Dasar
Spot
Perdagangkan kripto dengan bebas
Perdagangan Margin
Perbesar keuntungan Anda dengan leverage
Konversi & Investasi Otomatis
0 Fees
Perdagangkan dalam ukuran berapa pun tanpa biaya dan tanpa slippage
ETF
Dapatkan eksposur ke posisi leverage dengan mudah
Perdagangan Pre-Market
Perdagangkan token baru sebelum listing
Futures
Akses ribuan kontrak perpetual
TradFi
Emas
Satu platform aset tradisional global
Opsi
Hot
Perdagangkan Opsi Vanilla ala Eropa
Akun Terpadu
Memaksimalkan efisiensi modal Anda
Perdagangan Demo
Futures Kickoff
Bersiap untuk perdagangan futures Anda
Acara Futures
Gabung acara & dapatkan hadiah
Perdagangan Demo
Gunakan dana virtual untuk merasakan perdagangan bebas risiko
Peluncuran
CandyDrop
Koleksi permen untuk mendapatkan airdrop
Launchpool
Staking cepat, dapatkan token baru yang potensial
HODLer Airdrop
Pegang GT dan dapatkan airdrop besar secara gratis
Launchpad
Jadi yang pertama untuk proyek token besar berikutnya
Poin Alpha
Perdagangkan aset on-chain, raih airdrop
Poin Futures
Dapatkan poin futures dan klaim hadiah airdrop
Investasi
Simple Earn
Dapatkan bunga dengan token yang menganggur
Investasi Otomatis
Investasi otomatis secara teratur
Investasi Ganda
Keuntungan dari volatilitas pasar
Soft Staking
Dapatkan hadiah dengan staking fleksibel
Pinjaman Kripto
0 Fees
Menjaminkan satu kripto untuk meminjam kripto lainnya
Pusat Peminjaman
Hub Peminjaman Terpadu
Equifax Meluncurkan Model Risiko Penyalahgunaan Kredit untuk Mendeteksi Penipuan Pihak Pertama
Sebagai salah satu dari tiga biro kredit utama di Amerika Serikat, Equifax memiliki wawasan luas tentang perilaku kredit konsumen. Dalam beberapa tahun terakhir, tren yang mencolok adalah meningkatnya first-party fraud, di mana konsumen secara sadar memanfaatkan kebijakan organisasi untuk keuntungan finansial.
First-party fraud, kadang disebut sebagai penipuan yang dilakukan oleh konsumen atau penipuan bersahabat, dapat mengambil berbagai bentuk. Salah satu contoh yang sering dikutip adalah pembeli yang membeli barang secara online dengan niat untuk mengembalikannya dan mendapatkan uang kembali.
Equifax memanfaatkan aksesnya ke data kredit untuk mengatasi dua bentuk first-party fraud lainnya yang umum terjadi: loan stacking dan credit washing. Loan stacking terjadi ketika konsumen mengajukan beberapa pinjaman secara cepat tanpa niat membayar kembali, sementara credit washing melibatkan upaya menghapus informasi negatif dari laporan kredit.
Untuk mendeteksi pola ini, Equifax menggunakan model prediktif Credit Abuse Risk. Tujuan utama model ini adalah mengidentifikasi perilaku aplikasi yang mencurigakan secara real-time, sehingga pemberi pinjaman dapat segera diberitahu dan merespons dengan tepat.
Penipuan yang Dapat Dibenarkan
Pertahanan yang lebih kuat semakin diperlukan, karena first-party fraud telah menjadi bentuk penipuan yang paling umum. Salah satu alasan pertumbuhannya adalah banyak pelanggan yang tidak menganggapnya sebagai penipuan yang sebenarnya. Data dari FICO menunjukkan bahwa hampir sepertiga responden percaya bahwa berbohong dalam aplikasi kredit dapat dibenarkan dalam kondisi tertentu atau bahkan merupakan praktik umum.
Pandangan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk anonimitas digital dan tekanan ekonomi yang meningkat. Dalam beberapa tahun terakhir, inflasi tinggi dan suku bunga yang tinggi telah meningkatkan stres keuangan, sementara utang kartu kredit mendorong pemberi pinjaman untuk memperketat standar penilaian kredit.
Akibatnya, beberapa konsumen merasa sah-sah saja memanipulasi profil kredit mereka atau menambah detail palsu dalam aplikasi pinjaman.
Ketika Pelaku Kejahatan adalah Pelanggan
Meningkatnya first-party fraud menciptakan paradigma baru bagi industri jasa keuangan, karena ancaman semakin berasal dari dalam basis pelanggan daripada dari penyerang eksternal. Ketika pelaku kejahatan adalah pelanggan, banyak organisasi kekurangan alat dan proses yang diperlukan untuk mengidentifikasi dan mengurangi ancaman tersebut.
Lebih membingungkan lagi adalah era perdagangan agenik yang sedang berkembang. Seiring AI agen semakin banyak melakukan pembelian atas nama konsumen, organisasi akan menghadapi berbagai pertanyaan baru tentang tanggung jawab dalam pengembalian barang, akuntabilitas, dan tanggung jawab hukum dalam kasus penipuan—baik first-party maupun lainnya.