Apa saja jenis bias kognitif?


1、Bias sebab-akibat:Kesalahan menilai korelasi sebagai sebab. Menganggap “kemunculan bersamaan” sebagai “hubungan sebab-akibat”. Banyak orang menganggap ciri-ciri umum dari orang sukses sebagai penyebab keberhasilan, tetapi kenyataannya, banyak fenomena hanya terkait, bukan penyebab sebenarnya.
2、Bias sebab-akibat:Bias penjelasan tunggal. Hasil yang kompleks disebabkan oleh satu alasan saja. Otak manusia secara alami lebih suka penjelasan sederhana, tetapi dunia nyata seringkali merupakan hasil dari banyak variabel yang bekerja bersama.
3、Bias sebab-akibat:Bias atribusi pasca kejadian. Setelah sesuatu terjadi, membalikkan logika dan menganggap “semua sudah ada tanda-tandanya sejak awal”. Pada dasarnya, manusia tidak mampu menerima keberuntungan acak, sehingga secara otomatis melengkapi narasi.
4、Bias konfirmasi:Hanya mencari informasi yang mendukung pandangan sendiri. Manusia lebih mudah menerima informasi yang mendukung posisi mereka, dan secara otomatis mengabaikan contoh yang berlawanan. Banyak perdebatan, pada dasarnya bukan karena kekurangan informasi, tetapi karena penyaringan kognitif.
5、Bias sampel:Menggunakan sampel kecil untuk menyimpulkan aturan umum. Manusia cenderung menyimpulkan aturan dunia dari pengalaman terbatas, tetapi sampel kecil seringkali penuh dengan fluktuasi acak dan tidak bersifat umum.
6、Bias sampel:Bias penyintas. Hanya melihat orang yang berhasil, dan tidak melihat orang yang gagal dan menghilang. Banyak “pengalaman sukses”, pada dasarnya hanyalah karena kasus gagal disembunyikan.
7、Bias jalan pintas kognitif:Menggunakan penilaian cepat sebagai pengganti penalaran yang sebenarnya. Otak untuk menghemat energi, lebih memilih menggunakan intuisi, kesan, dan pengalaman, bukan penalaran lengkap.
8、Bias otoritas:Menganggap otoritas lebih dekat dengan kebenaran. Ketika seseorang memiliki gelar, status, atau pengaruh, manusia secara alami mengurangi keraguan terhadapnya.
9、Efek halo:Satu keunggulan menutupi penilaian keseluruhan. Ketika seseorang menonjol di satu aspek, orang secara otomatis akan menyebarkan keunggulan tersebut ke aspek lain.
10、Bias ketersediaan:Semakin mudah diingat, semakin dianggap sebagai informasi umum. Frekuensi paparan akan disalahartikan sebagai frekuensi kejadian nyata. Banyak penilaian terhadap dunia berasal dari “apa yang baru saja dilihat”.
11、Bias egosentris:Menganggap diri sendiri sebagai pusat dunia. Manusia secara alami cenderung melebih-lebihkan pentingnya perasaan, pengalaman, dan sudut pandang mereka sendiri, dan meremehkan lingkungan sistem orang lain.
12、Kesalahan atribusi dasar:Menggunakan logika atribusi berbeda untuk diri sendiri dan orang lain. Ketika orang gagal, dianggap karena masalah kemampuan; ketika diri sendiri gagal, lebih cenderung disebabkan oleh faktor lingkungan.
13、Ilusi kontrol:Melebihkan kemampuan diri dalam mengendalikan hasil. Dalam sistem kompleks, manusia salah mengira mereka mengendalikan hasil, padahal seringkali hanya keberuntungan, siklus, atau probabilitas.
14、Bias kejadian terkini:Peristiwa terbaru memiliki bobot terlalu tinggi. Manusia cenderung menganggap tren jangka pendek sebagai pola jangka panjang, sehingga pasar, emosi, dan opini seringkali dipengaruhi oleh peristiwa terkini.
15、Bias linier:Menggunakan pemikiran linier untuk memahami dunia yang eksponensial. Otak manusia secara alami cocok memahami perubahan linier, tetapi sulit memahami bunga majemuk, efek jaringan, dan pertumbuhan eksponensial.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar