Selama berabad-abad, cheetah berlari cepat melintasi padang rumput luas di India dan kata “cheetah” sendiri berasal dari Sanskerta. Ia menghiasi istana kerajaan, tercatat dalam catatan berburu, dan melambangkan kekuasaan serta prestise.
Dan kemudian, dalam beberapa dekade, ia menghilang.
Hilangnya cheetah bukanlah kejadian mendadak, melainkan keruntuhan perlahan dan diam-diam yang didorong oleh perburuan tanpa henti, habitat yang menyusut, dan ketidakpedulian administratif. Kepunahan ini lebih dari sekadar kehilangan spesies; itu adalah penghapusan sebuah bab hidup dari warisan ekologis India.
Sekarang, saat cheetah berlari lagi di Kuno, negara ini berada di persimpangan bersejarah, berusaha tidak hanya untuk pemulihan, tetapi juga penebusan.
Bagaimana India Kehilangan Cheetah-nya
Dulu, cheetah berkeliaran luas di hutan terbuka dan padang rumput kering India, berkembang bersama mangsa seperti blackbuck. Catatan sejarah menunjukkan betapa luasnya eksploitasi terhadap spesies ini, terutama selama era Mughal. Kaisar Akbar dilaporkan memelihara lebih dari seribu cheetah di koleksi hewannya untuk berburu, sebagai simbol kekaisaran.
Namun, kekaguman itu memiliki harga.
Ikatan yang sama yang mengangkat cheetah menjadi ikon kerajaan juga menentukan nasibnya. Pada abad ke-18 dan ke-19, perburuan berlebihan, fragmentasi habitat, dan penurunan mangsa menyebabkan penurunan populasi yang drastis. Sebuah studi yang dikutip BBC dan disebutkan dalam Firstpost menyatakan bahwa antara tahun 1799 dan 1968, hanya sekitar 230 cheetah yang tersisa di habitat liar India.
Ketika padang rumput secara agresif diubah menjadi lahan pertanian, ekosistem yang menopang hewan darat tercepat di dunia itu runtuh di bawah tekanan pembangunan.
Raja yang Menembak Cheetah Terakhir India
Cheetah terakhir yang terdokumentasi di India — tiga jantan dewasa — meninggal dunia pada tahun 1947. Mereka ditembak pada malam hari oleh Maharaja Ramanuj Pratap Singh Deo dari Koriya, di wilayah yang kini disebut Chhattisgarh.
Sebuah foto yang beredar luas menunjukkan sang raja berpose dengan hewan-hewan yang mati, sebuah gambar yang kemudian menghantui para konservasionis dan melambangkan kehilangan yang tak bisa dikembalikan. Sekretaris pribadinya mengirimkan foto tersebut ke Journal of the Bombay Natural History Society pada Januari 1948, menandai catatan terakhir yang dikonfirmasi tentang cheetah Asia di India.
Cheetah memiliki bottleneck genetik yang menyebabkan tingkat kematian anak cheetah yang tinggi di alam liar… cheetah juga tidak mampu berkembang biak di penangkaran. Tiga cheetah Asia terakhir di India diburu dan ditembak oleh Maharaja Ramanuj Pratap Singh Deo dari Koriya (Chhattisgarh saat ini) dalam twitter/FzxnPMAvWJ
Ashwini The Diva (@Ashwini96988554) 29 Maret 2023
Hanya lima tahun kemudian, pada tahun 1952, Pemerintah India secara resmi menyatakan cheetah punah.
Seekor predator kuno telah dihapus dari tanah kelahirannya.
Upaya Membalikkan Kepunahan
Keinginan India untuk mengembalikan cheetah dimulai hampir segera. Diskusi tentang reintroduksi dimulai pada tahun 1950-an. Pada 1970-an, negosiasi dilakukan dengan Iran untuk menukar singa Asia dengan cheetah Asia, tetapi kekacauan politik dan keadaan darurat menggagalkan rencana tersebut.
Upaya yang diperbarui pada 2009 runtuh ketika Iran menolak melepas populasi yang sangat terancam punah tersebut.
Pada saat itu, jumlah cheetah Iran telah menurun begitu drastis sehingga translokasi hampir tidak mungkin dilakukan. Para konservasionis beralih ke pengenalan cheetah Afrika Tenggara, yang secara genetik serupa dan tersedia dalam jumlah yang lebih stabil. Perdebatan hukum menghambat kemajuan hingga Mahkamah Agung mengizinkan reintroduksi percobaan pada 2020.
Kembalinya: Kuno dan Proyek Cheetah
Pada 17 September 2022, sejarah diubah.
Delapan cheetah Afrika, lima betina dan tiga jantan, tiba dari Namibia dalam translokasi predator karnivora antar benua pertama di dunia. Mereka ditempatkan di kandang karantina di Taman Nasional Kuno, Madhya Pradesh, sebuah lanskap yang dipilih karena mosaik padang rumput-hutan dan populasi mangsa.
Begitulah dimulainya Proyek Cheetah — eksperimen ekologis berani India untuk mengembalikan spesies ke habitat aslinya.
Dalam bulan-bulan berikutnya, lebih banyak cheetah datang dari Afrika Selatan sebagai bagian dari visi jangka panjang untuk membangun populasi pendiri sekitar 50 individu. Untuk pertama kalinya dalam 70 tahun, siluet cheetah kembali melintas di tanah India.
Harapan, Kemunduran, dan Pelajaran Berharga
Perjalanan ini menghadirkan kemenangan sekaligus tantangan. Ada tanda-tanda yang menggembirakan — kawin alami, kelahiran anak, dan momen yang menunjukkan adaptasi.
Namun, jalannya tidak tanpa kehilangan. Beberapa cheetah meninggal karena konflik wilayah, stres, dan komplikasi lain. Kemunduran ini memicu perdebatan kritis tentang kapasitas dukung Kuno dan apakah lanskap India benar-benar siap untuk kebangkitan sebesar ini.
Namun, di tengah ketidakpastian, melihat cheetah berlari di Kuno membawa makna mendalam.
Ini adalah pengingat bahwa kepunahan tidak selalu harus menjadi kata terakhir. Bahwa sebuah bangsa dapat menghadapi masa lalunya, bahkan bab yang paling tidak nyaman sekalipun, dan berusaha membangun kembali apa yang hilang.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
India Tak Terungkap: Seorang Raja yang Menembak Cheetah Terakhir India Pada 1947 - Kemudian Kembalinya Mereka ke Kuno
(MENAFN- AsiaNet News)
Selama berabad-abad, cheetah berlari cepat melintasi padang rumput luas di India dan kata “cheetah” sendiri berasal dari Sanskerta. Ia menghiasi istana kerajaan, tercatat dalam catatan berburu, dan melambangkan kekuasaan serta prestise.
Dan kemudian, dalam beberapa dekade, ia menghilang.
Hilangnya cheetah bukanlah kejadian mendadak, melainkan keruntuhan perlahan dan diam-diam yang didorong oleh perburuan tanpa henti, habitat yang menyusut, dan ketidakpedulian administratif. Kepunahan ini lebih dari sekadar kehilangan spesies; itu adalah penghapusan sebuah bab hidup dari warisan ekologis India.
Sekarang, saat cheetah berlari lagi di Kuno, negara ini berada di persimpangan bersejarah, berusaha tidak hanya untuk pemulihan, tetapi juga penebusan.
Bagaimana India Kehilangan Cheetah-nya
Dulu, cheetah berkeliaran luas di hutan terbuka dan padang rumput kering India, berkembang bersama mangsa seperti blackbuck. Catatan sejarah menunjukkan betapa luasnya eksploitasi terhadap spesies ini, terutama selama era Mughal. Kaisar Akbar dilaporkan memelihara lebih dari seribu cheetah di koleksi hewannya untuk berburu, sebagai simbol kekaisaran.
Namun, kekaguman itu memiliki harga.
Ikatan yang sama yang mengangkat cheetah menjadi ikon kerajaan juga menentukan nasibnya. Pada abad ke-18 dan ke-19, perburuan berlebihan, fragmentasi habitat, dan penurunan mangsa menyebabkan penurunan populasi yang drastis. Sebuah studi yang dikutip BBC dan disebutkan dalam Firstpost menyatakan bahwa antara tahun 1799 dan 1968, hanya sekitar 230 cheetah yang tersisa di habitat liar India.
Ketika padang rumput secara agresif diubah menjadi lahan pertanian, ekosistem yang menopang hewan darat tercepat di dunia itu runtuh di bawah tekanan pembangunan.
Raja yang Menembak Cheetah Terakhir India
Cheetah terakhir yang terdokumentasi di India — tiga jantan dewasa — meninggal dunia pada tahun 1947. Mereka ditembak pada malam hari oleh Maharaja Ramanuj Pratap Singh Deo dari Koriya, di wilayah yang kini disebut Chhattisgarh.
Sebuah foto yang beredar luas menunjukkan sang raja berpose dengan hewan-hewan yang mati, sebuah gambar yang kemudian menghantui para konservasionis dan melambangkan kehilangan yang tak bisa dikembalikan. Sekretaris pribadinya mengirimkan foto tersebut ke Journal of the Bombay Natural History Society pada Januari 1948, menandai catatan terakhir yang dikonfirmasi tentang cheetah Asia di India.
Cheetah memiliki bottleneck genetik yang menyebabkan tingkat kematian anak cheetah yang tinggi di alam liar… cheetah juga tidak mampu berkembang biak di penangkaran. Tiga cheetah Asia terakhir di India diburu dan ditembak oleh Maharaja Ramanuj Pratap Singh Deo dari Koriya (Chhattisgarh saat ini) dalam twitter/FzxnPMAvWJ
Hanya lima tahun kemudian, pada tahun 1952, Pemerintah India secara resmi menyatakan cheetah punah.
Seekor predator kuno telah dihapus dari tanah kelahirannya.
Upaya Membalikkan Kepunahan
Keinginan India untuk mengembalikan cheetah dimulai hampir segera. Diskusi tentang reintroduksi dimulai pada tahun 1950-an. Pada 1970-an, negosiasi dilakukan dengan Iran untuk menukar singa Asia dengan cheetah Asia, tetapi kekacauan politik dan keadaan darurat menggagalkan rencana tersebut.
Upaya yang diperbarui pada 2009 runtuh ketika Iran menolak melepas populasi yang sangat terancam punah tersebut.
Pada saat itu, jumlah cheetah Iran telah menurun begitu drastis sehingga translokasi hampir tidak mungkin dilakukan. Para konservasionis beralih ke pengenalan cheetah Afrika Tenggara, yang secara genetik serupa dan tersedia dalam jumlah yang lebih stabil. Perdebatan hukum menghambat kemajuan hingga Mahkamah Agung mengizinkan reintroduksi percobaan pada 2020.
Kembalinya: Kuno dan Proyek Cheetah
Pada 17 September 2022, sejarah diubah.
Delapan cheetah Afrika, lima betina dan tiga jantan, tiba dari Namibia dalam translokasi predator karnivora antar benua pertama di dunia. Mereka ditempatkan di kandang karantina di Taman Nasional Kuno, Madhya Pradesh, sebuah lanskap yang dipilih karena mosaik padang rumput-hutan dan populasi mangsa.
Begitulah dimulainya Proyek Cheetah — eksperimen ekologis berani India untuk mengembalikan spesies ke habitat aslinya.
Dalam bulan-bulan berikutnya, lebih banyak cheetah datang dari Afrika Selatan sebagai bagian dari visi jangka panjang untuk membangun populasi pendiri sekitar 50 individu. Untuk pertama kalinya dalam 70 tahun, siluet cheetah kembali melintas di tanah India.
Harapan, Kemunduran, dan Pelajaran Berharga
Perjalanan ini menghadirkan kemenangan sekaligus tantangan. Ada tanda-tanda yang menggembirakan — kawin alami, kelahiran anak, dan momen yang menunjukkan adaptasi.
Namun, jalannya tidak tanpa kehilangan. Beberapa cheetah meninggal karena konflik wilayah, stres, dan komplikasi lain. Kemunduran ini memicu perdebatan kritis tentang kapasitas dukung Kuno dan apakah lanskap India benar-benar siap untuk kebangkitan sebesar ini.
Namun, di tengah ketidakpastian, melihat cheetah berlari di Kuno membawa makna mendalam.
Ini adalah pengingat bahwa kepunahan tidak selalu harus menjadi kata terakhir. Bahwa sebuah bangsa dapat menghadapi masa lalunya, bahkan bab yang paling tidak nyaman sekalipun, dan berusaha membangun kembali apa yang hilang.