Dasar
Spot
Perdagangkan kripto dengan bebas
Perdagangan Margin
Perbesar keuntungan Anda dengan leverage
Konversi & Investasi Otomatis
0 Fees
Perdagangkan dalam ukuran berapa pun tanpa biaya dan tanpa slippage
ETF
Dapatkan eksposur ke posisi leverage dengan mudah
Perdagangan Pre-Market
Perdagangkan token baru sebelum listing
Futures
Akses ribuan kontrak perpetual
TradFi
Emas
Satu platform aset tradisional global
Opsi
Hot
Perdagangkan Opsi Vanilla ala Eropa
Akun Terpadu
Memaksimalkan efisiensi modal Anda
Perdagangan Demo
Pengantar tentang Perdagangan Futures
Bersiap untuk perdagangan futures Anda
Acara Futures
Gabung acara & dapatkan hadiah
Perdagangan Demo
Gunakan dana virtual untuk merasakan perdagangan bebas risiko
Peluncuran
CandyDrop
Koleksi permen untuk mendapatkan airdrop
Launchpool
Staking cepat, dapatkan token baru yang potensial
HODLer Airdrop
Pegang GT dan dapatkan airdrop besar secara gratis
Pre-IPOs
Buka akses penuh ke IPO saham global
Poin Alpha
Perdagangkan aset on-chain, raih airdrop
Poin Futures
Dapatkan poin futures dan klaim hadiah airdrop
Investasi
Simple Earn
Dapatkan bunga dengan token yang menganggur
Investasi Otomatis
Investasi otomatis secara teratur
Investasi Ganda
Keuntungan dari volatilitas pasar
Soft Staking
Dapatkan hadiah dengan staking fleksibel
Pinjaman Kripto
0 Fees
Menjaminkan satu kripto untuk meminjam kripto lainnya
Pusat Peminjaman
Hub Peminjaman Terpadu
Baru saja melihat sebuah laporan dari S&P, tentang dampak konflik Timur Tengah terhadap peringkat kredit utama Asia Tenggara. Menariknya, di wilayah ini, Indonesia menjadi negara yang paling rentan terkena dampaknya.
Logika inti sebenarnya cukup sederhana. Jika pasar energi tetap dalam keadaan kacau dalam jangka panjang, negara-negara dengan ruang buffer peringkat kredit yang kecil akan mudah terbebani. S&P secara tegas menyatakan bahwa, jika konflik Timur Tengah berlanjut, peringkat kredit Indonesia akan menjadi sangat rapuh.
Mengapa Indonesia? Rantai reaksi di dalamnya patut diperhatikan. Pertama adalah kenaikan biaya energi—sebagai negara pengimpor minyak, kenaikan harga minyak langsung berarti tagihan impor membengkak. Ini akan menekan anggaran pemerintah, karena subsidi energi di Indonesia sudah menjadi beban besar, semakin tinggi harga, semakin besar tekanan.
Kedua dari segi perdagangan. Kenaikan harga minyak impor akan memperbesar defisit akun berjalan Indonesia, yang merupakan kekhawatiran bagi negara pasar berkembang. Ditambah lagi, inflasi bisa mempercepat, suku bunga pasar mengikuti naik, sehingga biaya pembiayaan pemerintah pun ikut melonjak.
Singkatnya, Indonesia saat ini menghadapi rangkaian risiko seperti domino—guncangan energi → tekanan fiskal → tekanan nilai tukar → kenaikan biaya pembiayaan. Di kawasan Asia Tenggara ini, tidak ada negara lain yang begitu rentan. Itulah mengapa orang-orang yang baru-baru ini memperhatikan aset Indonesia sedang memikirkan faktor risiko ini.