Jika Anda baru memasuki dunia trading, kata “Volatilitas” (keterjangan harga) mungkin menjadi istilah yang membingungkan untuk dipahami, tetapi sebenarnya ini adalah konsep yang lebih sederhana dari yang dibayangkan. Inti dari hal ini adalah Volatilitas menunjukkan seberapa cepat harga aset berubah. Semakin tinggi volatilitas pasar, semakin besar pula fluktuasi harga yang terjadi.
Investor yang belum pernah merasakan Volatilitas mungkin berpikir bahwa ini adalah sesuatu yang merugikan, tetapi sebenarnya, jika Anda tahu cara membacanya dan memanfaatkannya, ini bisa menjadi “emas” yang menunggu untuk Anda tarik keluar. Terutama untuk trader berpengalaman dan dengan strategi yang jelas.
Apa itu volatilitas? Penjelasan dasar
Volatilitas adalah pengukuran statistik yang menunjukkan seberapa besar harga aset (saham, mata uang, atau komoditas) berubah dari nilai rata-rata.
Di kantor para investor profesional, Volatilitas digunakan sebagai indikator risiko langsung. Semakin tinggi volatilitas, semakin tinggi pula risiko investasi, dan untuk mengimbangi risiko tersebut, investor mengharapkan imbal hasil yang lebih tinggi.
Yang membuat Volatilitas penting adalah frekuensi dan besarnya kenaikan dan penurunan harga. Jika harga berfluktuasi secara cepat dan tidak menentu dalam waktu singkat, itu menunjukkan pasar memiliki Volatilitas tinggi. Sebaliknya, jika harga bergerak tenang dan stabil, itu adalah sinyal volatilitas rendah.
Mengapa volatilitas penting bagi investor?
Volatilitas mempengaruhi investasi Anda dalam berbagai aspek. Mari kita lihat apa saja:
Dampak terhadap nilai portofolio
Ketika Volatilitas meningkat, nilai investasi Anda bisa naik turun dengan cepat dan tidak terduga. Ini mempengaruhi perencanaan keuangan Anda di masa depan dan bisa menyulitkan prediksi imbal hasil yang diharapkan.
Biaya transaksi meningkat
Aset dengan Volatilitas tinggi biasanya memiliki biaya trading yang lebih tinggi karena risiko yang lebih besar. Hal ini bisa mengikis keuntungan Anda secara signifikan.
Menciptakan peluang emas sekaligus
Namun, Volatilitas bukanlah musuh semata. Trader yang berpengalaman dapat memetik keuntungan dari perubahan harga yang cepat ini. Ini berarti Volatilitas tinggi = peluang lebih banyak (jika Anda tahu cara memanfaatkannya).
Cara mengukur Volatilitas: 5 indikator utama
1. Standar deviasi (Standard Deviation)
Ini adalah metode paling dasar untuk mengukur Volatilitas. Cara kerjanya adalah menghitung seberapa jauh harga menyimpang dari nilai rata-rata. Semakin tinggi angka ini, semakin tinggi pula Volatilitasnya.
Standar deviasi berguna karena tidak hanya memberi tahu Anda seberapa besar harga bisa berubah, tetapi juga membantu memahami “kemungkinan” dari berbagai kejadian.
2. Indeks VIX - “Indeks ketakutan” pasar
VIX (Volatility Index) adalah indikator yang digunakan untuk mengukur Volatilitas yang diharapkan dari pasar saham S&P 500 dalam 30 hari ke depan, dihitung dari harga opsi S&P 500.
Yang perlu diingat adalah VIX tinggi = pasar takut = Volatilitas tinggi. Ketika VIX melonjak, biasanya pasar sedang tidak pasti, dan harga opsi menjadi lebih mahal.
