Ketika tenaga kerja China semakin tidak berharga, akhirnya yang membayar adalah seluruh masyarakat. Dan biayanya sudah mulai muncul.


Satu, tenaga kerja murah, yang mati duluan pasti adalah ada sebuah kalimat dalam ekonomi konsumsi yang tidak bisa lebih sederhana: pengeluaranmu adalah pendapatan orang lain.
Kedengarannya seperti pengetahuan umum, tetapi kenyataannya justru bertentangan dengannya.
Ketika semakin banyak orang bergaji cukup untuk bertahan hidup, tetapi tidak cukup untuk hidup, apa yang akan terjadi?
Jawabannya sangat langsung, konsumsi mulai menghilang.
Bukan karena semua orang tiba-tiba menjadi rasional, juga bukan karena anak muda “tidak suka menghabiskan uang”, tetapi: tidak punya hak untuk menghabiskan uang.
Membeli rumah harus memperhitungkan risiko, sakit harus menyisihkan dana cadangan, kehilangan pekerjaan harus bertahan dengan aliran kas selama setahun.
Jadi semua orang mulai melakukan hal yang sama: menyusut.
Hasilnya adalah: industri jasa semakin sulit dijalankan, pasar hanya tersisa satu hal: bersaing harga murah, akhirnya semua masuk ke dalam siklus yang sudah dikenal: semakin keras bekerja → pendapatan semakin rendah → semakin takut untuk mengonsumsi → laba perusahaan semakin tipis → gaji semakin rendah.
Kamu bisa sangat sibuk.
Atau bisa sangat miskin.
Lelucon lama, sekarang menjadi masalah nyata.
Kedua, yang lebih berbahaya dari kemiskinan adalah hilangnya martabat kerja.
Ketika kerja hanya bisa untuk bertahan hidup, tetapi tidak bisa untuk mendapatkan kehormatan, nilai-nilai masyarakat pasti akan berubah bentuk.
Orang tidak lagi menghormati kerja. Melainkan orang yang tidak serius bekerja.
Maka muncul fenomena yang sangat absurd: masyarakat setiap hari berbicara tentang “kehormatan kerja”, tetapi orang yang benar-benar bekerja, semakin kehilangan rasa kehormatan. Sebenarnya, kehormatan kerja yang sejati tidak pernah perlu dipromosikan.
Ketika seseorang bisa: tampil rapi dengan pekerjaan, tinggal bersih, mampu membayar pengobatan.
Menghidupi anak-anak dan memiliki harapan untuk masa depan. Pada saat itu, kerja itu sendiri sudah menjadi kehormatan. Tidak perlu slogan.
Ketiga, masalah nyata hari ini bukanlah produksi, tetapi distribusi.
Kita sudah sangat mahir dalam produksi.
Yang benar-benar menghambat siklus ekonomi adalah sisi lain: distribusi.
Realitas semakin jelas: bukan karena barang tidak bisa dibuat, tetapi karena barang yang dibuat tidak laku dijual.
Banyak orang mengatakan ingin merangsang konsumsi.
Tapi masalahnya adalah: orang bukan tidak mau mengonsumsi.
Melainkan: tidak berani mengonsumsi, juga tidak mampu mengonsumsi.
Ketika pendapatan hanya cukup untuk bertahan hidup, dan masa depan kurang rasa aman, tabungan bukan lagi pilihan, tetapi perlindungan naluriah.
Keempat, titik balik sebenarnya dari sebuah masyarakat adalah saat sebuah negara dari “berkembang” menuju “maju”, seringkali bukan karena terobosan teknologi.
Melainkan suatu hari mulai: masyarakat memutuskan untuk memprioritaskan meningkatkan “harga” manusia.
Ketika manusia menjadi lebih berharga: perusahaan akan melakukan peningkatan, industri akan berinovasi, konsumsi akan berputar, masyarakat akan stabil.
Kalau tidak, bahkan efisiensi setinggi apapun mungkin hanya berputar dalam konsumsi rendah dan keinginan rendah.
Pada akhirnya, ekonomi tidak pernah beroperasi seperti mesin.
Melainkan apakah manusia bersedia untuk hidup.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Disematkan