Masuk ke tahun 2025, pasar investasi global menghadapi situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Emas sebagai aset lindung nilai kembali menjadi pusat perhatian pasar. Dari koreksi setelah mencapai rekor tertinggi $4.400 per ons pada Oktober tahun lalu, hingga fluktuasi harga yang terus berlanjut tahun ini, para investor semua memikirkan satu pertanyaan yang sama: Bagaimana perkembangan tren harga emas di Hong Kong di masa depan? Apa sebenarnya logika di balik pergerakan pasar emas kali ini?
Bagaimana pandangan institusi? Para ahli secara kolektif optimis terhadap prospek jangka panjang
Sebelum membahas prospek emas ke depan, mari kita lihat sikap dari lembaga investasi utama.
Tim Analisis Komoditas JPMorgan menilai koreksi terbaru sebagai “penyesuaian yang sehat”, meskipun waspada terhadap risiko jangka pendek, mereka sangat percaya diri terhadap tren jangka panjang, dan telah menaikkan target harga kuartal keempat 2026 menjadi $5.055 per ons.
Goldman Sachs tetap bersikap konservatif namun optimis, menegaskan target harga emas sebesar $4.900 per ons pada akhir 2026.
Lebih agresif lagi adalah Bank of America Merrill Lynch, yang setelah menetapkan target harga emas 2026 di $5.000 per ons, menyatakan bahwa harga emas bahkan berpotensi menembus angka $6.000 tahun depan.
Prediksi-prediksi ini bukan tanpa dasar. Berdasarkan data Reuters, kenaikan harga emas pada 2024-2025 mendekati level tertinggi dalam 30 tahun terakhir, melampaui 31% pada 2007 dan 29% pada 2010. Harga referensi emas murni dari merek-merek perhiasan Hong Kong seperti Chow Tai Fook, Luk Fook Jewelry, Chao Hong Chi, dan lain-lain tetap stabil di atas 1.100 yuan/gram, tanpa tanda-tanda penurunan yang signifikan.
Tiga faktor utama yang mendorong kenaikan harga emas
Faktor pertama: Ketidakpastian kebijakan perdagangan yang terus meningkat
Gelombang baru kebijakan tarif memicu peningkatan sentimen risiko di pasar, yang menjadi pemicu utama kenaikan harga emas di 2025. Ketidakpastian di tingkat kebijakan menyebabkan lonjakan permintaan lindung nilai, sehingga harga emas pun menguat.
Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa selama ketegangan perdagangan AS-China pada 2018, harga emas biasanya mengalami kenaikan 5%-10% dalam jangka pendek. Dalam kondisi pasar saat ini, permintaan lindung nilai serupa kembali muncul.
Faktor kedua: Penyesuaian strategi cadangan bank sentral
Kecepatan pembelian emas oleh bank sentral global tidak berkurang. Menurut laporan World Gold Council (WGC), pada kuartal ketiga 2025, pembelian bersih emas oleh bank sentral global mencapai 220 ton, meningkat 28% secara bulanan. Selama sembilan bulan pertama tahun ini, bank sentral telah membeli sekitar 634 ton emas, sedikit lebih rendah dari periode yang sama tahun 2024, tetapi tetap tinggi.
Lebih menarik lagi adalah laporan survei cadangan emas bank sentral tahun 2025 dari WGC. Survei menunjukkan bahwa 76% bank sentral yang disurvei berencana meningkatkan proporsi emas dalam cadangan mereka selama lima tahun ke depan, dan mayoritas bank sentral juga memperkirakan penurunan proporsi cadangan dolar AS. Perubahan struktural ini sedang membentuk ulang pola alokasi aset global.
Faktor ketiga: Ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve dan tren suku bunga riil
Harga emas memiliki korelasi negatif yang jelas dengan suku bunga riil: penurunan suku bunga → daya tarik emas meningkat. Kebijakan Federal Reserve menjadi indikator penting bagi pergerakan harga emas.
Berdasarkan data alat suku bunga CME, probabilitas Federal Reserve memotong suku bunga sebesar 25 basis poin pada rapat Desember mencapai 84,7%. Setiap kali sinyal kebijakan Fed berubah, volatilitas harga emas pun mengikuti. Setelah rapat FOMC September tahun lalu, ekspektasi pasar terhadap langkah penurunan suku bunga mengalami penyesuaian, yang menjadi salah satu penyebab koreksi harga emas.
Suku bunga riil = suku bunga nominal - tingkat inflasi. Penurunan suku bunga oleh Federal Reserve akan langsung menekan suku bunga nominal, sehingga menurunkan biaya peluang memegang emas, dan membuat emas menjadi aset yang lebih menarik dibandingkan aset berbunga lainnya.
