Belakangan ini ada teman yang bertanya kepada saya bagaimana cara menentukan kapan harus membeli atau menjual saham, lalu saya terpikir sebuah indikator yang cukup praktis—tingkat deviasi (BIAS). Sebenarnya banyak orang sudah pernah mendengar, tapi tidak banyak yang benar-benar memahaminya. Hari ini saya bagikan pengalaman saya kepada semua.



Sederhananya, tingkat deviasi adalah indikator yang digunakan untuk mengukur sejauh mana harga saham menyimpang dari garis rata-rata bergerak. Ketika harga saham naik terlalu ekstrem, atau turun terlalu drastis, tingkat deviasi akan memberikan sinyal. Bayangkan saja, jika harga beras panen melimpah dan harga melonjak, petani pasti akan segera menjual; sebaliknya, jika harga turun ke dasar, pembeli besar akan membeli dalam jumlah besar. Psikologi pasar saham pun seperti itu.

Tingkat deviasi terbagi menjadi dua jenis—deviasi positif dan deviasi negatif. Harga saham di atas garis rata-rata adalah deviasi positif, di bawah adalah deviasi negatif. Cara perhitungannya sebenarnya tidak rumit, yaitu dengan mengurangi harga penutupan hari ini dari harga rata-rata bergerak, lalu dibagi dengan harga rata-rata bergerak tersebut.

Mengenai pengaturan parameter, ini adalah kunci. Jangka pendek biasanya menggunakan garis rata-rata 5, 10, 12 hari, jangka menengah 20, 60 hari, dan jangka panjang 120, 240 hari. Pemilihan mana yang digunakan tergantung apakah Anda investor jangka pendek atau panjang. Jika saham sangat volatil, menggunakan deviasi jangka pendek akan lebih sensitif; jika volatilitas kecil, jangka panjang akan lebih stabil.

Bagaimana menggunakan tingkat deviasi untuk mencari titik beli dan jual? Pertama, tetapkan ambang batas positif dan negatif, misalnya 2% atau 3%. Ketika deviasi melebihi ambang batas positif, artinya pasar overbought, kemungkinan akan turun, jadi pertimbangkan untuk menjual; sebaliknya, jika deviasi di bawah ambang batas negatif, menunjukkan oversold, kemungkinan akan rebound, ini adalah peluang untuk membeli. Tapi, ambang batas ini tidak tetap, harus disesuaikan secara fleksibel sesuai kondisi pasar.

Pengalaman saya, sebaiknya menggabungkan beberapa garis rata-rata bergerak sekaligus. Misalnya, mengamati deviasi 5 hari dan 20 hari secara bersamaan, agar bisa memahami tren jangka pendek dan menengah secara lebih komprehensif. Selain itu, divergence juga sangat penting—jika harga mencapai level tertinggi baru tetapi deviasi tidak, ini bisa menjadi sinyal puncak; sebaliknya, jika harga mencapai titik terendah baru dan deviasi juga demikian.

Namun, tingkat deviasi juga memiliki keterbatasan. Untuk saham yang pergerakannya tidak besar dalam jangka panjang, deviasi tidak akan banyak membantu. Selain itu, indikator ini memiliki lag, jadi kurang cocok digunakan untuk menentukan waktu jual secara tepat, tetapi sebagai referensi saat membeli cukup baik. Saham dengan kapitalisasi pasar besar biasanya lebih akurat diprediksi menggunakan deviasi, sedangkan saham kapital kecil harus lebih berhati-hati.

Yang terpenting, jangan bergantung hanya pada tingkat deviasi saja. Sebaiknya dikombinasikan dengan indikator acak KD atau Bollinger Bands (BOLL), agar analisis menjadi lebih akurat. Juga, ingat bahwa pemilihan parameter sangat penting—terlalu pendek bisa terlalu reaktif, terlalu panjang malah terlalu lambat. Terakhir, untuk saham dengan fundamental yang baik, saat turun, rebound-nya akan cepat; sebaliknya, mungkin membutuhkan waktu lebih lama. Tingkat deviasi pada dasarnya adalah alat untuk mengamati psikologi pasar, jika digunakan dengan baik, benar-benar bisa membantu menentukan waktu beli dan jual.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar