Dalam zaman kuno di Tiongkok, masyarakat umum dapat memegang senjata tajam, tetapi dilarang keras menyembunyikan baju zirah.


Di permukaan, senjata tajam adalah alat serang, sedangkan baju zirah adalah alat pertahanan, tetapi fokus sistem bukan pada "apakah bisa menyakiti orang", melainkan pada apakah dapat mengurangi biaya pengendalian dan pengawasan.
Meskipun senjata tajam bersifat agresif, risikonya adalah "terbatas dan dapat dikendalikan": seseorang yang memegang pisau tetap mudah dilumpuhkan, dan struktur kekuasaan tidak akan tergoyahkan secara fundamental.
Berbeda dengan baju zirah, yang secara esensial meningkatkan kemampuan bertahan hidup, membuat individu lebih sulit untuk dengan cepat ditekan dalam konflik, sehingga secara signifikan meningkatkan kemampuan resistensi, perlawanan, bahkan organisasi perlawanan yang berkelanjutan.
Dengan kata lain, baju zirah menurunkan "biaya pengendalian", dan meningkatkan "kemungkinan kehilangan kendali".
Dari sudut pandang desain sistem, kecenderungan ini tidak terbatas pada zaman kuno.
Misalnya, masyarakat modern juga sering menunjukkan logika serupa: tidak semua "kemampuan menyerang" dibatasi secara ketat, tetapi hal-hal yang secara signifikan meningkatkan "kemampuan perlawanan", "ketahanan hidup", dan "kemampuan melawan tekanan sistem" biasanya dikelola dengan lebih hati-hati.
Pada dasarnya, ini mencerminkan prioritas pengelolaan: bukan untuk mencegah individu "menyakiti orang lain", tetapi untuk mencegah individu "sulit dikendalikan".
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan