Di mana peluang investasi di tahun 2025? Banyak orang masih bertahan pada saham pertumbuhan dan saham dividen, namun mengabaikan satu kategori yang bisa melonjak tajam saat masa pemulihan ekonomi—saham siklikal. Saat ekonomi mulai menguat, saham jenis ini seringkali bisa mengungguli pasar lebih dari 50%, sayangnya banyak yang sama sekali tidak tahu caranya mencari.
Jika portofolio investasimu tetap stagnan di lingkungan ekonomi yang membaik, besar kemungkinan kamu sedang mengalami kerugian. Hari ini kita akan kupas tuntas tambang emas investasi yang selama ini diabaikan ini.
Apa itu saham siklikal? Sekali kalimat langsung paham
Saham siklikal (Cyclical Stock) memiliki ciri utama satu kata—“ikut”. Mereka mengikuti tingkat keberuntungan ekonomi, saat ekonomi baik harga saham melambung, saat ekonomi buruk harga jatuh tajam.
Keuntungan dan pendapatan perusahaan ini tidak tumbuh secara stabil, melainkan berombak—kadang puncak, kadang lembah. Siklus ini bisa berlangsung 1 tahun, 5 tahun, bahkan 10 tahun, tapi pasti mengikuti satu pola: permainan antara penawaran dan permintaan.
Jika dilihat lebih detail, ada empat periode penting dalam ekonomi:
🔹 Tahap Pemulihan: Ekonomi bangkit dari resesi, pesanan perusahaan meningkat, ini adalah titik awal ledakan saham siklikal
🔹 Puncak: Ekonomi makmur, permintaan tinggi, laba perusahaan mencapai puncaknya
🔹 Tahap Resesi: Ekonomi mulai melemah, permintaan menurun, harga saham mulai koreksi
🔹 Titik Dasar: Ekonomi di titik terendah, tapi seringkali ini juga peluang terbaik untuk masuk pasar
Seperti apa bentuk saham siklikal?
Menilai sebuah saham apakah termasuk siklikal atau tidak, biasanya dari industrinya:
Logistik pengiriman laut: Skala armada, tarif pengiriman mengikuti fluktuasi perdagangan global
Pengilangan dan petrokimia: Harga minyak dan produk terkait langsung terhubung dengan ekonomi makro
Pertanian dan makanan: Harga komoditas pertanian berfluktuasi secara siklikal, mengikuti pasokan dan permintaan global
Energi batu bara: Permintaan energi sangat terkait dengan pertumbuhan GDP
Industri baja: Indikator pembangunan infrastruktur, menunjukkan tingkat keberuntungan industri
Semikonduktor: Siklus teknologi yang mempengaruhi permintaan chip
6 saham siklikal paling layak masuk tahun 2025
1. NVIDIA (NVDA): Penumpang langsung gelombang AI
Raksasa chip ini sudah menguasai 80% pasar chip AI global. Meskipun valuasinya tidak murah (P/E sekitar 40 kali), tapi berdasarkan tingkat pertumbuhan (PEG hanya 1.2), nilainya sangat layak.
Diperkirakan laba tahun 2025 akan tumbuh 35%, ini jauh dari karakteristik saham siklikal tradisional, malah lebih mirip saham pertumbuhan super. Tapi jangan tertipu—begitu permintaan AI menurun, harga sahamnya bisa melorot. Saat ini, mereka punya kas 20 miliar dolar AS dan hampir tanpa utang, ini adalah benteng pertahanan.
Logika masuk: Pemulihan ekonomi → Investasi pusat data meningkat → Permintaan chip AI melonjak
2. Caterpillar (CAT): Saham wajib untuk infrastruktur
Raja alat berat global, dari ekskavator hingga crane besar. Rencana infrastruktur AS senilai 1,2 triliun dolar masih terus mengalirkan permintaan, investasi infrastruktur di Eropa dan Asia juga semakin cepat.
Perusahaan ini hanya memiliki P/E 15 kali, backlog (pesanan tertunda) mencapai 30 miliar dolar—artinya bisnis mereka sudah penuh untuk beberapa tahun ke depan. Perkiraan pendapatan tahun 2025 naik 8-10%, dan mereka juga terus meningkatkan dividen selama 25 tahun berturut-turut.
Keunggulan utama: Mereka sudah mengamankan tanah untuk pengembangan masa depan, banyak di antaranya dibeli saat ekonomi sedang rendah.
Logika masuk: Pemulihan ekonomi global → Pengeluaran infrastruktur meningkat → Permintaan alat berat melonjak
3. JPMorgan Chase (JPM): Pemenang siklus penurunan suku bunga
Federal Reserve mulai menurunkan suku bunga di akhir 2024, diperkirakan akan turun lagi 3-4 kali di 2025. Apa artinya bagi bank? Kredit akan meningkat pesat, margin bunga bersih (NIM) mungkin menyempit tapi volume pinjaman akan menutupi.
P/B (rasio harga terhadap nilai buku) JPM hanya 1.8 kali, sangat murah untuk bank dengan ROE 16%. Lebih dari itu, CET1 ratio (rasio modal inti) mereka mencapai 14.5%, menunjukkan daya tahan terhadap risiko yang sangat baik.
Logika masuk: Penurunan suku bunga → Konsumsi dan pinjaman perusahaan meningkat → Pendapatan bunga bersih bank naik
4. ArcelorMittal (MT): Musim semi industri baja telah tiba
Produsen baja terbesar dunia. Harga baja diperkirakan naik 15-20% di 2025, didorong oleh investasi infrastruktur global dan stimulus ekonomi China.
P/E perusahaan ini hanya 5 kali, sangat murah di semua industri, dan yield arus kas bebas mencapai 15%—artinya mereka mampu buyback saham dan membagikan dividen secara konsisten. Selain itu, mereka juga berinvestasi dalam teknologi baja bersih, target pengurangan emisi karbon 30% sebelum 2030, sesuai tren ESG.
Logika masuk: Percepatan infrastruktur global → Permintaan baja melonjak → Harga naik + utilisasi kapasitas meningkat
5. LVMH: Raja konsumsi barang mewah
Menguasai 75 merek mewah top, termasuk Louis Vuitton dan Dior. Keajaiban perusahaan ini adalah: Bahkan saat ekonomi buruk, orang kaya tetap membeli.
Margin laba bersih mencapai 65%, jauh di atas rata-rata industri. Lebih dari itu, jika ekonomi China benar-benar pulih, konsumsi barang mewah dari kalangan kaya akan meledak lagi. Pendiri mereka, Bernard Arnault, memegang saham lebih dari 40%, menunjukkan kepercayaan besar terhadap bisnis ini.
Logika masuk: Pemulihan ekonomi China → Kelas menengah atas kembali aktif membeli → Penjualan barang mewah meningkat pesat
6. Linde (LEN): Pelopor pemulihan properti
Pemborong bangunan terbesar di AS. Pada 2025, suku bunga KPR diperkirakan turun di bawah 5.5%, ini kabar baik besar untuk pembeli rumah pertama. Ditambah lagi, usia rata-rata rumah di AS terus meningkat, generasi milenial mulai masuk usia beli rumah, sehingga permintaan mulai terkumpul.
P/E LEN hanya 10 kali, jauh di bawah rata-rata industri. Margin laba kotor mencapai 21%, kecepatan pembangunan 15% lebih cepat dari kompetitor. Mereka juga memegang cadangan tanah seluas 300.000 hektar, dibeli saat pasar sedang rendah.
Logika masuk: Penurunan suku bunga → Pembeli rumah pertama aktif → Pembangunan dan penjualan rumah meningkat
Apakah saham siklikal lain masih punya peluang?
Ekosistem semikonduktor: Tidak hanya NVIDIA, ASML (perangkat pembuatan chip), Qualcomm, Samsung Electronics juga akan diuntungkan. Pertumbuhan industri chip diperkirakan 15% di 2025.
Industri otomotif: Volkswagen, Hyundai, BMW, BYD dan lain-lain menunggu siklus pergantian mobil global. Prediksi industri: penjualan mobil global naik 8% di 2025.
Grup layanan keuangan: Selain JPM, Goldman Sachs, Bank of America juga akan diuntungkan dari kenaikan suku bunga dan aktivitas transaksi yang lebih aktif saat ekonomi pulih.
Hal yang harus dipahami sebelum investasi saham siklikal
Apa saja “karakter” saham ini?
1. Sangat sensitif terhadap ekonomi
Saham siklikal adalah indikator ekonomi. Begitu kondisi makro berubah, harga saham bisa berfluktuasi tajam dalam waktu singkat. Berita yang sama bisa berdampak berbeda di fase ekonomi berbeda.
2. Dikendalikan oleh hubungan penawaran dan permintaan
Harga bukan didorong oleh fundamental, melainkan oleh kekuatan pasar. Saat permintaan tinggi, bahkan saham jelek bisa naik, saat permintaan lemah, saham bagus pun bisa turun.
3. Fluktuasi adalah hal biasa
Kalau kamu tidak suka naik turun 5% setiap hari, saham siklikal bukan pilihanmu. Mereka memang secara alami mudah naik dan turun—“karakter” saham ini.
4. Banyak risiko tambahan
Perubahan kebijakan, guncangan ekonomi global, gangguan rantai pasok, fluktuasi nilai tukar… semua bisa mengubah nasib saham siklikal.
Apa keunggulan mereka?
✅ Peluang keuntungan besar: Saat pemulihan, kenaikan saham siklikal bisa 3-5 kali lipat dibanding saham defensif
✅ Siklus bisa diprediksi: Meski waktu tepatnya sulit dipastikan, arah besar siklus ekonomi bisa dideteksi lebih awal
✅ Efek portofolio: Kombinasi dengan saham defensif bisa membangun portofolio “serangan dan pertahanan” yang seimbang
Di mana risiko terbesar?
❌ Volatilitas tinggi: Fluktuasi besar berarti risiko tinggi, investor dengan mental lemah bisa terjebak kerugian
❌ Butuh penilaian profesional: Tidak semua orang mampu mengidentifikasi titik balik siklus ekonomi secara akurat, salah prediksi berbiaya besar
❌ Rentan terhadap kejadian tak terduga: Kebijakan mendadak, konflik geopolitik, pandemi berulang… peristiwa langka bisa sangat merusak saham siklikal.
❌ Tidak cocok untuk investasi jangka panjang: Keuntungan saham siklikal lebih banyak dari fluktuasi harga, tidak seperti saham defensif yang mengandalkan arus kas dan dividen.
Perbandingan saham siklikal dan saham defensif: Pendekatan investasi berbeda
Coba bandingkan, kamu pasti paham:
Saham siklikal cocok untuk investor yang paham siklus ekonomi, siap menghadapi fluktuasi jangka pendek, dan ingin cepat mendapatkan keuntungan.
Saham defensif (seperti Coca-Cola, Johnson & Johnson, perusahaan listrik) adalah pilihan untuk menjaga modal dan menambah nilai. Perusahaan ini menjual barang yang tetap dibutuhkan orang, tidak tergantung kondisi ekonomi, dan pendapatannya stabil serta arus kas yang dapat diandalkan.
Saat ekonomi membaik, beralih ke saham siklikal; saat ekonomi memburuk, bersembunyi di saham defensif. Investor yang mampu berganti-ganti adalah pemenang sejati.
Saran terakhir
Tahun 2025 memang panggung utama saham siklikal, prospek pemulihan ekonomi global sudah sangat jelas. Tapi yang penting bukanlah membeli saham mana, melainkan memahami posisi kamu dalam siklus ekonomi.
Saat ini, kita masih di awal fase pemulihan, tidak ada yang bisa memastikan titik puncaknya. Jadi, jangan all-in ke satu arah saja, gunakan 30-50% dana untuk peluang saham siklikal, sisanya tetap di saham defensif.
Ingat: Strategi investasi terbaik bukanlah berjudi pada satu cerita, melainkan fleksibel menyesuaikan di berbagai siklus.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Tangkap peluang dari pemulihan ekonomi! 6 saham siklik ini layak diperhatikan pada tahun 2025
Di mana peluang investasi di tahun 2025? Banyak orang masih bertahan pada saham pertumbuhan dan saham dividen, namun mengabaikan satu kategori yang bisa melonjak tajam saat masa pemulihan ekonomi—saham siklikal. Saat ekonomi mulai menguat, saham jenis ini seringkali bisa mengungguli pasar lebih dari 50%, sayangnya banyak yang sama sekali tidak tahu caranya mencari.
Jika portofolio investasimu tetap stagnan di lingkungan ekonomi yang membaik, besar kemungkinan kamu sedang mengalami kerugian. Hari ini kita akan kupas tuntas tambang emas investasi yang selama ini diabaikan ini.
Apa itu saham siklikal? Sekali kalimat langsung paham
Saham siklikal (Cyclical Stock) memiliki ciri utama satu kata—“ikut”. Mereka mengikuti tingkat keberuntungan ekonomi, saat ekonomi baik harga saham melambung, saat ekonomi buruk harga jatuh tajam.
Keuntungan dan pendapatan perusahaan ini tidak tumbuh secara stabil, melainkan berombak—kadang puncak, kadang lembah. Siklus ini bisa berlangsung 1 tahun, 5 tahun, bahkan 10 tahun, tapi pasti mengikuti satu pola: permainan antara penawaran dan permintaan.
Jika dilihat lebih detail, ada empat periode penting dalam ekonomi:
🔹 Tahap Pemulihan: Ekonomi bangkit dari resesi, pesanan perusahaan meningkat, ini adalah titik awal ledakan saham siklikal
🔹 Puncak: Ekonomi makmur, permintaan tinggi, laba perusahaan mencapai puncaknya
🔹 Tahap Resesi: Ekonomi mulai melemah, permintaan menurun, harga saham mulai koreksi
🔹 Titik Dasar: Ekonomi di titik terendah, tapi seringkali ini juga peluang terbaik untuk masuk pasar
Seperti apa bentuk saham siklikal?
Menilai sebuah saham apakah termasuk siklikal atau tidak, biasanya dari industrinya:
6 saham siklikal paling layak masuk tahun 2025
1. NVIDIA (NVDA): Penumpang langsung gelombang AI
Raksasa chip ini sudah menguasai 80% pasar chip AI global. Meskipun valuasinya tidak murah (P/E sekitar 40 kali), tapi berdasarkan tingkat pertumbuhan (PEG hanya 1.2), nilainya sangat layak.
Diperkirakan laba tahun 2025 akan tumbuh 35%, ini jauh dari karakteristik saham siklikal tradisional, malah lebih mirip saham pertumbuhan super. Tapi jangan tertipu—begitu permintaan AI menurun, harga sahamnya bisa melorot. Saat ini, mereka punya kas 20 miliar dolar AS dan hampir tanpa utang, ini adalah benteng pertahanan.
Logika masuk: Pemulihan ekonomi → Investasi pusat data meningkat → Permintaan chip AI melonjak
2. Caterpillar (CAT): Saham wajib untuk infrastruktur
Raja alat berat global, dari ekskavator hingga crane besar. Rencana infrastruktur AS senilai 1,2 triliun dolar masih terus mengalirkan permintaan, investasi infrastruktur di Eropa dan Asia juga semakin cepat.
Perusahaan ini hanya memiliki P/E 15 kali, backlog (pesanan tertunda) mencapai 30 miliar dolar—artinya bisnis mereka sudah penuh untuk beberapa tahun ke depan. Perkiraan pendapatan tahun 2025 naik 8-10%, dan mereka juga terus meningkatkan dividen selama 25 tahun berturut-turut.
Keunggulan utama: Mereka sudah mengamankan tanah untuk pengembangan masa depan, banyak di antaranya dibeli saat ekonomi sedang rendah.
Logika masuk: Pemulihan ekonomi global → Pengeluaran infrastruktur meningkat → Permintaan alat berat melonjak
3. JPMorgan Chase (JPM): Pemenang siklus penurunan suku bunga
Federal Reserve mulai menurunkan suku bunga di akhir 2024, diperkirakan akan turun lagi 3-4 kali di 2025. Apa artinya bagi bank? Kredit akan meningkat pesat, margin bunga bersih (NIM) mungkin menyempit tapi volume pinjaman akan menutupi.
P/B (rasio harga terhadap nilai buku) JPM hanya 1.8 kali, sangat murah untuk bank dengan ROE 16%. Lebih dari itu, CET1 ratio (rasio modal inti) mereka mencapai 14.5%, menunjukkan daya tahan terhadap risiko yang sangat baik.
Logika masuk: Penurunan suku bunga → Konsumsi dan pinjaman perusahaan meningkat → Pendapatan bunga bersih bank naik
4. ArcelorMittal (MT): Musim semi industri baja telah tiba
Produsen baja terbesar dunia. Harga baja diperkirakan naik 15-20% di 2025, didorong oleh investasi infrastruktur global dan stimulus ekonomi China.
P/E perusahaan ini hanya 5 kali, sangat murah di semua industri, dan yield arus kas bebas mencapai 15%—artinya mereka mampu buyback saham dan membagikan dividen secara konsisten. Selain itu, mereka juga berinvestasi dalam teknologi baja bersih, target pengurangan emisi karbon 30% sebelum 2030, sesuai tren ESG.
Logika masuk: Percepatan infrastruktur global → Permintaan baja melonjak → Harga naik + utilisasi kapasitas meningkat
5. LVMH: Raja konsumsi barang mewah
Menguasai 75 merek mewah top, termasuk Louis Vuitton dan Dior. Keajaiban perusahaan ini adalah: Bahkan saat ekonomi buruk, orang kaya tetap membeli.
Margin laba bersih mencapai 65%, jauh di atas rata-rata industri. Lebih dari itu, jika ekonomi China benar-benar pulih, konsumsi barang mewah dari kalangan kaya akan meledak lagi. Pendiri mereka, Bernard Arnault, memegang saham lebih dari 40%, menunjukkan kepercayaan besar terhadap bisnis ini.
Logika masuk: Pemulihan ekonomi China → Kelas menengah atas kembali aktif membeli → Penjualan barang mewah meningkat pesat
6. Linde (LEN): Pelopor pemulihan properti
Pemborong bangunan terbesar di AS. Pada 2025, suku bunga KPR diperkirakan turun di bawah 5.5%, ini kabar baik besar untuk pembeli rumah pertama. Ditambah lagi, usia rata-rata rumah di AS terus meningkat, generasi milenial mulai masuk usia beli rumah, sehingga permintaan mulai terkumpul.
P/E LEN hanya 10 kali, jauh di bawah rata-rata industri. Margin laba kotor mencapai 21%, kecepatan pembangunan 15% lebih cepat dari kompetitor. Mereka juga memegang cadangan tanah seluas 300.000 hektar, dibeli saat pasar sedang rendah.
Logika masuk: Penurunan suku bunga → Pembeli rumah pertama aktif → Pembangunan dan penjualan rumah meningkat
Apakah saham siklikal lain masih punya peluang?
Ekosistem semikonduktor: Tidak hanya NVIDIA, ASML (perangkat pembuatan chip), Qualcomm, Samsung Electronics juga akan diuntungkan. Pertumbuhan industri chip diperkirakan 15% di 2025.
Industri otomotif: Volkswagen, Hyundai, BMW, BYD dan lain-lain menunggu siklus pergantian mobil global. Prediksi industri: penjualan mobil global naik 8% di 2025.
Grup layanan keuangan: Selain JPM, Goldman Sachs, Bank of America juga akan diuntungkan dari kenaikan suku bunga dan aktivitas transaksi yang lebih aktif saat ekonomi pulih.
Hal yang harus dipahami sebelum investasi saham siklikal
Apa saja “karakter” saham ini?
1. Sangat sensitif terhadap ekonomi
Saham siklikal adalah indikator ekonomi. Begitu kondisi makro berubah, harga saham bisa berfluktuasi tajam dalam waktu singkat. Berita yang sama bisa berdampak berbeda di fase ekonomi berbeda.
2. Dikendalikan oleh hubungan penawaran dan permintaan
Harga bukan didorong oleh fundamental, melainkan oleh kekuatan pasar. Saat permintaan tinggi, bahkan saham jelek bisa naik, saat permintaan lemah, saham bagus pun bisa turun.
3. Fluktuasi adalah hal biasa
Kalau kamu tidak suka naik turun 5% setiap hari, saham siklikal bukan pilihanmu. Mereka memang secara alami mudah naik dan turun—“karakter” saham ini.
4. Banyak risiko tambahan
Perubahan kebijakan, guncangan ekonomi global, gangguan rantai pasok, fluktuasi nilai tukar… semua bisa mengubah nasib saham siklikal.
Apa keunggulan mereka?
✅ Peluang keuntungan besar: Saat pemulihan, kenaikan saham siklikal bisa 3-5 kali lipat dibanding saham defensif
✅ Siklus bisa diprediksi: Meski waktu tepatnya sulit dipastikan, arah besar siklus ekonomi bisa dideteksi lebih awal
✅ Efek portofolio: Kombinasi dengan saham defensif bisa membangun portofolio “serangan dan pertahanan” yang seimbang
Di mana risiko terbesar?
❌ Volatilitas tinggi: Fluktuasi besar berarti risiko tinggi, investor dengan mental lemah bisa terjebak kerugian
❌ Butuh penilaian profesional: Tidak semua orang mampu mengidentifikasi titik balik siklus ekonomi secara akurat, salah prediksi berbiaya besar
❌ Rentan terhadap kejadian tak terduga: Kebijakan mendadak, konflik geopolitik, pandemi berulang… peristiwa langka bisa sangat merusak saham siklikal.
❌ Tidak cocok untuk investasi jangka panjang: Keuntungan saham siklikal lebih banyak dari fluktuasi harga, tidak seperti saham defensif yang mengandalkan arus kas dan dividen.
Perbandingan saham siklikal dan saham defensif: Pendekatan investasi berbeda
Coba bandingkan, kamu pasti paham:
Saham siklikal cocok untuk investor yang paham siklus ekonomi, siap menghadapi fluktuasi jangka pendek, dan ingin cepat mendapatkan keuntungan.
Saham defensif (seperti Coca-Cola, Johnson & Johnson, perusahaan listrik) adalah pilihan untuk menjaga modal dan menambah nilai. Perusahaan ini menjual barang yang tetap dibutuhkan orang, tidak tergantung kondisi ekonomi, dan pendapatannya stabil serta arus kas yang dapat diandalkan.
Saat ekonomi membaik, beralih ke saham siklikal; saat ekonomi memburuk, bersembunyi di saham defensif. Investor yang mampu berganti-ganti adalah pemenang sejati.
Saran terakhir
Tahun 2025 memang panggung utama saham siklikal, prospek pemulihan ekonomi global sudah sangat jelas. Tapi yang penting bukanlah membeli saham mana, melainkan memahami posisi kamu dalam siklus ekonomi.
Saat ini, kita masih di awal fase pemulihan, tidak ada yang bisa memastikan titik puncaknya. Jadi, jangan all-in ke satu arah saja, gunakan 30-50% dana untuk peluang saham siklikal, sisanya tetap di saham defensif.
Ingat: Strategi investasi terbaik bukanlah berjudi pada satu cerita, melainkan fleksibel menyesuaikan di berbagai siklus.