3. Beta (Beta) - Mengukur pergerakan relatif terhadap pasar
Beta menunjukkan seberapa besar suatu aset berfluktuasi dibandingkan pasar secara umum. Contohnya:
Saham dengan Beta = 1.0 bergerak mengikuti pasar
Saham dengan Beta = 1.5 bergerak 1,5 kali lebih agresif dari pasar
Saham dengan Beta = 0.5 bergerak setengah dari pasar
Kekurangan Beta:
Beta berubah seiring waktu
Beta bisa berbeda tergantung arah pergerakan pasar (naik atau turun)
Beta tinggi tidak selalu akurat jika aset jarang diperdagangkan
Beta bukan pengukuran risiko yang lengkap 100%, Anda mungkin perlu beberapa Beta untuk analisis yang lebih baik
4. Volatilitas historis (Historical Volatility)
Historical Volatility mengukur seberapa besar fluktuasi harga aset di masa lalu (biasanya dalam 10 sampai 180 hari terakhir). Trader sering menggunakan periode ini untuk memperkirakan Volatilitas di masa depan.
Jika Anda melihat Historical Volatility meningkat, itu sering menandakan pasar sedang lebih aktif. Sebaliknya, penurunan menunjukkan pasar cenderung kembali ke kondisi normal.
5. Volatilitas implisit (Implied Volatility)
Implied Volatility mengukur seberapa besar “pasar” memperkirakan harga akan berfluktuasi di masa depan. Nilainya berasal dari harga opsi yang sedang diperdagangkan di pasar.
Intinya adalah Implied Volatility bukanlah ilmu pasti. Anda tidak bisa hanya mengandalkan performa masa lalu untuk memprediksi, melainkan harus memahami potensi pasar secara keseluruhan.
Contoh perhitungan Volatilitas secara praktis
Mari kita hitung volatilitas saham dari perusahaan hipotetis menggunakan data 4 hari:
Harga saham pada hari: 10, 12, 9, 14 rupiah
Langkah 1: Hitung rata-rata harga
(10 + 12 + 9 + 14) ÷ 4 = 11.25 rupiah
Langkah 2: Hitung selisih dari rata-rata
Hari 1: 10 – 11.25 = -1.25
Hari 2: 12 – 11.25 = 0.75
Hari 3: 9 – 11.25 = -2.25
Hari 4: 14 – 11.25 = 2.75
Langkah 3: Kuadratkan selisihnya
Hari 1: (-1.25)² = 1.56
Hari 2: (0.75)² = 0.56
Hari 3: (-2.25)² = 5.06
Hari 4: (2.75)² = 7.56
Langkah 4: Hitung rata-rata kuadrat (variance)
(1.56 + 0.56 + 5.06 + 7.56) ÷ 4 = 3.69
( Langkah 5: Ambil akar kuadrat dari variance
√3.69 = 1.92
Hasilnya: Standar deviasi = 1.92 rupiah, yang berarti harga saham biasanya menyimpang dari rata-rata 11.25 rupiah sekitar 1.92 rupiah.
Volatilitas di pasar Forex: hal yang perlu Anda tahu
Volatilitas di pasar Forex mengukur seberapa cepat nilai mata uang berubah. Mata uang utama dunia )seperti EUR/USD, GBP/USD### biasanya memiliki Volatilitas lebih rendah karena likuiditas tinggi. Pasangan mata uang dari pasar berkembang cenderung memiliki Volatilitas lebih tinggi.
( Pasangan mata uang dengan Volatilitas tinggi:
USD/ZAR )dolar AS / rand Afrika Selatan###
USD/MXN (dolar AS / peso Meksiko)
USD/TRY (dolar AS / lira Turki)
( Pasangan mata uang dengan Volatilitas rendah:
EUR/GBP )Euro / Poundsterling###
EUR/USD (Euro / Dolar AS)
USD/CHF (Dolar AS / Franc Swiss)
NZD/USD (Dolar Selandia Baru / Dolar AS)
Strategi trading di pasar Forex dengan Volatilitas tinggi
( 1. Gunakan grafik dan indikator secara cerdas
Bollinger Bands: Membantu Anda mengidentifikasi saat pasar Overbought )jenuh beli### atau Oversold (jenuh jual). Ini memberi sinyal bahwa harga mungkin akan berbalik arah dalam waktu dekat.
Average True Range (ATR): Mengukur Volatilitas secara langsung. Anda bisa menggunakan ATR untuk menentukan titik Trailing Stop, yang membantu membatasi kerugian.
Relative Strength Index (RSI): Mengukur besar perubahan harga. Membantu Anda mengetahui kapan mata uang overbought atau oversold lagi.
( 2. Gunakan Stop Loss secara efektif
Ini adalah aturan emas: Selalu gunakan Stop Loss. Saat Volatilitas tinggi, penempatan Stop Loss yang tepat akan membantu Anda menjaga modal saat pasar bergerak berlawanan prediksi.
) 3. Ikuti rencana trading Anda
Tak peduli seberapa tinggi Volatilitas, memiliki rencana trading yang jelas dan disiplin menjalankannya sangat penting. Trader pemula sering melakukan kesalahan dengan mengubah rencana saat pasar bergejolak, dan di situlah keuntungan bisa hilang.
Cara mengatasi Volatilitas dalam portofolio Anda
1. Investasikan dengan pandangan jangka panjang
Investasi adalah permainan jangka panjang. Jangan berpikir keuntungan besar akan datang dalam minggu pertama. Jika Anda punya rencana investasi selama 5 tahun atau lebih, volatilitas jangka pendek tidak perlu dikhawatirkan. Fluktuasi jangka pendek hanyalah “suara” yang bisa Anda abaikan.
2. Pandang Volatilitas sebagai peluang, bukan bahaya
Saat pasar turun, nilai aset juga turun, yang berarti Anda bisa membeli lebih banyak dengan uang yang sama. Anggap ini sebagai “diskon” dari investor.
3. Sesuaikan portofolio Anda secara berkala
Ketika Volatilitas berubah, proporsi investasi di berbagai aset juga bisa berubah. Lakukan penyesuaian secara rutin agar portofolio tetap sesuai dengan tujuan dan modal Anda.
Hal yang perlu diingat tentang Volatilitas
Volatilitas adalah fluktuasi harga yang diukur dengan standar deviasi dan indikator lain seperti Beta, VIX, dan Implied Volatility. Jika harga bergerak secara terkonsentrasi di sekitar nilai rata-rata, Volatilitas rendah. Jika harga berfluktuasi secara ekstrem, Volatilitas tinggi.
Aset dengan Volatilitas tinggi biasanya dianggap lebih berisiko, tetapi juga menawarkan peluang keuntungan lebih besar. Jadi, Volatilitas bukanlah musuh, melainkan “teman” jika Anda memahaminya dan memanfaatkannya dengan benar.
Latihan dengan mengamati pasangan mata uang dan berusaha memahami pola Volatilitas akan membantu Anda menjadi trader yang lebih baik. Mulailah dengan mempelajari satu pasangan terlebih dahulu dan secara perlahan memahami pasar. Seiring waktu, fluktuasi akan menjadi teman, bukan musuh.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Memahami Volatilitas: Kunci Utama dalam Trading dengan Cerdas
Trader pemula harus tahu Volatilitas apa saja?
Jika Anda baru memasuki dunia trading, kata “Volatilitas” (keterjangan harga) mungkin menjadi istilah yang membingungkan untuk dipahami, tetapi sebenarnya ini adalah konsep yang lebih sederhana dari yang dibayangkan. Inti dari hal ini adalah Volatilitas menunjukkan seberapa cepat harga aset berubah. Semakin tinggi volatilitas pasar, semakin besar pula fluktuasi harga yang terjadi.
Investor yang belum pernah merasakan Volatilitas mungkin berpikir bahwa ini adalah sesuatu yang merugikan, tetapi sebenarnya, jika Anda tahu cara membacanya dan memanfaatkannya, ini bisa menjadi “emas” yang menunggu untuk Anda tarik keluar. Terutama untuk trader berpengalaman dan dengan strategi yang jelas.
Apa itu volatilitas? Penjelasan dasar
Volatilitas adalah pengukuran statistik yang menunjukkan seberapa besar harga aset (saham, mata uang, atau komoditas) berubah dari nilai rata-rata.
Di kantor para investor profesional, Volatilitas digunakan sebagai indikator risiko langsung. Semakin tinggi volatilitas, semakin tinggi pula risiko investasi, dan untuk mengimbangi risiko tersebut, investor mengharapkan imbal hasil yang lebih tinggi.
