Saya memperhatikan tren menarik di pasar makro. Dalam setahun terakhir, prediksi dari pemain keuangan besar mengenai resesi di AS menjadi jauh lebih suram. Jika sebelumnya mereka menyebutkan kemungkinan sebesar 15%, kini empat institusi besar secara independen menilai risiko resesi di AS dalam satu tahun mendatang sebesar 30-48%. Moody's Analytics bahkan mencapai 48,6% — ini adalah sinyal yang serius. Diikuti oleh EY-Parthenon (40%), JPMorgan (35%) dan Goldman Sachs (30%). Konsensusnya jelas.



Apa yang terjadi? Penyebab utama adalah krisis minyak. Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz memicu lonjakan tajam harga minyak Brent dari 70 menjadi lebih dari 100 dolar per barel. Ini berdampak serius pada rantai energi di seluruh dunia. JPMorgan mencatat bahwa secara historis, kejutan minyak seperti ini sering menjadi pendahulu resesi ekonomi.

Menariknya, kepala ekonom Moody's, Mark Zandi, menyoroti kecepatan kenaikan penilaian ini — dalam beberapa bulan saja, kemungkinan resesi di AS meningkat dari 15% menjadi hampir 50%. Ini bukan perubahan bertahap, melainkan pergeseran nyata dalam penilaian risiko.

Larry Fink dari BlackRock melihat dua skenario: atau konflik akan segera diselesaikan, harga akan turun dan ekonomi kembali normal, atau ketegangan akan berlanjut, minyak tetap mahal, dan tekanan terhadap ekonomi akan meningkat. Pilihan kedua ini berarti bahwa resesi di AS bisa menjadi kenyataan, bukan sekadar probabilitas statistik. Gambaran makro semakin menjadi semakin tegang.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan