Dalam dua belas bulan terakhir, Palantir Technologies (NASDAQ: PLTR) dan Sandisk (NASDAQ: SNDK) telah memberikan pengembalian yang mencengangkan—masing-masing naik 128% dan 1.280%. Namun di balik kenaikan yang mengesankan ini tersembunyi sebuah kenyataan yang mengkhawatirkan: beberapa analis Wall Street kini percaya bahwa saham AI yang sedang melambung tinggi ini diperdagangkan dengan valuasi yang tidak mencerminkan risiko di depan. Dengan Jefferies menetapkan target downside sebesar 57% untuk Palantir dan J.P. Morgan memproyeksikan penurunan sebesar 53% untuk Sandisk, para investor yang memegang posisi ini harus memperhatikan.
Masalah utama bukanlah apakah perusahaan-perusahaan ini memiliki teknologi yang kuat atau posisi pasar yang kokoh. Melainkan, pasar telah menilai kesempurnaan—dan setiap penyimpangan dari skenario tersebut bisa memicu koreksi yang signifikan.
Palantir Technologies: Platform Hebat yang Tersembunyi di Balik Bubble Valuasi
Palantir telah mendapatkan pengakuan sebagai pemimpin dalam platform pengambilan keputusan berbasis AI. Perangkat lunaknya menonjol berkat kerangka kerja berbasis ontologi, yang memungkinkan klien untuk menanamkan kemampuan AI generatif langsung ke dalam alur analitik mereka. Keunggulan teknis ini tidak diragukan lagi.
Namun di sinilah masalahnya. Palantir diperdagangkan dengan rasio penjualan yang mencengangkan, yaitu 101 kali—menjadikannya salah satu perusahaan perangkat lunak termahal di pasar. Sebagai perbandingan, AppLovin, saham kedua termahal di S&P 500, diperdagangkan dengan rasio 32 kali penjualan. Untuk membenarkan premi ini, Palantir harus terus-menerus menumbuhkan pendapatan secara luar biasa tanpa henti, yang tidak realistis.
Ya, analis Morgan Stanley, Sanjit Singh, baru-baru ini memuji sembilan kuartal berturut-turut pertumbuhan pendapatan Palantir dan menyoroti kepemimpinannya dalam profitabilitas di bidang perangkat lunak. Tapi bahkan pujian yang bersinar ini tidak mengubah matematika. Dengan rasio 101 kali penjualan, saham ini menawarkan margin keamanan yang terbatas. Brent Thill dari Jefferies menetapkan target harga $70 per saham, yang berarti downside 57% dari level saat ini—peringatan keras bahwa valuasi ini telah terlepas dari fundamentalnya.
Bagi investor yang mempertimbangkan apakah Palantir layak dimasukkan ke dalam portofolio mereka, jawabannya semakin “tidak.” Daftar saham yang harus dijual sebaiknya mencakup Palantir, terutama bagi mereka yang mengakumulasi saham pada harga hari ini.
Sandisk: Mendapat Manfaat Hari Ini, Rentan di Masa Depan
Sandisk menyajikan gambaran yang berbeda namun sama-sama mengkhawatirkan. Perusahaan ini adalah pemasok NAND flash terbesar kelima dan langsung mendapatkan manfaat dari kekurangan chip memori yang didorong oleh AI. Dengan hyperscalers yang menguji produknya dan pelanggan besar lainnya yang merencanakan pengujian pada 2026, permintaan tampaknya cukup kuat. Manajemen memproyeksikan kekurangan pasokan ini akan bertahan hingga tahun ini, mendorong pertumbuhan laba tiga digit.
Masalahnya? Chip memori secara inheren bersifat siklikal. Trajektori pertumbuhan Sandisk yang mengesankan dalam jangka pendek pasti akan digantikan oleh kelebihan pasokan—dan saat itu terjadi, harga memori flash akan ambruk. Namun para investor saat ini mematok Sandisk dengan rasio harga terhadap laba sebesar 205 kali, dengan asumsi kekurangan ini tidak pernah berakhir. Itu adalah asumsi yang berbahaya.
Harlan Sur dari J.P. Morgan baru-baru ini mengeluarkan target harga $235 per saham, yang berarti risiko downside 53%. Ini bukan pesimisme semata; ini pengakuan bahwa valuasi saat ini mengabaikan sifat siklikal dari pasar chip memori. Setelah pasokan mengejar permintaan, cerita pertumbuhan laba akan menguap, dan saham ini kemungkinan akan mengalami koreksi tajam.
Seperti Palantir, Sandisk termasuk dalam daftar saham yang harus dijual. Angin segar jangka pendek memang nyata, tetapi juga bersifat sementara.
Kesimpulan: Ketika Valuasi Melebihi Realitas
Baik Palantir maupun Sandisk menunjukkan mengapa mengejar cerita AI yang sedang panas bisa berbiaya mahal. Meskipun bisnis inti mereka layak dihormati, pasar telah menilai skenario pertumbuhan yang mengasumsikan tidak ada kekecewaan. Sejarah menunjukkan ini tidak pernah berakhir dengan baik.
Para investor yang memegang saham ini sebaiknya mempertimbangkan untuk mengurangi posisi mereka. Mereka yang berencana masuk sebaiknya menunggu valuasi yang lebih menarik. Sementara itu, tindakan paling bijak adalah menambahkan saham ini ke daftar jual dalam tinjauan portofolio Anda dan menilai kembali apakah profil risiko-imbalan mereka sesuai dengan tujuan investasi Anda.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Kapan Menjual Saham AI Favorit Ini: Analis Wall Street Identifikasi Dua Saham AI untuk Dijual Sebelum Koreksi Besar Melanda
Dalam dua belas bulan terakhir, Palantir Technologies (NASDAQ: PLTR) dan Sandisk (NASDAQ: SNDK) telah memberikan pengembalian yang mencengangkan—masing-masing naik 128% dan 1.280%. Namun di balik kenaikan yang mengesankan ini tersembunyi sebuah kenyataan yang mengkhawatirkan: beberapa analis Wall Street kini percaya bahwa saham AI yang sedang melambung tinggi ini diperdagangkan dengan valuasi yang tidak mencerminkan risiko di depan. Dengan Jefferies menetapkan target downside sebesar 57% untuk Palantir dan J.P. Morgan memproyeksikan penurunan sebesar 53% untuk Sandisk, para investor yang memegang posisi ini harus memperhatikan.
Masalah utama bukanlah apakah perusahaan-perusahaan ini memiliki teknologi yang kuat atau posisi pasar yang kokoh. Melainkan, pasar telah menilai kesempurnaan—dan setiap penyimpangan dari skenario tersebut bisa memicu koreksi yang signifikan.
Palantir Technologies: Platform Hebat yang Tersembunyi di Balik Bubble Valuasi
Palantir telah mendapatkan pengakuan sebagai pemimpin dalam platform pengambilan keputusan berbasis AI. Perangkat lunaknya menonjol berkat kerangka kerja berbasis ontologi, yang memungkinkan klien untuk menanamkan kemampuan AI generatif langsung ke dalam alur analitik mereka. Keunggulan teknis ini tidak diragukan lagi.
Namun di sinilah masalahnya. Palantir diperdagangkan dengan rasio penjualan yang mencengangkan, yaitu 101 kali—menjadikannya salah satu perusahaan perangkat lunak termahal di pasar. Sebagai perbandingan, AppLovin, saham kedua termahal di S&P 500, diperdagangkan dengan rasio 32 kali penjualan. Untuk membenarkan premi ini, Palantir harus terus-menerus menumbuhkan pendapatan secara luar biasa tanpa henti, yang tidak realistis.
Ya, analis Morgan Stanley, Sanjit Singh, baru-baru ini memuji sembilan kuartal berturut-turut pertumbuhan pendapatan Palantir dan menyoroti kepemimpinannya dalam profitabilitas di bidang perangkat lunak. Tapi bahkan pujian yang bersinar ini tidak mengubah matematika. Dengan rasio 101 kali penjualan, saham ini menawarkan margin keamanan yang terbatas. Brent Thill dari Jefferies menetapkan target harga $70 per saham, yang berarti downside 57% dari level saat ini—peringatan keras bahwa valuasi ini telah terlepas dari fundamentalnya.
Bagi investor yang mempertimbangkan apakah Palantir layak dimasukkan ke dalam portofolio mereka, jawabannya semakin “tidak.” Daftar saham yang harus dijual sebaiknya mencakup Palantir, terutama bagi mereka yang mengakumulasi saham pada harga hari ini.
Sandisk: Mendapat Manfaat Hari Ini, Rentan di Masa Depan
Sandisk menyajikan gambaran yang berbeda namun sama-sama mengkhawatirkan. Perusahaan ini adalah pemasok NAND flash terbesar kelima dan langsung mendapatkan manfaat dari kekurangan chip memori yang didorong oleh AI. Dengan hyperscalers yang menguji produknya dan pelanggan besar lainnya yang merencanakan pengujian pada 2026, permintaan tampaknya cukup kuat. Manajemen memproyeksikan kekurangan pasokan ini akan bertahan hingga tahun ini, mendorong pertumbuhan laba tiga digit.
Masalahnya? Chip memori secara inheren bersifat siklikal. Trajektori pertumbuhan Sandisk yang mengesankan dalam jangka pendek pasti akan digantikan oleh kelebihan pasokan—dan saat itu terjadi, harga memori flash akan ambruk. Namun para investor saat ini mematok Sandisk dengan rasio harga terhadap laba sebesar 205 kali, dengan asumsi kekurangan ini tidak pernah berakhir. Itu adalah asumsi yang berbahaya.
Harlan Sur dari J.P. Morgan baru-baru ini mengeluarkan target harga $235 per saham, yang berarti risiko downside 53%. Ini bukan pesimisme semata; ini pengakuan bahwa valuasi saat ini mengabaikan sifat siklikal dari pasar chip memori. Setelah pasokan mengejar permintaan, cerita pertumbuhan laba akan menguap, dan saham ini kemungkinan akan mengalami koreksi tajam.
Seperti Palantir, Sandisk termasuk dalam daftar saham yang harus dijual. Angin segar jangka pendek memang nyata, tetapi juga bersifat sementara.
Kesimpulan: Ketika Valuasi Melebihi Realitas
Baik Palantir maupun Sandisk menunjukkan mengapa mengejar cerita AI yang sedang panas bisa berbiaya mahal. Meskipun bisnis inti mereka layak dihormati, pasar telah menilai skenario pertumbuhan yang mengasumsikan tidak ada kekecewaan. Sejarah menunjukkan ini tidak pernah berakhir dengan baik.
Para investor yang memegang saham ini sebaiknya mempertimbangkan untuk mengurangi posisi mereka. Mereka yang berencana masuk sebaiknya menunggu valuasi yang lebih menarik. Sementara itu, tindakan paling bijak adalah menambahkan saham ini ke daftar jual dalam tinjauan portofolio Anda dan menilai kembali apakah profil risiko-imbalan mereka sesuai dengan tujuan investasi Anda.