Yang membuat Volatilitas penting adalah frekuensi dan besarnya kenaikan dan penurunan harga. Jika harga berfluktuasi secara cepat dan tidak menentu dalam waktu singkat, itu menunjukkan pasar memiliki Volatilitas tinggi. Sebaliknya, jika harga bergerak tenang dan stabil, itu adalah sinyal volatilitas rendah.
Mengapa volatilitas penting bagi investor?
Volatilitas mempengaruhi investasi Anda dalam berbagai aspek. Mari kita lihat apa saja:
Dampak terhadap nilai portofolio
Ketika Volatilitas meningkat, nilai investasi Anda bisa naik turun dengan cepat dan tidak terduga. Ini mempengaruhi perencanaan keuangan Anda di masa depan dan bisa menyulitkan prediksi imbal hasil yang diharapkan.
Biaya transaksi meningkat
Aset dengan Volatilitas tinggi biasanya memiliki biaya trading yang lebih tinggi karena risiko yang lebih besar. Hal ini bisa mengikis keuntungan Anda secara signifikan.
Menciptakan peluang emas sekaligus
Namun, Volatilitas bukanlah musuh semata. Trader yang berpengalaman dapat memetik keuntungan dari perubahan harga yang cepat ini. Ini berarti Volatilitas tinggi = peluang lebih banyak (jika Anda tahu cara memanfaatkannya).
Cara mengukur Volatilitas: 5 indikator utama
1. Standar deviasi (Standard Deviation)
Ini adalah metode paling dasar untuk mengukur Volatilitas. Cara kerjanya adalah menghitung seberapa jauh harga menyimpang dari nilai rata-rata. Semakin tinggi angka ini, semakin tinggi pula Volatilitasnya.
Standar deviasi berguna karena tidak hanya memberi tahu Anda seberapa besar harga bisa berubah, tetapi juga membantu memahami “kemungkinan” dari berbagai kejadian.
2. Indeks VIX - “Indeks ketakutan” pasar
VIX (Volatility Index) adalah indikator yang digunakan untuk mengukur Volatilitas yang diharapkan dari pasar saham S&P 500 dalam 30 hari ke depan, dihitung dari harga opsi S&P 500.
Yang perlu diingat adalah VIX tinggi = pasar takut = Volatilitas tinggi. Ketika VIX melonjak, biasanya pasar sedang tidak pasti, dan harga opsi menjadi lebih mahal.
3. Beta (Beta) - Mengukur pergerakan relatif terhadap pasar
Beta menunjukkan seberapa besar suatu aset berfluktuasi dibandingkan pasar secara umum. Contohnya:
Kekurangan Beta:
4. Volatilitas historis (Historical Volatility)
Historical Volatility mengukur seberapa besar fluktuasi harga aset di masa lalu (biasanya dalam 10 sampai 180 hari terakhir). Trader sering menggunakan periode ini untuk memperkirakan Volatilitas di masa depan.
Jika Anda melihat Historical Volatility meningkat, itu sering menandakan pasar sedang lebih aktif. Sebaliknya, penurunan menunjukkan pasar cenderung kembali ke kondisi normal.
5. Volatilitas implisit (Implied Volatility)
Implied Volatility mengukur seberapa besar “pasar” memperkirakan harga akan berfluktuasi di masa depan. Nilainya berasal dari harga opsi yang sedang diperdagangkan di pasar.
Intinya adalah Implied Volatility bukanlah ilmu pasti. Anda tidak bisa hanya mengandalkan performa masa lalu untuk memprediksi, melainkan harus memahami potensi pasar secara keseluruhan.
Contoh perhitungan Volatilitas secara praktis
Mari kita hitung volatilitas saham dari perusahaan hipotetis menggunakan data 4 hari:
Harga saham pada hari: 10, 12, 9, 14 rupiah
Langkah 1: Hitung rata-rata harga
(10 + 12 + 9 + 14) ÷ 4 = 11.25 rupiah
Langkah 2: Hitung selisih dari rata-rata
Langkah 3: Kuadratkan selisihnya
Langkah 4: Hitung rata-rata kuadrat (variance)
(1.56 + 0.56 + 5.06 + 7.56) ÷ 4 = 3.69
( Langkah 5: Ambil akar kuadrat dari variance √3.69 = 1.92
Hasilnya: Standar deviasi = 1.92 rupiah, yang berarti harga saham biasanya menyimpang dari rata-rata 11.25 rupiah sekitar 1.92 rupiah.
Volatilitas di pasar Forex: hal yang perlu Anda tahu
Volatilitas di pasar Forex mengukur seberapa cepat nilai mata uang berubah. Mata uang utama dunia )seperti EUR/USD, GBP/USD### biasanya memiliki Volatilitas lebih rendah karena likuiditas tinggi. Pasangan mata uang dari pasar berkembang cenderung memiliki Volatilitas lebih tinggi.
( Pasangan mata uang dengan Volatilitas tinggi:
( Pasangan mata uang dengan Volatilitas rendah:
Strategi trading di pasar Forex dengan Volatilitas tinggi
( 1. Gunakan grafik dan indikator secara cerdas
Bollinger Bands: Membantu Anda mengidentifikasi saat pasar Overbought )jenuh beli### atau Oversold (jenuh jual). Ini memberi sinyal bahwa harga mungkin akan berbalik arah dalam waktu dekat.
Average True Range (ATR): Mengukur Volatilitas secara langsung. Anda bisa menggunakan ATR untuk menentukan titik Trailing Stop, yang membantu membatasi kerugian.
Relative Strength Index (RSI): Mengukur besar perubahan harga. Membantu Anda mengetahui kapan mata uang overbought atau oversold lagi.
( 2. Gunakan Stop Loss secara efektif
Ini adalah aturan emas: Selalu gunakan Stop Loss. Saat Volatilitas tinggi, penempatan Stop Loss yang tepat akan membantu Anda menjaga modal saat pasar bergerak berlawanan prediksi.
) 3. Ikuti rencana trading Anda
Tak peduli seberapa tinggi Volatilitas, memiliki rencana trading yang jelas dan disiplin menjalankannya sangat penting. Trader pemula sering melakukan kesalahan dengan mengubah rencana saat pasar bergejolak, dan di situlah keuntungan bisa hilang.
Cara mengatasi Volatilitas dalam portofolio Anda
1. Investasikan dengan pandangan jangka panjang
Investasi adalah permainan jangka panjang. Jangan berpikir keuntungan besar akan datang dalam minggu pertama. Jika Anda punya rencana investasi selama 5 tahun atau lebih, volatilitas jangka pendek tidak perlu dikhawatirkan. Fluktuasi jangka pendek hanyalah “suara” yang bisa Anda abaikan.
2. Pandang Volatilitas sebagai peluang, bukan bahaya
Saat pasar turun, nilai aset juga turun, yang berarti Anda bisa membeli lebih banyak dengan uang yang sama. Anggap ini sebagai “diskon” dari investor.
3. Sesuaikan portofolio Anda secara berkala
Ketika Volatilitas berubah, proporsi investasi di berbagai aset juga bisa berubah. Lakukan penyesuaian secara rutin agar portofolio tetap sesuai dengan tujuan dan modal Anda.
Hal yang perlu diingat tentang Volatilitas
Volatilitas adalah fluktuasi harga yang diukur dengan standar deviasi dan indikator lain seperti Beta, VIX, dan Implied Volatility. Jika harga bergerak secara terkonsentrasi di sekitar nilai rata-rata, Volatilitas rendah. Jika harga berfluktuasi secara ekstrem, Volatilitas tinggi.
Aset dengan Volatilitas tinggi biasanya dianggap lebih berisiko, tetapi juga menawarkan peluang keuntungan lebih besar. Jadi, Volatilitas bukanlah musuh, melainkan “teman” jika Anda memahaminya dan memanfaatkannya dengan benar.
Latihan dengan mengamati pasangan mata uang dan berusaha memahami pola Volatilitas akan membantu Anda menjadi trader yang lebih baik. Mulailah dengan mempelajari satu pasangan terlebih dahulu dan secara perlahan memahami pasar. Seiring waktu, fluktuasi akan menjadi teman, bukan musuh.