Belakangan ini saya memperhatikan fenomena yang cukup menarik, yaitu kekuatan short selling terhadap saham Eropa mencapai rekor tertinggi. Berdasarkan data Breakout Point, selama tiga bulan pertama tahun ini, jumlah pengungkapan posisi short terhadap saham yang terdaftar di Eropa mencapai hampir 12.000 transaksi, yang belum pernah terjadi sejak aturan pengungkapan short di Eropa diperkenalkan pada 2012.



Mengapa bisa begitu? Sebenarnya latar belakangnya cukup kompleks. Krisis energi yang dipicu oleh perang Iran menjadi pendorong utama, harga minyak mentah Brent telah melonjak 50% menjadi sekitar 110 dolar AS per barel, sementara harga acuan gas alam Eropa TTF juga naik lebih dari 50% dalam periode yang sama. Andreas Bruckner, strategist saham Eropa dari Bank of America, secara tegas menyatakan bahwa dalam masa krisis seperti ini, pasar Eropa memang terlihat sebagai target short yang baik. Alasannya sangat sederhana—Eropa sebagai wilayah pengimpor bersih energi jauh lebih rentan dibandingkan Amerika Serikat yang merupakan eksportir bersih energi.

Kenaikan harga energi tidak hanya mendorong inflasi, tetapi juga membebani pertumbuhan ekonomi. Hal ini mendorong hedge fund besar seperti AQR Capital Management dan Two Sigma Investments untuk mempercepat posisi mereka. Data menunjukkan bahwa posisi short yang diungkapkan AQR di saham Eropa meningkat dari 54 transaksi setahun lalu menjadi 128 transaksi, sementara Two Sigma bahkan lebih ekstrem, dari 3 transaksi langsung melonjak menjadi 85 transaksi. Peningkatan kekuatan short selling ini mencerminkan pandangan pesimis investor institusional terhadap prospek pasar Eropa.

Dari segi performa pasar, indeks Stoxx 600 Eropa sejak pecahnya perang telah turun lebih dari 5%, hampir menghapus sebagian besar kenaikan tahun ini. Di tingkat saham individual, situasinya bahkan lebih parah, dengan maskapai penerbangan murah Wizz Air yang terdaftar di London menjadi saham Eropa yang paling banyak dishort, dengan rasio short hampir dua kali lipat menjadi 15%, dan harga sahamnya juga turun lebih dari seperempat. Perusahaan ini mengalami kerugian besar akibat melonjaknya biaya bahan bakar dan gangguan penerbangan. Kompetitornya, easyJet, juga menjadi sasaran short selling.

Yang menarik, short selling tidak hanya menargetkan perusahaan yang sensitif terhadap energi. Citadel baru-baru ini meningkatkan taruhan short terhadap produsen batu bata Inggris, Ibstock, dan DE Shaw juga mengungkapkan posisi short, sehingga total rasio short mereka naik di atas 12%. Emmanuel Cau, kepala strategi saham Eropa di Barclays, menyatakan bahwa pasar Inggris secara jangka panjang memang menjadi target pesimisme investor, dan dampak perang terhadap suku bunga serta harga energi kembali memicu kekhawatiran terhadap prospek konsumen Inggris.

Selain dampak energi, transformasi industri kecerdasan buatan juga mempercepat proses short terhadap beberapa perusahaan. Setelah pengumuman restrukturisasi dan penundaan beberapa game baru, perusahaan pengembang game asal Prancis, Ubisoft, dengan cepat menjadi sasaran short selling besar-besaran di Eropa. Pasar khawatir bahwa perusahaan game tradisional ini akan semakin tertinggal dalam era transformasi AI.

Secara keseluruhan, gelombang short selling terhadap saham Eropa ini mencerminkan kekhawatiran mendalam pasar terhadap prospek ekonomi Eropa—perang, krisis energi, risiko suku bunga, perubahan industri—faktor-faktor ini saling bertumpuk, membuat hedge fund semakin agresif menempatkan posisi short. Tren ini patut dipantau secara berkelanjutan.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan