Waspada! Iran hanyalah sumbu api, pasar saham Korea yang jatuh tajam adalah "bom waktu" pasar global

robot
Pembuatan abstrak sedang berlangsung

Aplikasi JiTong Finance diketahui bahwa saat perhatian dunia tertuju pada situasi Iran, indeks harga saham gabungan Korea (KOSPI) sempat jatuh hingga 20% dalam dua hari perdagangan saja.

Sebagai indikator utama pasar saham Korea, fluktuasi tajam indeks ini memiliki makna besar bagi investor Amerika Serikat. Korea berada di pusat ekosistem perangkat keras kecerdasan buatan (AI), dan seiring posisi spekulatif di sektor ini yang semakin cepat dilikuidasi, gelombang guncangannya kemungkinan besar akan menyebar dengan cepat ke pasar Barat.

Lalu, apakah saat ini investor harus merasa khawatir, atau justru melihat ini sebagai peluang baik untuk membeli saham Korea dengan harga rendah?

Kronologi Kejadian

Gelombang penjualan kali ini dimulai dengan penurunan tajam lebih dari 7% pada satu hari di indeks KOSPI Korea, dan keesokan harinya tren negatif berlanjut dengan penurunan lagi sebesar 12%. Fluktuasi yang ekstrem ini memicu mekanisme penghentian perdagangan otomatis (熔断), sehingga perdagangan beberapa kali dihentikan sementara.

Data pun menunjukkan hal yang sama: selama satu tahun sebelumnya, harga saham Korea yang diwakili oleh ETF iShares MSCI Korea (EWY.US) telah berlipat ganda. Pendorong utama di balik kenaikan ini adalah perusahaan-perusahaan raksasa perangkat keras AI yang memiliki bobot besar dalam indeks tersebut, seperti Samsung Electronics dan SK Hynix. Dan, saham-saham yang memimpin penurunan kali ini juga merupakan perusahaan-perusahaan tersebut.

Lalu, apa yang memicu terjadinya gelombang penjualan ini? Ekonom perdagangan James Foord berpendapat bahwa ada dua faktor utama: risiko eksposur energi dan tekanan dari leverage.

Guncangan Energi

Korea memiliki alasan kuat untuk dianggap sebagai salah satu negara dengan teknologi paling maju di dunia. Namun, teknologi bukanlah segalanya, karena produksi energi domestik Korea hampir nol.

Faktanya, Korea adalah salah satu importir terbesar minyak dan gas alam cair (LNG) di dunia. Ini jelas merupakan kelemahan fatal dari struktur ekonomi negara tersebut. Industri Korea sangat sensitif terhadap fluktuasi harga pasar energi, dan dalam jangka pendek sulit menemukan cara efektif untuk melakukan lindung nilai (hedging).

Seiring meningkatnya konflik di Timur Tengah, harga LNG di Asia melonjak hingga mencapai 25,40 dolar AS per juta British thermal unit (MMBtu), dan dalam satu minggu saja harga ini berlipat ganda. Sementara itu, salah satu pemasok utama Korea, Qatar, menghentikan sebagian produksinya, memperburuk ketegangan pasokan.

Bagi negara yang ekonominya sangat bergantung pada ekspor barang jadi, ini adalah pukulan berat. Harga energi yang terus meningkat akan terus menggerogoti margin keuntungan perusahaan, bahkan berpotensi menyebabkan depresiasi mata uang lokal.

Situasi ini memaksa para investor untuk menilai kembali posisi mereka di Korea, dan kemungkinan besar menjadi titik awal dari gelombang penjualan ini.

Krisis Leverage

Namun, faktor yang benar-benar memicu situasi ini adalah leverage.

Foord menegaskan bahwa Korea memiliki budaya investasi ritel yang sangat agresif. Dalam beberapa tahun terakhir, saldo pembiayaan di pasar saham Korea meningkat pesat, dan pada awal tahun ini mencapai sekitar 32 triliun won Korea (setara 220 miliar dolar AS).

Didorong oleh kekuatan saham chip, pola perdagangan leverage ini pernah sangat berhasil, menarik lebih banyak dana leverage masuk dan membentuk siklus yang memperkuat diri sendiri.

Namun, ketika pasar dipenuhi oleh perdagangan leverage yang padat, setiap gejolak kecil pun dapat memicu penjualan besar-besaran. Inilah yang sedang terjadi saat ini.

Begitu pemberitahuan margin call pertama dikeluarkan, mekanisme forced liquidation pun langsung terpicu, dan gelombang penjualan menjadi tak terkendali.

Mengapa Ini Mengguncang Pasar AS

Sekilas, keruntuhan pasar saham Korea tampaknya hanya masalah regional. Namun, bagi mereka yang mengikuti perkembangan pasar selama dua tahun terakhir, efek spill-over-nya sudah sangat jelas.

Korea adalah bagian penting dari rantai pasok semikonduktor global, dan perusahaan-perusahaannya menyediakan komponen inti bagi hampir semua produsen infrastruktur AI utama.

Ini langsung mempengaruhi deretan perusahaan di pasar saham AS: produsen chip seperti Nvidia (NVDA.US) dan AMD (AMD.US) menjadi yang paling terdampak; perusahaan teknologi besar lain seperti Apple (AAPL.US) dan bahkan Microsoft (MSFT.US) pun tidak kebal, karena terganggunya rantai pasok dapat merugikan mereka.

Dapat dikatakan bahwa di era yang didominasi teknologi ini, sangat sulit menemukan perusahaan AS yang benar-benar tidak terpengaruh oleh gangguan rantai pasok Korea. Perusahaan Korea menopang banyak perusahaan teknologi raksasa AS, yang juga memiliki bobot besar dalam indeks S&P 500.

Selain itu, investor Korea memegang posisi besar di pasar saham global, terutama di saham teknologi AS. Jika mereka menghadapi tekanan margin call di dalam negeri, mereka mungkin terpaksa menjual aset luar negeri untuk mendapatkan likuiditas.

Ini mirip dengan tren penutupan posisi arbitrase Jepang yang mengguncang pasar AS tahun lalu. Faktanya, tren pergerakan pasar Korea, Jepang, dan AS saat ini menunjukkan korelasi yang sangat tinggi.

Energi adalah Inti Masalah

Secara makro, logika mendalam di balik kejadian ini bukanlah semata-mata tentang Korea, melainkan mengarah ke energi.

Foord menekankan bahwa negara industri seperti Korea sangat sensitif terhadap lonjakan harga energi. Jika harga minyak dan gas terus melonjak, akan terjadi serangkaian reaksi berantai: biaya produksi meningkat, mata uang melemah, margin keuntungan menyusut, dan akhirnya pasar saham akan melakukan lindung nilai secara sistematis.

Ini adalah skenario yang saat ini sedang berlangsung di pasar.

Apa yang Harus Diperhatikan Investor Selanjutnya

Arah akhir dari situasi ini sangat bergantung pada evolusi harga energi, yang pada gilirannya dipengaruhi oleh durasi konflik geopolitik.

Secara fundamental, logika bullish tetap kuat. Siklus perkembangan AI belum berakhir, dan permintaan chip penyimpanan tetap tinggi. Dengan proses pembersihan leverage dan spekulasi berlebihan yang mulai terkikis, Foord berpendapat bahwa saat ini adalah peluang yang baik untuk membeli saat harga rendah dan menunggu pembalikan pasar.

Namun, jika gelombang penjualan ini terus berlanjut, efek riaknya bisa jauh melampaui Seoul.

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
0/400
Tidak ada komentar
  • Sematkan