan hingga pupuk, memperburuk tekanan inflasi, dan memaksa pemerintah di berbagai negara untuk meninjau kembali strategi keamanan energi mereka.
Kebangkitan Mobil Jepang—Pelajaran Berharga
Sejarah 1973 memberikan referensi yang paling meyakinkan.
Saat itu, embargo minyak Timur Tengah menyebabkan harga minyak melonjak empat kali lipat dalam waktu singkat, dan konsumen AS dengan cepat meninggalkan mobil besar Detroit, beralih ke mobil hemat bahan bakar dari Jepang seperti Honda Civic, Toyota Corolla, dan Nissan Datsun.
Data membuktikan perubahan ini sangat cepat dan mendalam: pangsa pasar mobil Jepang di AS melonjak dari sekitar 9% pada 1976 menjadi 21% pada 1980, dan secara keseluruhan, pangsa pasar mobil impor mencapai 28% di akhir 1980-an.
Sementara itu, tiga produsen mobil besar AS mengalami kerugian besar—General Motors menurun 34%, Ford bahkan 47%, dan terpaksa beralih ke model kompak secara terburu-buru, meskipun sudah kehilangan momentum awal.
Para analis berpendapat bahwa, dinamika tahun 2026 sangat mirip dengan 1973, bahkan mungkin lebih ekstrem—beda kali ini adalah penggantinya adalah kendaraan listrik, dan yang mengganggu adalah China.
Kendaraan Listrik China: Keunggulan Kompetitif Tanpa Bahan Bakar
Dalam gelombang guncangan energi ini, keunggulan kompetitif merek kendaraan listrik China semakin terlihat.
BYD, NIO, Zeekr, Geely, Chery dan lainnya, dengan biaya operasional nol bahan bakar, biaya siklus hidup yang lebih rendah, teknologi canggih, dan strategi harga agresif, menonjolkan keunggulan diferensiasi yang jelas di pasar yang harga minyaknya tinggi.
Data pasar menunjukkan sinyal perubahan permintaan yang nyata. Menurut Edmunds, pada awal Maret, proporsi pencarian kendaraan listrik oleh konsumen meningkat dari 20,7% menjadi 22,4%, mencapai puncak yang sama seperti saat lonjakan harga minyak pada 2022.
CarGurus dan beberapa analis industri juga menyatakan bahwa setiap kenaikan harga minyak yang berkelanjutan akan meningkatkan perhatian terhadap kendaraan hybrid dan listrik murni—model hybrid menjadi yang pertama menarik perhatian, dan kendaraan listrik murni akan mengalami lonjakan besar dalam 3 sampai 6 bulan setelah perhitungan ekonomi penggunaannya selesai.
Transformasi pasar domestik China juga memberikan gambaran ke depan. Saat ini, lebih dari 50% penjualan mobil baru di China adalah kendaraan listrik atau plug-in hybrid, dan permintaan minyak telah menurun selama dua tahun berturut-turut, menghindari dampak energi yang sedang dialami negara lain.
Data industri menunjukkan bahwa pada 2025, konsumsi pengganti minyak global dari kendaraan listrik akan mencapai 1,7 juta barel per hari, setara dengan 70% dari ekspor Iran, dan menghemat sekitar 600 miliar dolar AS dalam biaya energi impor setiap tahun.
Permintaan Puncak Lebih Awal: Perubahan Mendalam dalam Pola Energi
Dampak jangka panjang dari krisis ini mungkin melampaui pergeseran pangsa pasar jangka pendek.
Badan Energi Internasional (IEA) sebelumnya memprediksi bahwa permintaan minyak global akan mencapai puncaknya pada 2029, tetapi krisis Hormuz yang berkepanjangan bisa mempercepat waktu tersebut secara signifikan.
Di bawah tekanan keamanan energi, proses elektrifikasi armada kendaraan perusahaan di berbagai negara akan semakin cepat, dan ekspor kendaraan listrik China diharapkan mengalami lonjakan besar di pasar yang tarifnya mulai dilonggarkan. Rencana produksi massal baterai sodium-ion yang didukung China juga menyediakan alternatif selain lithium untuk transportasi dan penyimpanan energi skala besar, memperkuat posisi kompetitif industri energi baru China secara keseluruhan.
Para analis menyimpulkan bahwa, seperti halnya produsen mobil Jepang yang mengalahkan industri mobil AS secara historis selama krisis energi 1970-an, produsen kendaraan energi baru China berada di ambang momen bersejarah—guncangan energi ini bisa menjadi katalisator utama dalam mengubah pola pasar global mereka.