Baru saja melihat sebuah perkembangan geopolitik yang cukup menarik perhatian. Arab Saudi baru-baru ini memberi tekanan pada Amerika Serikat, berharap agar AS melepaskan blokade di Selat Hormuz dan kembali ke meja perundingan. Logika di balik ini sebenarnya cukup jelas, Arab Saudi khawatir langkah AS ini akan memancing kemarahan Iran, yang kemudian akan mendorong Iran menekan Houthi di Yaman untuk menutup Selat Mandeb.



Mengapa Arab Saudi begitu cemas? Karena Selat Mandeb adalah jalur penting di Laut Merah, yang langsung berkaitan dengan sekitar 7 juta barel ekspor minyak harian Arab Saudi. Bayangkan jika jalur pengangkutan ini diputus, berapa besar dampaknya terhadap ekspor energi Saudi.

Dalam sejarah, sudah pernah terjadi. Iran sebelumnya menyerang kapal di Selat Hormuz, menyebabkan sekitar 13 juta barel ekspor minyak harian terganggu, langsung mendorong harga minyak naik di atas 100 dolar. Sekarang, Trump pada hari Senin memberlakukan blokade baru terhadap pelabuhan Iran, yang membuat Arab Saudi semakin tidak tenang.

Yang menarik, sebelumnya Arab Saudi mengklaim sudah mendapatkan janji dari Houthi untuk tidak menyerang kapal mereka, tetapi dalam situasi tegang seperti ini, keandalan janji tersebut dipertanyakan. Pejabat Arab menyatakan bahwa Iran sedang menekan Houthi agar mereka mengambil tindakan, yang membuat situasi menjadi semakin rumit.

Singkatnya, ini adalah permainan geopolitik energi. Arab Saudi berada di tengah, harus melindungi kepentingan ekspor minyaknya sekaligus menyeimbangkan antara AS dan Iran. Perkembangan negosiasi selanjutnya bisa langsung mempengaruhi pasar energi global.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan