Penyarankan teman-teman yang baru memperhatikan tren yen akhir-akhir ini pasti merasakan, bahwa yen masih menunjukkan tren depresiasi yang belum berhenti sejak awal tahun 2026. Dolar AS terhadap yen masih berfluktuasi antara 152 hingga 160, apakah dalam jangka pendek yen akan menguat? Sejujurnya, pandangan pasar cukup beragam.



Saya memperhatikan bahwa ada beberapa faktor struktural yang mempengaruhi pelemahan yen secara berkelanjutan. Pertama adalah masalah selisih suku bunga AS-Jepang — suku bunga AS tetap jauh lebih tinggi daripada Jepang, yang menyebabkan terjadinya arbitrase secara aktif, semua orang meminjam yen dengan suku rendah untuk berinvestasi di aset dolar, sehingga tekanan jual yen pun meningkat. Kedua adalah posisi Bank of Japan yang dilematis, meskipun akhir tahun lalu menaikkan suku bunga menjadi 0,75%, langkah kenaikan suku bunga tersebut jauh lebih lambat dari yang diperkirakan, dan kepercayaan pasar terhadap kenaikan suku bunga berikutnya juga kurang. Ditambah lagi, kebijakan ekspansi fiskal pemerintah Jepang yang meningkatkan penerbitan obligasi dan kekhawatiran defisit yang meningkat, semua ini semakin menekan yen.

Ketidakpastian situasi Timur Tengah juga semakin memperburuk keadaan. Jepang sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah, harga minyak yang tetap tinggi langsung menaikkan biaya impor, defisit perdagangan membesar, ini jelas tidak menguntungkan bagi penguatan yen. Presiden Bank of Japan, Ueda Kazuo, juga secara tegas menyatakan di pertemuan G20 bahwa ketidakpastian akibat konflik sedang menyebabkan volatilitas pasar keuangan global terus berlanjut.

Lalu, apakah yen akan menguat? Kuncinya tetap pada langkah selanjutnya dari Bank of Japan. Awalnya pasar memperkirakan kenaikan suku bunga pada April, tetapi karena risiko geopolitik, bank sentral memilih untuk tetap diam. Yang menarik, dalam laporan prospek kuartalan, BOJ menaikkan proyeksi inflasi dan menurunkan proyeksi pertumbuhan, yang mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada Juni atau Juli. Menurut statistik lembaga pasar, peluang kenaikan suku bunga pada Juni telah meningkat menjadi 76%, ini bisa menjadi titik balik penting.

Jika Bank of Japan benar-benar menaikkan suku bunga pada Juni, dari 0,75% menjadi 1,0%, selisih suku bunga AS-Jepang akan mulai menyempit, ini akan menguntungkan penguatan yen. Tapi masalahnya, bagaimana langkah Federal Reserve? Jika Fed menurunkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan, selisih suku bunga akan menyempit dengan cepat, dan ruang penguatan yen akan lebih besar; sebaliknya, jika Fed tetap hawkish, dolar AS tetap kuat, ruang penguatan yen akan terbatas.

Selain itu, ada juga isu sentimen risiko global. Yen sebagai mata uang dengan suku bunga rendah, saat risiko preferensi tinggi, mudah dipinjam untuk arbitrase, dan jika pasar saham mengalami koreksi atau kepanikan meningkat, posisi arbitrase bisa menutup posisi secara cepat dan mendorong yen menguat tajam. Inilah sebabnya setiap kali terjadi krisis geopolitik, yen sering melonjak dalam waktu singkat.

Berdasarkan prediksi lembaga, kepala strategi valas Jepang di JPMorgan, Junya Tanase, memegang prediksi paling pesimis di Wall Street, bahwa yen bisa jatuh ke 164 pada akhir 2026. Bank of France juga memperkirakan yen akan turun ke 160 pada akhir 2026. Prediksi-prediksi ini menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, penguatan yen tidak terlalu optimis — setidaknya sebelum selisih suku bunga AS-Jepang benar-benar menyempit, yen sulit menunjukkan kekuatan yang signifikan.

Dalam jangka panjang, untuk benar-benar membalik tren penurunan yen, reformasi struktural internal Jepang harus dilakukan. Hanya ketika pertumbuhan ekonomi meningkat secara signifikan, dan siklus positif antara upah dan harga stabil, barulah penguatan yen bisa memiliki dasar yang kokoh. Saat ini, proses tersebut masih membutuhkan waktu. Investor jangka pendek bisa memperhatikan rapat bank sentral di Juni, yang mungkin menjadi titik balik penting; secara jangka panjang, penguatan yen akan bergantung pada apakah ekonomi Jepang mampu keluar dari kesulitan tersebut.

Bagi yang ingin berpartisipasi dalam perdagangan valas, disarankan untuk melakukan penempatan secara bertahap, jangan bertaruh sekaligus. Jika masuk pasar untuk short yen, harus mengendalikan risiko dengan baik, karena perubahan kebijakan atau relaksasi geopolitik bisa memicu volatilitas berbalik. Bagi yang memiliki kebutuhan perjalanan, bisa melakukan pembelian yen secara bertahap untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di masa depan, sekaligus mendiversifikasi risiko nilai tukar. Apapun strategi yang diambil, melakukan riset dan memahami tren fundamental adalah cara terbaik untuk menghadapi fluktuasi pasar valuta asing.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Disematkan