Hanya dalam beberapa jam, lebih dari 10 juta ikan ditelan, ini adalah kejadian pemangsaan di laut terbesar yang pernah tercatat di seluruh dunia

robot
Pembuatan abstrak sedang berlangsung

Menurut laporan media Rumania pada 4 April, di lepas pantai Norwegia yang dingin, para ilmuwan menampilkan pemandangan mengerikan yang sebelumnya hanya bisa dibayangkan. Pada suatu pagi di bulan Februari 2024, jutaan ikan kecil Arktik—sekelompok capelin—berkumpul untuk bertelur. Namun mereka tidak meletakkan telur dengan tenang, melainkan justru menjadi pusat serangan ganas para predator. Dalam waktu hanya beberapa jam, kawanan capelin yang bergerombol berubah menjadi jamuan bagi para pengejar tak kenal lelah mereka—ikan kod Atlantik.

Peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Norwegia melaporkan bahwa pertemuan dramatis ini menandai peristiwa predator laut terbesar yang pernah tercatat. Para ilmuwan menggunakan teknologi pencitraan akustik yang canggih, dan mengamati bahwa capelin membentuk kawanan besar yang membentang lebih dari 10 kilometer. Sebagai respons, kod juga berkumpul, membentuk kelompok besar mereka sendiri, dan dalam waktu hanya beberapa jam menghabiskan lebih dari 10.000.000 capelin.

“Kami sedang menyaksikan interaksi antara predator dan mangsa dengan skala yang sangat besar,” kata Nicholas Makris, profesor MIT dan penulis utama studi tersebut, “ini adalah pertempuran sengit yang berkaitan langsung dengan kelangsungan hidup.”

Observasi tim penelitian didapat berkat sebuah teknologi pencitraan akustik bernama ocean sound waveguide remote sensing system. Teknologi ini, yang dikerahkan pada sebuah ekspedisi ilmiah di Laut Barents pada tahun 2014, memungkinkan ilmuwan mendeteksi aktivitas ikan di area yang luas, serta menangkap interaksi yang biasanya sulit untuk diamati.

Makris menjelaskan: “Ikan punya gelembung renang, sehingga bisa beresonansi seperti lonceng.” Tim penelitian memanfaatkan pengetahuan ini untuk membedakan spesies yang berbeda: kod mengeluarkan suara bernada rendah dan keras, sementara capelin mengeluarkan bunyi bernada tinggi seperti dering lonceng. Metode “multispektral” ini membuat para peneliti dapat melacak secara real-time aktivitas jutaan ikan.

Saat matahari terbit pada 27 Februari, capelin yang semula tersebar di sepanjang pesisir Norwegia mulai berkumpul, membentuk kelompok padat yang bergelombang. Makris mengatakan: “Kami menemukan bahwa capelin memiliki kepadatan batas tertentu. Begitu jaraknya cukup dekat, mereka akan menyesuaikan arah gerak dan membentuk kawanan besar yang teratur.”

Namun strategi ini ternyata seperti dua sisi mata pisau. Kawanan capelin yang padat menarik perhatian kod di sekitarnya, dan kod dengan cepat mengorganisasi diri serta melancarkan serangan yang terkoordinasi. Dalam waktu hanya beberapa jam, 2.5M kod menghabiskan hampir setengah dari kawanan capelin.

Meski peristiwa ini sangat mengejutkan, kecil kemungkinan bahwa kejadian ini akan menimbulkan pukulan yang menghancurkan bagi populasi capelin, karena kawanan spesifik ini hanya sekitar 0,1% dari total capelin betina yang bertelur di wilayah tersebut. Tetapi, seiring perubahan iklim menyebabkan lapisan es Arktik terus menyusut, capelin akan menghadapi jarak migrasi yang lebih panjang untuk mencapai tempat bertelur, sehingga mereka akan lebih mudah terdampak oleh peristiwa predator besar-besaran seperti ini.

Studi ini memberikan wawasan baru tentang keseimbangan halus ekosistem laut. Capelin adalah spesies kunci yang memainkan peran sangat penting dalam mempertahankan populasi ikan kod Atlantik. Namun, perubahan iklim yang cepat dan dampak aktivitas manusia dapat mendorong keseimbangan ini menuju titik kritis.

Makris menekankan: “Dalam penelitian kami, kami menemukan bahwa peristiwa predator bencana yang terjadi secara alami dapat mengubah keseimbangan antara predator dan mangsa setempat dalam waktu hanya beberapa jam. Jika tekanan dari iklim dan tekanan buatan manusia berkurang, peristiwa semacam ini bisa menimbulkan konsekuensi serius bagi makhluk hidup yang bergantung pada spesies-spesies tersebut.”

Ke depan, Makris dan rekan-rekannya berharap dapat menerapkan teknologi ocean sound waveguide remote sensing system untuk memantau perilaku spesies ikan lainnya. Tujuannya adalah untuk memahami interaksi-interaksi ini sedini mungkin. Makris menegaskan: “Ketika sebuah populasi berada di ambang kehancuran, Anda sering melihat kelompok ikan terakhir. Dan ketika kelompok ikan yang padat terakhir itu menghilang, barulah kehancuran terjadi.”

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Disematkan