Belakangan ini saat saya melihat valuasi saham, saya teringat lagi dengan indikator Price Earnings Ratio ini. Kalau dipikir-pikir, banyak orang yang baru mulai berinvestasi sering bingung dengan P/E ini, tapi sebenarnya selama memahami logikanya, kita bisa menggunakannya untuk menilai apakah harga saham benar-benar murah.



P/E secara sederhana adalah berapa tahun uang yang diinvestasikan di saham akan kembali. Nama profesionalnya adalah Price to Earnings Ratio, singkatannya PE atau PER, cara perhitungannya sebenarnya sangat langsung, yaitu harga saham dibagi laba per saham. Contohnya, jika sebuah perusahaan memiliki harga saham 520 yuan, laba per saham 39,2 yuan, maka P/E-nya adalah 520 dibagi 39,2, sekitar 13,3 kali. Apa arti angka ini? Artinya, jika kamu membeli saham ini, secara teori membutuhkan sekitar 13 tahun untuk mendapatkan kembali modal dari laba perusahaan.

P/E yang lebih rendah biasanya menunjukkan harga saham yang lebih murah, sedangkan yang lebih tinggi menunjukkan pasar bersedia memberi valuasi yang lebih tinggi. Tapi di sini ada poin penting, P/E yang tinggi tidak selalu buruk, kadang-kadang karena pasar optimis terhadap pertumbuhan perusahaan di masa depan. Tapi ini juga yang membuat P/E mudah membingungkan investor.

Mengenai cara menghitung P/E, sebenarnya ada beberapa metode. Yang paling umum adalah menggunakan laba per saham dari tahun lalu, ini disebut Price to Earnings Ratio statis. Ada juga yang menggunakan total laba dari empat kuartal terakhir, ini disebut rolling P/E atau TTM, kelebihannya adalah bisa mencerminkan performa terbaru perusahaan secara lebih cepat. Selain itu ada juga P/E perkiraan, yang menggunakan prediksi laba masa depan dari lembaga analisis, tapi jujur saja, keakuratan indikator ini biasa saja karena prediksi dari setiap lembaga berbeda-beda.

Lalu berapa P/E yang dianggap wajar? Tidak ada jawaban pasti. Cara paling praktis adalah membandingkan dengan perusahaan seindustri, atau melihat tren P/E perusahaan tersebut di masa lalu. Misalnya, P/E saham teknologi biasanya lebih tinggi dari industri tradisional, itu normal. Kalau kamu melihat P/E sebuah saham berada di posisi tengah-tengah rendah selama lima tahun terakhir, biasanya itu menunjukkan harga saham cukup menarik.

Secara praktis, banyak orang menggunakan grafik P/E untuk menilai apakah harga saham overvalued atau undervalued. Grafik ini akan menampilkan beberapa garis yang mewakili berbagai kelipatan P/E, dan jika harga saham saat ini berada di area bawah grafik, itu berarti relatif murah; jika di atas, berarti relatif mahal.

Tapi di sini perlu diingat, P/E yang rendah tidak selalu berarti harga akan naik, dan yang tinggi tidak selalu berarti akan turun. Banyak faktor yang mempengaruhi harga saham, P/E hanyalah salah satu referensi. Lebih penting lagi, P/E tidak bisa menunjukkan kondisi utang perusahaan. Dua perusahaan dengan P/E sama, satu punya utang sedikit, satu lagi utang banyak, risikonya sangat berbeda. Selain itu, perusahaan startup atau perusahaan biotek yang belum menghasilkan laba tidak bisa dihitung P/E-nya, jadi harus menggunakan indikator lain seperti Price to Book atau Price to Sales untuk menilai.

Intinya, P/E adalah alat yang membantu kita dengan cepat menilai apakah harga saham masuk akal. Tapi alat hanyalah alat, yang paling penting adalah memahami fundamental perusahaan itu sendiri, lalu menggabungkan indikator seperti P/E untuk pengambilan keputusan. Kalau kamu tertarik mendalami analisis saham tertentu, P/E pasti menjadi indikator yang tidak boleh diabaikan.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Disematkan