Dewan Perdamaian, yang didirikan di bawah kepemimpinan Presiden AS Donald Trump, sedang membahas ide stablecoin yang dipatok dolar AS untuk menghidupkan kembali ekonomi pasca-perang di Jalur Gaza. Menurut laporan eksklusif Financial Times tanggal 23 Februari 2026, inisiatif ini masih dalam tahap awal dan bertujuan untuk memperluas pembayaran digital serta mengurangi kekurangan uang tunai di Gaza.
Setelah lebih dari dua tahun konflik di Gaza, infrastruktur perbankan tradisional sebagian besar telah dihancurkan. Peredaran uang tunai fisik (terutama shekel Israel) telah berkurang secara signifikan, menyulitkan transaksi komersial harian. Usulan stablecoin ini diposisikan sebagai alat untuk memungkinkan penduduk Gaza melakukan pembayaran digital. Menurut salah satu pejabat: "Ini bukan 'Gaza Coin' atau mata uang Palestina baru; ini akan menjadi alat untuk memungkinkan rakyat Gaza melakukan transaksi digital."
Proyek ini dipimpin oleh pengusaha teknologi Israel dan mantan tentara cadangan Liran Tancman, yang memberikan konsultasi gratis kepada Dewan Perdamaian Trump. Negara-negara Teluk dan pakar mata uang digital Palestina juga diharapkan berkontribusi dalam proses ini. Meskipun kerangka regulasi dan aturan akses untuk stablecoin belum jelas, disebutkan bahwa lembaga-lembaga terkait Dewan Perdamaian (seperti NCAG) akan membuat keputusan mengenai hal ini.
Salah satu tujuan utamanya adalah memutus aliran uang Hamas. Seorang sumber menyatakan, "Untuk membebaskan Gaza dari uang tunai dan menghilangkan aliran pendapatan Hamas." Pendekatan ini menimbulkan kekhawatiran di beberapa kalangan bahwa ekonomi Gaza bisa berada di bawah kendali AS-Israel yang lebih besar. Kritikus berpendapat bahwa stablecoin dapat melemahkan hubungan ekonomi antara Gaza dan Tepi Barat dan, dalam jangka panjang, melewati Otoritas Palestina.
Saat ini, proyek ini masih dalam tahap awal; rincian, metode implementasi, atau infrastruktur blockchain yang akan digunakan belum jelas. Pemerintahan Trump sebelumnya telah mengemukakan ide inovatif seperti "kota pintar berbasis AI" dan token digital untuk rekonstruksi Gaza.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa cryptocurrency dapat memainkan peran yang semakin penting dalam proses rekonstruksi pasca-konflik. Belum ada pernyataan resmi yang dikeluarkan mengenai hal ini, tetapi lebih banyak detail diharapkan akan muncul dalam beberapa minggu mendatang.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
#TrumpGroupMullsGazaStablecoin
Dewan Perdamaian, yang didirikan di bawah kepemimpinan Presiden AS Donald Trump, sedang membahas ide stablecoin yang dipatok dolar AS untuk menghidupkan kembali ekonomi pasca-perang di Jalur Gaza. Menurut laporan eksklusif Financial Times tanggal 23 Februari 2026, inisiatif ini masih dalam tahap awal dan bertujuan untuk memperluas pembayaran digital serta mengurangi kekurangan uang tunai di Gaza.
Setelah lebih dari dua tahun konflik di Gaza, infrastruktur perbankan tradisional sebagian besar telah dihancurkan. Peredaran uang tunai fisik (terutama shekel Israel) telah berkurang secara signifikan, menyulitkan transaksi komersial harian. Usulan stablecoin ini diposisikan sebagai alat untuk memungkinkan penduduk Gaza melakukan pembayaran digital. Menurut salah satu pejabat: "Ini bukan 'Gaza Coin' atau mata uang Palestina baru; ini akan menjadi alat untuk memungkinkan rakyat Gaza melakukan transaksi digital."
Proyek ini dipimpin oleh pengusaha teknologi Israel dan mantan tentara cadangan Liran Tancman, yang memberikan konsultasi gratis kepada Dewan Perdamaian Trump. Negara-negara Teluk dan pakar mata uang digital Palestina juga diharapkan berkontribusi dalam proses ini. Meskipun kerangka regulasi dan aturan akses untuk stablecoin belum jelas, disebutkan bahwa lembaga-lembaga terkait Dewan Perdamaian (seperti NCAG) akan membuat keputusan mengenai hal ini.
Salah satu tujuan utamanya adalah memutus aliran uang Hamas. Seorang sumber menyatakan, "Untuk membebaskan Gaza dari uang tunai dan menghilangkan aliran pendapatan Hamas." Pendekatan ini menimbulkan kekhawatiran di beberapa kalangan bahwa ekonomi Gaza bisa berada di bawah kendali AS-Israel yang lebih besar. Kritikus berpendapat bahwa stablecoin dapat melemahkan hubungan ekonomi antara Gaza dan Tepi Barat dan, dalam jangka panjang, melewati Otoritas Palestina.
Saat ini, proyek ini masih dalam tahap awal; rincian, metode implementasi, atau infrastruktur blockchain yang akan digunakan belum jelas. Pemerintahan Trump sebelumnya telah mengemukakan ide inovatif seperti "kota pintar berbasis AI" dan token digital untuk rekonstruksi Gaza.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa cryptocurrency dapat memainkan peran yang semakin penting dalam proses rekonstruksi pasca-konflik. Belum ada pernyataan resmi yang dikeluarkan mengenai hal ini, tetapi lebih banyak detail diharapkan akan muncul dalam beberapa minggu mendatang.