Latar belakang makro ekonomi yang mendukung kenaikan emas
Selain faktor-faktor langsung di atas, faktor struktural ekonomi yang lebih dalam juga berperan:
Kontradiksi antara tingginya utang global dan perlambatan pertumbuhan — Hingga 2025, total utang global mencapai $307 triliun (data IMF). Tingginya tingkat utang membatasi ruang kebijakan suku bunga negara-negara, dan kecenderungan kebijakan moneter yang longgar secara tidak langsung menurunkan suku bunga riil, sehingga meningkatkan daya tarik emas.
Fluktuasi kepercayaan terhadap dolar AS — Ketika pasar kehilangan kepercayaan terhadap prospek dolar, aset emas yang dihargai dalam dolar akan mendapatkan manfaat relatif, menarik aliran dana lebih banyak.
Risiko geopolitik yang terus berlangsung — Konflik Rusia-Ukraina yang berkelanjutan, situasi di Timur Tengah, dan faktor lain terus meningkatkan permintaan aset lindung nilai.
Dorongan dari arus dana jangka pendek — Liputan media dan penyebaran di komunitas mendorong masuknya dana jangka pendek ke pasar, memperkuat momentum kenaikan harga jangka pendek.
Karakteristik volatilitas emas dan hal yang perlu diketahui investor
Sebelum berinvestasi, harus memahami karakteristik risiko emas:
Rata-rata fluktuasi harga emas tahunan mencapai 19,4%, tidak kalah dengan indeks S&P 500 yang sebesar 14,7%. Dengan kata lain, volatilitas emas tidak kalah dengan pasar saham.
Harga emas memiliki siklus yang sangat panjang. Jika dipegang dalam jangka waktu lebih dari 10 tahun, emas berfungsi sebagai alat pelindung nilai, tetapi dalam periode tersebut, harga bisa berlipat ganda atau bahkan terjun bebas. Fluktuasi ekstrem jangka pendek adalah risiko yang harus diterima.
Biaya transaksi emas fisik cukup tinggi, biasanya antara 5%-20%, yang secara signifikan menggerogoti hasil investasi.
Bagi investor di Taiwan dan Hong Kong, jika berinvestasi dalam mata uang asing, juga harus mempertimbangkan fluktuasi nilai tukar. Perubahan kurs dolar AS terhadap dolar Taiwan dan dolar Hong Kong dapat mengubah tingkat pengembalian dalam mata uang lokal.
Strategi investasi berdasarkan toleransi risiko
Trader jangka pendek: Pasar yang bergejolak menyediakan peluang trading yang melimpah. Likuiditas tinggi, logika kenaikan dan penurunan relatif jelas, terutama saat terjadi lonjakan besar, kekuatan bullish dan bearish mudah dikenali. Tapi pemula harus mulai dengan modal kecil, hindari over-leverage yang bisa menyebabkan kerugian besar. Gunakan kalender ekonomi untuk mengikuti data ekonomi AS sebagai panduan pengambilan keputusan.
Investor jangka panjang: Jika berencana membeli emas fisik sebagai aset jangka panjang, harus siap menghadapi volatilitas besar. Meskipun tren jangka panjang cenderung naik, fluktuasi ekstrem di tengah jalan bisa menguji mental investor.
Diversifikasi portofolio: Mengalokasikan sebagian portofolio ke emas adalah langkah yang baik, tetapi jangan menaruh seluruh dana di situ. Volatilitas emas setara dengan saham, sehingga diversifikasi adalah pilihan yang lebih bijaksana.
Strategi maksimisasi keuntungan: Bisa melakukan trading jangka pendek berdasarkan fluktuasi harga, sambil memegang posisi jangka panjang. Data pasar AS sebelum dan sesudah rilis biasanya memperbesar volatilitas, dan periode ini bisa dimanfaatkan sebagai peluang trading jangka pendek. Tapi strategi ini membutuhkan pengalaman dan kemampuan pengendalian risiko yang baik.
Pengingat penting untuk masuk pasar saat ini
Pergerakan harga emas di Hong Kong dalam jangka pendek tidak bisa dihindari, terutama menjelang rilis data ekonomi AS dan rapat Federal Reserve. Meskipun faktor pendukung jangka panjang tetap ada, dalam praktiknya, tetap harus waspada terhadap risiko fluktuasi jangka pendek.
Apapun strategi yang diambil, prinsip utamanya adalah: jangan ikut-ikutan buta, jangan terlalu terkonsentrasi, dan jangan mengabaikan risiko. Tren kenaikan emas kali ini belum berakhir, tetapi peluang dan risiko sering berjalan beriringan.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Analisis Mendalam Tren Harga Emas di Hong Kong: Mengapa Tren Emas akan Terus Meningkat Hingga 2025?
Masuk ke tahun 2025, pasar investasi global menghadapi situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Emas sebagai aset lindung nilai kembali menjadi pusat perhatian pasar. Dari koreksi setelah mencapai rekor tertinggi $4.400 per ons pada Oktober tahun lalu, hingga fluktuasi harga yang terus berlanjut tahun ini, para investor semua memikirkan satu pertanyaan yang sama: Bagaimana perkembangan tren harga emas di Hong Kong di masa depan? Apa sebenarnya logika di balik pergerakan pasar emas kali ini?
Bagaimana pandangan institusi? Para ahli secara kolektif optimis terhadap prospek jangka panjang
Sebelum membahas prospek emas ke depan, mari kita lihat sikap dari lembaga investasi utama.
Tim Analisis Komoditas JPMorgan menilai koreksi terbaru sebagai “penyesuaian yang sehat”, meskipun waspada terhadap risiko jangka pendek, mereka sangat percaya diri terhadap tren jangka panjang, dan telah menaikkan target harga kuartal keempat 2026 menjadi $5.055 per ons.
Goldman Sachs tetap bersikap konservatif namun optimis, menegaskan target harga emas sebesar $4.900 per ons pada akhir 2026.
Lebih agresif lagi adalah Bank of America Merrill Lynch, yang setelah menetapkan target harga emas 2026 di $5.000 per ons, menyatakan bahwa harga emas bahkan berpotensi menembus angka $6.000 tahun depan.
Prediksi-prediksi ini bukan tanpa dasar. Berdasarkan data Reuters, kenaikan harga emas pada 2024-2025 mendekati level tertinggi dalam 30 tahun terakhir, melampaui 31% pada 2007 dan 29% pada 2010. Harga referensi emas murni dari merek-merek perhiasan Hong Kong seperti Chow Tai Fook, Luk Fook Jewelry, Chao Hong Chi, dan lain-lain tetap stabil di atas 1.100 yuan/gram, tanpa tanda-tanda penurunan yang signifikan.
Tiga faktor utama yang mendorong kenaikan harga emas
Faktor pertama: Ketidakpastian kebijakan perdagangan yang terus meningkat
Gelombang baru kebijakan tarif memicu peningkatan sentimen risiko di pasar, yang menjadi pemicu utama kenaikan harga emas di 2025. Ketidakpastian di tingkat kebijakan menyebabkan lonjakan permintaan lindung nilai, sehingga harga emas pun menguat.
Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa selama ketegangan perdagangan AS-China pada 2018, harga emas biasanya mengalami kenaikan 5%-10% dalam jangka pendek. Dalam kondisi pasar saat ini, permintaan lindung nilai serupa kembali muncul.
Faktor kedua: Penyesuaian strategi cadangan bank sentral
Kecepatan pembelian emas oleh bank sentral global tidak berkurang. Menurut laporan World Gold Council (WGC), pada kuartal ketiga 2025, pembelian bersih emas oleh bank sentral global mencapai 220 ton, meningkat 28% secara bulanan. Selama sembilan bulan pertama tahun ini, bank sentral telah membeli sekitar 634 ton emas, sedikit lebih rendah dari periode yang sama tahun 2024, tetapi tetap tinggi.
Lebih menarik lagi adalah laporan survei cadangan emas bank sentral tahun 2025 dari WGC. Survei menunjukkan bahwa 76% bank sentral yang disurvei berencana meningkatkan proporsi emas dalam cadangan mereka selama lima tahun ke depan, dan mayoritas bank sentral juga memperkirakan penurunan proporsi cadangan dolar AS. Perubahan struktural ini sedang membentuk ulang pola alokasi aset global.
Faktor ketiga: Ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve dan tren suku bunga riil
Harga emas memiliki korelasi negatif yang jelas dengan suku bunga riil: penurunan suku bunga → daya tarik emas meningkat. Kebijakan Federal Reserve menjadi indikator penting bagi pergerakan harga emas.
Berdasarkan data alat suku bunga CME, probabilitas Federal Reserve memotong suku bunga sebesar 25 basis poin pada rapat Desember mencapai 84,7%. Setiap kali sinyal kebijakan Fed berubah, volatilitas harga emas pun mengikuti. Setelah rapat FOMC September tahun lalu, ekspektasi pasar terhadap langkah penurunan suku bunga mengalami penyesuaian, yang menjadi salah satu penyebab koreksi harga emas.
Suku bunga riil = suku bunga nominal - tingkat inflasi. Penurunan suku bunga oleh Federal Reserve akan langsung menekan suku bunga nominal, sehingga menurunkan biaya peluang memegang emas, dan membuat emas menjadi aset yang lebih menarik dibandingkan aset berbunga lainnya.
