Gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus memicu perhatian dari berbagai kalangan, mulai dari pelaku pasar hingga masyarakat awam. Fenomena penurunan nilai mata uang domestik ini kerap menimbulkan kekhawatiran terkait dampaknya terhadap roda perekonomian nasional, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Menanggapi situasi tersebut, Dosen Perbankan dan Keuangan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Andi Estetiono SE MM membedah dinamika pergerakan kurs ini secara mendalam dari kacamata industri perbankan nasional.



Bedah Risiko Utama Perbankan Akibat Lonjakan Dolar AS
Andi menjelaskan bahwa pelemahan rupiah membawa dampak langsung terhadap tiga risiko utama perbankan, yaitu risiko likuiditas, risiko pasar, dan risiko kredit. Kenaikan dolar AS terhadap rupiah tentu berdampak terhadap perbankan, bukan hanya dampak terhadap harga atau inflasi.

Pertama dari sisi likuiditas perbankan, khususnya likuiditas valas. Menurut Andi, terdapat kecenderungan seseorang memilih mengamankan asetnya dengan mencairkan simpanan rupiah di bank lalu menyimpan dalam bentuk dolar AS. Atau mereka malah mencairkan simpanan dolarnya untuk mendapatkan keuntungan sesaat dan konversi ke aset lain seperti emas atau aset lainnya yang dianggap aman.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Disematkan