Perdagangan saham secara profesional: Mengapa Demand Supply menjadi kunci utama dalam menentukan harga

Dari pengamatan pasar nyata, trader yang mampu membaca kekuatan beli dan jual dengan baik biasanya lebih akurat dalam menangkap momentum dibandingkan yang lain. Alasan utamanya adalah mereka memahami bahwa Demand Supply (Permintaan Penawaran) adalah kekuatan utama di balik pergerakan harga saham. Tidak peduli seberapa baik data fundamental perusahaan, jika kekuatan beli tidak cukup, Anda tetap akan melihat saham mengalami penurunan. Hal ini mungkin terdengar seperti teori, tetapi ketika Anda memahami hubungan antara permintaan, penawaran, dan pergerakan harga, Anda akan memandang pasar saham dengan sudut pandang yang benar-benar berbeda.

Mekanisme Penetapan Harga di Pasar: Ketika kekuatan beli dan jual bertemu

Di pasar keuangan, harga saham tidak ditentukan oleh persamaan matematis atau rumus valuasi, melainkan oleh keseimbangan antara orang yang ingin membeli dan orang yang ingin menjual. Titik ini disebut sebagai keseimbangan (Equilibrium), yaitu harga yang diterima pasar pada setiap saat tertentu.

Ketika ada lebih banyak orang ingin membeli daripada yang ingin menjual (Demand Supply tidak seimbang di sisi permintaan), harga akan naik karena pembeli bersedia membayar lebih tinggi agar mendapatkan saham. Sebaliknya, ketika ada lebih banyak orang ingin menjual daripada membeli, penjual harus menurunkan harga untuk mencari pembeli, sampai harga mencapai titik di mana kedua belah pihak setuju. Ini adalah fenomena sederhana, tetapi banyak orang yang masih belum memahaminya di pasar nyata.

Mengapa harus memahami Demand Supply dalam investasi

Faktor permintaan (Demand) di pasar keuangan

Dari mana asalnya permintaan membeli saham?

  1. Faktor makroekonomi - Ketika suku bunga rendah, orang termotivasi untuk menghindari deposito yang hasilnya rendah dan berinvestasi di saham. Sebaliknya, saat suku bunga tinggi, beberapa orang akan keluar dari pasar saham untuk mencari hasil dari obligasi.

  2. Likuiditas dalam sistem keuangan - Semakin banyak uang beredar (Liquidity meningkat), semakin banyak orang yang berinvestasi di saham. Sebaliknya, ketika uang menghilang, orang mengurangi investasi.

  3. Kepercayaan investor - Jika tren ekonomi baik, manusia akan merasa bahagia dan bersedia membeli saham. Jika sebaliknya, mereka akan menjual. Ini adalah “sentimen” yang sering dibicarakan trader.

  4. Laporan keuangan dan berita perusahaan - Berita baik tentang peningkatan laba atau kesepakatan besar akan menarik banyak pembeli karena manusia selalu melihat ke depan.

Faktor penawaran (Supply) di pasar keuangan

Jumlah saham yang beredar untuk dijual tergantung pada apa?

  1. Kebijakan perusahaan - Perusahaan yang melakukan buyback (Buyback) akan mengurangi penawaran (baik untuk harga), sedangkan perusahaan yang melakukan peningkatan modal (Capital Increase) akan menambah penawaran (menekan harga).

  2. Pemegang saham utama yang ingin keluar - Ketika manajemen atau pemegang saham utama berencana menjual saham dalam jumlah besar (Lock-in Period selesai), akan menambah penawaran di pasar.

  3. Perusahaan baru yang melakukan IPO (IPO) - IPO baru akan menambah saham di pasar. Pada awalnya, likuiditas mungkin meningkat, tetapi penawaran juga bertambah.

  4. Peraturan pasar - Hal-hal seperti Silent Period (larangan menjual selama periode awal setelah IPO) mempengaruhi penawaran.

Cara membaca Demand Supply dari candlestick dan tren harga

1. Membaca dari candlestick (Candle Stick)

Candlestick berwarna hijau = kekuatan beli menang (Permintaan memiliki kekuatan)

  • Harga pembukaan lebih rendah dari harga penutupan
  • Menunjukkan bahwa selama periode tersebut, pembeli menarik harga ke atas
  • Jika candlestick besar, menunjukkan kekuatan beli besar

Candlestick berwarna merah = kekuatan jual menang (Penawaran besar)

  • Harga pembukaan lebih tinggi dari harga penutupan
  • Menunjukkan bahwa penjual menarik harga ke bawah
  • Candlestick besar = kekuatan jual besar

Candlestick doji = arah tidak pasti

  • Harga pembukaan dan penutupan dekat
  • Menunjukkan kekuatan beli dan jual seimbang
  • Pasar sedang menunggu faktor baru

2. Membaca dari tren harga (Trend)

Uptrend (Kenaikan) = pembeli sedang menang

  • Harga membuat titik tertinggi baru secara berturut-turut
  • Menunjukkan permintaan masih kuat
  • Trader bisa terus mengikuti tren

Downtrend (Penurunan) = penjual sedang menang

  • Harga membuat titik terendah baru secara berturut-turut
  • Menunjukkan penawaran masih besar
  • Trader bisa mengikuti tren turun

Sideways (Datar) = keseimbangan sementara

  • Harga bergerak dalam kisaran
  • Menunjukkan kekuatan keduanya seimbang
  • Menunggu sinyal break out

Teknik Demand Supply Zone: Trading mengikuti kekuatan nyata

Banyak trader profesional menggunakan teknik Demand Supply Zone untuk menangkap momentum beli dan jual. Ada 2 cara kerja:

Cara 1: Trading pembalikan (Reversal Trading)

Situasi Demand Zone (DBR) = beli di dasar harga

Harga turun tajam (Drop) → kekuatan jual mulai melemah → harga bergerak sideways dalam range (Base) → berita baik masuk → harga melonjak melewati resistance range (Rally)

Sinyal beli: di titik breakout atas range setelah muncul candlestick hijau

Situasi Supply Zone (RBD) = jual di puncak harga

Harga naik tajam (Rally) → kekuatan beli mulai melemah → harga bergerak sideways dalam range (Base) → berita buruk masuk → harga turun tajam melewati support range (Drop)

Sinyal jual: di titik breakout bawah range setelah muncul candlestick merah

Cara 2: Trading mengikuti tren (Continuation Trading)

Situasi Demand Zone (RBR) = beli mengikuti tren naik

Harga naik kuat → ada yang mulai ambil keuntungan → harga sedikit sideways → berita baik baru masuk → harga terus naik

Sinyal beli: saat harga menembus resistance sideways (Breakout) dan melanjutkan kenaikan

Situasi Supply Zone (DBD) = jual mengikuti tren turun

Harga turun tajam → ada yang mulai ambil keuntungan → harga sideways sedikit → berita buruk masuk → harga terus turun

Sinyal jual: saat harga menembus support sideways (Breakdown) dan melanjutkan penurunan

Trading saham nyata dengan Demand Supply

Contoh dari platform trading

Situasi 1: saham dengan kekuatan jual masuk

Misalnya saham naik ke 150 บาท, lalu mulai berbalik, candlestick semakin banyak berwarna merah, volume tinggi, menyebabkan harga turun ke 135 บาท dan sideways sebentar. Pada titik ini, Demand Supply menunjukkan bahwa:

  • Resistance di 150 บาท (tempat para penjual berkumpul)
  • Support di 135 บาท (tempat para pembeli berkumpul)

Jika berita laporan kuartalan bagus, harga akan melonjak melewati 150 บาท = peluang beli mengikuti tren naik

Jika berita buruk muncul, harga turun di bawah 135 = peluang jual mengikuti tren turun

Situasi 2: saham IPO baru masuk pasar

Harga IPO 100 บาท, hari pertama banyak pembeli (Demand masuk), harga melambung ke 120 บาท. Kemudian, pemegang saham lama mulai ambil keuntungan, harga kembali ke 110 dan sideways sebentar. Pada titik ini:

  • Pembeli baru puas di 110 (Demand Zone)
  • Penjual ingin ambil keuntungan di 120 (Supply Zone)

Ketika perusahaan mengumumkan laporan keuangan bagus, harga melonjak melewati 120 = tren naik berlanjut

Ketika ada berita bahwa sebagian besar manajemen akan menjual, harga turun di bawah 110 = tren turun berlanjut

Sinyal peringatan saat membaca Demand Supply

  1. Volume transaksi penting - Jika saat break, volume rendah, bisa jadi palsu (Fake breakout), tetapi jika volume tinggi, itu nyata

  2. Durasi minimal - Teknik ini berlaku di semua timeframe (jam, harian, mingguan), tetapi lebih umum digunakan di timeframe harian ke atas untuk mengurangi sinyal palsu

  3. Stop loss harus ada - Tidak ada teknik yang 100% pasti, harus selalu pasang stop loss di luar range sideways

  4. Perubahan Demand Supply - Demand Supply di pasar keuangan perlahan berubah, tidak statis, harus selalu memperbarui support dan resistance baru

Kesimpulan: Mengapa Demand Supply penting

Demand Supply adalah bahasa yang selalu digunakan pasar. Tidak peduli berapa lama perusahaan listing, Demand Supply yang menentukan harga di setiap saat. Kadang harga bergerak lebih cepat dari data fundamental.

Banyak investor gagal karena tidak mampu membaca kekuatan kekuatan beli dan jual, sehingga tertipu pasar dan keluar dari permainan. Trader profesional yang mampu membaca Demand Supply tahu kapan harus masuk, keluar, atau menunggu.

Hari ini, jika Anda masih memandang pasar hanya dari rasio P/E atau EPS saja, cobalah lihat dari sudut pandang lain: pasar saham dikendalikan oleh kekuatan Demand Supply, dan dengan begitu Anda akan lebih mudah melihat peluang dan melakukan trading.

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
0/400
Tidak ada komentar
  • Sematkan