Belakangan ini banyak orang membahas saham dividen tinggi, terutama strategi beli dan jual menjelang hari ex-dividen. Sejujurnya, banyak yang belum memahami masalah ini secara mendalam.



Pertama, mari kita bahas satu kesalahpahaman inti—apakah harga saham pasti akan turun pada hari ex-dividen? Sebenarnya tidak. Meski secara teori harga saham seharusnya disesuaikan karena arus kas keluar pada hari ex-dividen, dari kinerja historis, penurunan harga sebelum hari ex-dividen bukanlah hal yang mutlak. Contohnya, saham-saham unggulan yang stabil seperti Coca-Cola dan Apple, malah sering mengalami kenaikan pada hari ex-dividen. Ambil Apple sebagai contoh, pada hari ex-dividen 10 November 2023, harga saham dari 182 dolar naik menjadi 186 dolar, kenaikan hampir 2,2%. Ini menunjukkan bahwa suasana pasar, kinerja perusahaan, dan minat industri juga mempengaruhi performa harga saham.

Untuk memahami logika di balik ex-dividen, sangat sederhana. Misalnya sebuah perusahaan dengan harga saham 35 dolar, yang berisi 5 dolar kas idle. Perusahaan memutuskan membagikan dividen khusus sebesar 4 dolar, secara teori harga saham pada hari ex-dividen harus disesuaikan menjadi 31 dolar. Tapi kenyataannya, jika investor optimis terhadap prospek perusahaan, harga saham bisa secara perlahan mengisi kembali nilai tersebut, yang disebut sebagai "pengisian dividen" atau "fill-in". Sebaliknya, jika harga saham terus melemah tanpa pulih, disebut sebagai "discount dividen" atau "贴权息", biasanya mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek perusahaan.

Lalu, apakah membeli saham setelah hari ex-dividen itu menguntungkan? Pengamatan saya menunjukkan, ini tergantung pada tiga faktor. Pertama, apakah harga saham sebelum ex-dividen sudah mencapai puncaknya. Jika sebelum hari ex-dividen harga sudah naik, banyak investor akan mengambil keuntungan lebih dulu, sehingga masuk pasar saat itu berisiko menghadapi tekanan jual yang besar. Kedua, melihat tren historis. Secara statistik, harga saham cenderung turun dalam jangka pendek setelah ex-dividen, yang kurang menguntungkan untuk trader jangka pendek. Tapi, jika harga turun ke level support teknikal dan menunjukkan tanda stabil, itu bisa menjadi peluang beli yang bagus.

Yang paling penting tetap fundamental perusahaan. Untuk perusahaan-perusahaan unggulan dan fundamental yang kokoh, ex-dividen lebih merupakan penyesuaian teknikal harga saham, bukan penurunan nilai. Sebaliknya, penurunan harga setelah ex-dividen bisa memberi peluang bagi investor jangka panjang untuk membeli dengan harga lebih menarik. Membeli dan memegang jangka panjang saat itu biasanya lebih menguntungkan, karena nilai intrinsik perusahaan tidak berubah akibat ex-dividen.

Namun, berpartisipasi dalam saham ex-dividen juga harus memperhatikan biaya tersembunyi. Jika menggunakan akun biasa yang kena pajak, dividen yang diterima pada hari ex-dividen harus dikenai pajak, dan juga menanggung kerugian unrealized akibat penurunan harga saham sebelum ex-dividen. Selain itu, biaya transaksi di pasar Taiwan adalah harga saham dikali 0,1425% lalu dikalikan diskon (biasanya diskon 50-60%), dan saat menjual harus membayar pajak transaksi 0,3%. Semua ini akan menggerogoti keuntungan.

Secara keseluruhan, saham ex-dividen cocok untuk investor jangka panjang yang sabar. Daripada terjebak dalam fluktuasi jangka pendek, lebih baik memilih perusahaan dengan fundamental solid, membeli pada harga yang tepat, dan memegangnya, agar bunga majemuk dan dividen stabil dapat secara perlahan mengumpulkan kekayaan. Inilah cara yang benar dalam berinvestasi dividen tinggi.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Disematkan