Latar belakang makro ekonomi yang mendukung kenaikan emas
Selain faktor-faktor langsung di atas, faktor struktural ekonomi yang lebih dalam juga berperan:
Kontradiksi antara tingginya utang global dan perlambatan pertumbuhan — Hingga 2025, total utang global mencapai $307 triliun (data IMF). Tingginya tingkat utang membatasi ruang kebijakan suku bunga negara-negara, dan kecenderungan kebijakan moneter yang longgar secara tidak langsung menurunkan suku bunga riil, sehingga meningkatkan daya tarik emas.
Fluktuasi kepercayaan terhadap dolar AS — Ketika pasar kehilangan kepercayaan terhadap prospek dolar, aset emas yang dihargai dalam dolar akan mendapatkan manfaat relatif, menarik aliran dana lebih banyak.
Risiko geopolitik yang terus berlangsung — Konflik Rusia-Ukraina yang berkelanjutan, situasi di Timur Tengah, dan faktor lain terus meningkatkan permintaan aset lindung nilai.
Dorongan dari arus dana jangka pendek — Liputan media dan penyebaran di komunitas mendorong masuknya dana jangka pendek ke pasar, memperkuat momentum kenaikan harga jangka pendek.
Karakteristik volatilitas emas dan hal yang perlu diketahui investor
Sebelum berinvestasi, harus memahami karakteristik risiko emas:
Rata-rata fluktuasi harga emas tahunan mencapai 19,4%, tidak kalah dengan indeks S&P 500 yang sebesar 14,7%. Dengan kata lain, volatilitas emas tidak kalah dengan pasar saham.
Harga emas memiliki siklus yang sangat panjang. Jika dipegang dalam jangka waktu lebih dari 10 tahun, emas berfungsi sebagai alat pelindung nilai, tetapi dalam periode tersebut, harga bisa berlipat ganda atau bahkan terjun bebas. Fluktuasi ekstrem jangka pendek adalah risiko yang harus diterima.
Biaya transaksi emas fisik cukup tinggi, biasanya antara 5%-20%, yang secara signifikan menggerogoti hasil investasi.
Bagi investor di Taiwan dan Hong Kong, jika berinvestasi dalam mata uang asing, juga harus mempertimbangkan fluktuasi nilai tukar. Perubahan kurs dolar AS terhadap dolar Taiwan dan dolar Hong Kong dapat mengubah tingkat pengembalian dalam mata uang lokal.
Strategi investasi berdasarkan toleransi risiko
Trader jangka pendek: Pasar yang bergejolak menyediakan peluang trading yang melimpah. Likuiditas tinggi, logika kenaikan dan penurunan relatif jelas, terutama saat terjadi lonjakan besar, kekuatan bullish dan bearish mudah dikenali. Tapi pemula harus mulai dengan modal kecil, hindari over-leverage yang bisa menyebabkan kerugian besar. Gunakan kalender ekonomi untuk mengikuti data ekonomi AS sebagai panduan pengambilan keputusan.
Investor jangka panjang: Jika berencana membeli emas fisik sebagai aset jangka panjang, harus siap menghadapi volatilitas besar. Meskipun tren jangka panjang cenderung naik, fluktuasi ekstrem di tengah jalan bisa menguji mental investor.
Diversifikasi portofolio: Mengalokasikan sebagian portofolio ke emas adalah langkah yang baik, tetapi jangan menaruh seluruh dana di situ. Volatilitas emas setara dengan saham, sehingga diversifikasi adalah pilihan yang lebih bijaksana.
Strategi maksimisasi keuntungan: Bisa melakukan trading jangka pendek berdasarkan fluktuasi harga, sambil memegang posisi jangka panjang. Data pasar AS sebelum dan sesudah rilis biasanya memperbesar volatilitas, dan periode ini bisa dimanfaatkan sebagai peluang trading jangka pendek. Tapi strategi ini membutuhkan pengalaman dan kemampuan pengendalian risiko yang baik.
Pengingat penting untuk masuk pasar saat ini
Pergerakan harga emas di Hong Kong dalam jangka pendek tidak bisa dihindari, terutama menjelang rilis data ekonomi AS dan rapat Federal Reserve. Meskipun faktor pendukung jangka panjang tetap ada, dalam praktiknya, tetap harus waspada terhadap risiko fluktuasi jangka pendek.
Apapun strategi yang diambil, prinsip utamanya adalah: jangan ikut-ikutan buta, jangan terlalu terkonsentrasi, dan jangan mengabaikan risiko. Tren kenaikan emas kali ini belum berakhir, tetapi peluang dan risiko sering berjalan beriringan.