Dasar
Spot
Perdagangkan kripto dengan bebas
Perdagangan Margin
Perbesar keuntungan Anda dengan leverage
Konversi & Investasi Otomatis
0 Fees
Perdagangkan dalam ukuran berapa pun tanpa biaya dan tanpa slippage
ETF
Dapatkan eksposur ke posisi leverage dengan mudah
Perdagangan Pre-Market
Perdagangkan token baru sebelum listing
Futures
Ratusan kontrak diselesaikan dalam USDT atau BTC
TradFi
Emas
Satu platform aset tradisional global
Opsi
Hot
Perdagangkan Opsi Vanilla ala Eropa
Akun Terpadu
Memaksimalkan efisiensi modal Anda
Perdagangan Demo
Futures Kickoff
Bersiap untuk perdagangan futures Anda
Acara Futures
Gabung acara & dapatkan hadiah
Perdagangan Demo
Gunakan dana virtual untuk merasakan perdagangan bebas risiko
Peluncuran
CandyDrop
Koleksi permen untuk mendapatkan airdrop
Launchpool
Staking cepat, dapatkan token baru yang potensial
HODLer Airdrop
Pegang GT dan dapatkan airdrop besar secara gratis
Launchpad
Jadi yang pertama untuk proyek token besar berikutnya
Poin Alpha
Perdagangkan aset on-chain, raih airdrop
Poin Futures
Dapatkan poin futures dan klaim hadiah airdrop
Investasi
Simple Earn
Dapatkan bunga dengan token yang menganggur
Investasi Otomatis
Investasi otomatis secara teratur
Investasi Ganda
Keuntungan dari volatilitas pasar
Soft Staking
Dapatkan hadiah dengan staking fleksibel
Pinjaman Kripto
0 Fees
Menjaminkan satu kripto untuk meminjam kripto lainnya
Pusat Peminjaman
Hub Peminjaman Terpadu
Banyak orang tidak tahu, sistem dolar yang kita gunakan hari ini sebenarnya berakar pada tahun 1944. Pada tahun itu, 44 negara berkumpul di Bretton Woods, Amerika Serikat, untuk menyusun sebuah perjanjian keuangan yang secara drastis mengubah pola kekayaan dunia pasca perang. Cerita ini agak rumit, tetapi poin utamanya sebenarnya sangat sederhana—bagaimana sebuah negara dapat merancang sistem keuangan sehingga kekayaan global bisa masuk ke kantongnya sendiri.
Lihat saja situasi saat akhir Perang Dunia II untuk memahaminya. Eropa dan Asia hancur lebur, membutuhkan dana besar untuk membangun kembali. Tapi Amerika Serikat? Dalam kondisi aman dan tenteram, malah mengeruk cadangan emas global sebesar 75% melalui perdagangan senjata. Negara lain miskin melolong, sementara gudang emas Amerika penuh—itulah yang disebut "posisi keuangan" atau "status keuangan".
Saat itu, semua negara sangat cemas. Setelah perang, mereka harus membangun kembali, dan perdagangan harus berjalan. Tapi semua mata uang keras ada di tangan Amerika Serikat. Amerika pun memanfaatkan kesempatan ini dengan mengeluarkan langkah besar: "Dengarkan baik-baik, saya akan menjamin dengan dolar, 35 dolar bisa selalu ditukar dengan 1 ons emas, dan mata uang negara lain akan dikaitkan dengan dolar. Dengan begitu, kalian punya alat transaksi yang stabil." Kedengarannya sangat perhatian, kan? Tapi sebenarnya, langkah ini menjadikan dolar sebagai perantara utama dalam transaksi global, sementara mata uang lain harus mengikuti.
Inti dari perjanjian Bretton Woods hanya tiga poin utama. Pertama, dolar dan emas diikat, 35 dolar setara dengan 1 ons emas, sehingga dolar berubah menjadi "emas kertas". Kedua, nilai tukar mata uang negara lain terhadap dolar ditetapkan tetap, seperti poundsterling dan franc harus stabil dan tidak boleh berfluktuasi sembarangan. Ketiga, didirikan IMF dan Bank Dunia—dikatakan untuk membantu negara miskin berkembang, padahal sebenarnya ini adalah sistem pengawasan keuangan global yang dipasang Amerika Serikat.
Sistem ini secara tampak menjaga ketertiban keuangan dan memungkinkan perdagangan pasca perang berjalan lancar. Tapi secara esensial? Amerika melalui janji konversi emas dan pengendalian arus mata uang global, membangun sebuah kekaisaran keuangan yang berpusat pada dirinya sendiri. Sementara negara lain meskipun mendapatkan alat transaksi yang stabil, harga yang harus dibayar adalah menyerahkan kendali keuangan mereka kepada Amerika. Inilah mengapa hingga hari ini, dolar tetap menjadi mata uang cadangan utama dunia.