Postingan

Ada orang yang lama tenggelam dalam narasi sebagai korban, mengeluhkan penderitaannya kepada siapa pun yang ditemui, dan berulang kali menekankan betapa malang serta sulit hidupnya. Mungkin semua penderitaannya memang nyata, tetapi yang benar-benar perlu diwaspadai bukanlah seberapa banyak kesulitan yang telah dialami seseorang, melainkan bagaimana ia menghadapi kesulitannya: ada orang yang setelah mengalami kesulitan menjadi mandiri dan mampu menahan diri, serta lebih mampu memahami orang lain; tetapi ada juga yang mengubah penderitaan menjadi semacam hak moral untuk menagih, karena aku sangat menderita, maka kamu seharusnya memahamiku, membantuku, dan menuruti keinginanku. Sekali kamu bersimpati kepadanya, ia akan mengharapkan yang kedua; setelah kamu membantunya sepuluh kali, bantuan yang kesebelas mungkin sudah dianggap sebagai kewajibanmu; ketika seseorang terbiasa menuntut sesuatu dari dunia dengan menggunakan kemalangannya, semakin banyak bantuan yang ia dapatkan, semakin mudah pula batasan menghilang, hingga akhirnya ia bahkan akan membencimu hanya karena kamu tidak terus memenuhi keinginannya. Jadi, jangan karena seseorang sangat malang, lalu secara otomatis menganggapnya layak dijadikan teman dekat. Untuk benar-benar menilai seseorang, lihat apakah ia sedang memikul nasibnya sendiri, atau menggunakan nasibnya untuk menagih kepada orang lain. Yang pertama boleh dibantu, sedangkan untuk yang kedua, cara terbaik sering kali adalah menjaga jarak.

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.


Tambahkan komentar
Tambahkan komentar

Komentar
BitNightWatch
2 jam yang lalu
Terlalu sering melihat orang yang menjadikan penderitaan sebagai alat tawar-menawar; semakin dibantu, semakin lelah, dan akhirnya malah digigit balik.
0Lihat Asli
AprWhisperer
2 jam yang lalu
Benar sekali. Orang yang memikul takdir memancarkan cahayanya sendiri, sedangkan orang yang menagih utang hanya akan menguras semua orang di sekitarnya.
0Lihat Asli
GeoPoliticalWatcher
3 jam yang lalu
Pandangan ini pedas, tetapi benar. Untuk menilai apakah seseorang layak dijadikan teman dekat, lihat apakah setelah mengeluh dia tetap lanjut bekerja atau menunggu kamu menyuapinya—semuanya terlihat jelas.
0Lihat Asli
RarityParanoid
4 jam yang lalu
Dulu saya tidak mengerti mengapa setelah membantu orang-orang tertentu, saya malah dibenci. Sekarang saya paham—ketika batas-batas menghilang, keberadaanmu sendiri adalah dosa asal.
0Lihat Asli
MempoolSnooper
4 jam yang lalu
Ulasan Pertama
Benar, penderitaan itu sendiri bukanlah lencana kehormatan; cara menghadapi penderitaanlah yang menjadi pembeda.
0Lihat Asli