Schmid Tegaskan Pemilu Tak Boleh Mengganggu Fed: Oktober Akan Ditentukan Data, Bukan Politik



Federal Reserve kembali menghadapi ujian yang tak hanya datang dari inflasi dan pasar obligasi, tetapi juga dari politik AS. Menjelang pemilu tengah masa jabatan November, perhatian investor tertuju pada kemungkinan agenda politik memengaruhi kebijakan moneter. Namun Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City, Jeffrey Schmid, memberi pesan tegas: pemilu tak seharusnya memengaruhi keputusan Fed pada rapat Oktober.

Pernyataan ini kian penting karena The Fed kini berada dalam situasi jauh lebih rumit dibanding beberapa bulan lalu. Inflasi masih di atas target 2%, sejumlah pejabat mulai membuka kemungkinan kenaikan suku bunga, sementara pasar saham dan obligasi sangat sensitif terhadap setiap perubahan ekspektasi kebijakan.

Schmid: Kebijakan Moneter Harus Berdasarkan Ekonomi

Schmid sebelumnya telah mengambil posisi relatif hawkish. Dalam wawancara dengan Bloomberg Television di Jackson Hole pada 27 Agustus, ia menyatakan kebijakan moneter saat ini mungkin bersifat akomodatif, bukan restriktif. Ia menilai suku bunga 3,50%–3,75% tidak membatasi perekonomian AS—"suku bunga jangka pendek bahkan mungkin memiliki sifat longgar," ujarnya. Schmid menegaskan inflasi masih "keras kepala" dan "lengket", dan "kami harus terus mencari cara untuk menembusnya". Ia secara eksplisit menolak gagasan bahwa rapat 28 Oktober tak bisa dijadwalkan karena pemilu, menegaskan kalender politik tidak boleh menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan moneter.

Pesan Schmid tentang pemilu sebenarnya bagian dari persoalan lebih besar: Fed ingin pasar percaya bahwa keputusan suku bunga ditentukan data ekonomi, bukan kalender politik.

Mengapa Oktober Menjadi Penting?

Kalender FOMC menunjukkan rapat berikutnya pada 15–16 September, kemudian 27–28 Oktober, dan 8–9 Desember. Rapat Oktober akan berlangsung hanya beberapa hari sebelum pemilu November. Timing ini membuat independensi Fed semakin sensitif. Jika Fed menaikkan suku bunga menjelang pemilu, keputusan itu bisa dipersepsikan politis. Jika menahan atau memangkas, pertanyaan sebaliknya juga muncul. Schmid pada dasarnya menegaskan prinsip: Fed tak boleh menyesuaikan kebijakan hanya karena pemilu sudah dekat.

Masalahnya: Inflasi Belum Memberi Ruang Nyaman

Data terbaru 26 Agustus dari Bureau of Economic Analysis menunjukkan PCE price index, indikator inflasi favorit Fed, pada Juli 2026 tercatat headline 3,7% YoY (tak berubah dari Juni) dan core 3,3% YoY, masih jauh di atas target 2%. Tekanan harga tetap persisten.

Selain inflasi, pasar tenaga kerja menunjukkan pelemahan. Data 7 Agustus menunjukkan ekonomi AS kehilangan 23.000 pekerjaan pada Juli, jauh di bawah ekspektasi penambahan 80.000. Tingkat pengangguran tercatat 4,1%. Pada 28 Agustus, revisi benchmark nonfarm payroll tahunan menunjukkan penurunan 79.000.

Dengan kondisi ini, Fed punya alasan tetap berhati-hati terhadap pelonggaran. Beberapa pejabat mulai berbicara lebih keras: Presiden Cleveland Fed Beth Hammack mengatakan sudah saatnya bertindak karena inflasi telah di atas target lebih dari lima tahun, memperingatkan "inflasi di atas target semakin lama, semakin sulit menurunkannya". Presiden Chicago Fed Austan Goolsbee menyatakan kekhawatiran terbesar adalah inflasi yang belum terkendali, dengan faktor perang di Timur Tengah mendorong biaya energi dan kebijakan tarif yang fluktuatif. Presiden Boston Fed Susan Collins memberi pernyataan bersyarat tegas: jika data menunjukkan inflasi tak turun sesuai harapan, ia akan mendukung kenaikan dalam "satu atau dua pertemuan ke depan". Jadi meski pasar mungkin berharap pemangkasan, sebagian pejabat Fed justru memikirkan kemungkinan kenaikan.

Fed Sudah Terbelah

Pada rapat FOMC 28–29 Juli, The Fed mempertahankan suku bunga di 3,50%–3,75%, namun keputusan itu hanya mendapat dukungan 9–3. Tiga anggota termasuk Hammack memilih kenaikan 25 bps. Ini bukan detail kecil, perdebatan internal mengenai arah suku bunga sudah cukup kuat. Bahkan sebelum Oktober, pasar harus menghadapi dua kemungkinan: dovish (inflasi turun, ekonomi melemah, Fed mempertimbangkan pemangkasan) atau hawkish (inflasi bertahan, permintaan tetap kuat, Fed mempertahankan atau menaikkan). Schmid jelas berada lebih dekat ke kubu kedua.

Pemilu vs Inflasi: Mana yang Lebih Penting?

Dari perspektif kebijakan moneter, jawabannya sederhana: inflasi dan kondisi ekonomi. Fed memiliki mandat menjaga stabilitas harga dan mendukung kondisi tenaga kerja sehat. Jika inflasi masih terlalu tinggi pada Oktober, Fed secara teori harus mengambil keputusan berdasarkan data meski pemilu tinggal beberapa minggu. Sebaliknya, jika inflasi turun meyakinkan dan pasar tenaga kerja melemah, Fed juga harus punya kebebasan melonggarkan kebijakan meski keputusan itu kebetulan terjadi menjelang pemilu. Tanggal pemilu tak seharusnya menjadi variabel dalam persamaan kebijakan moneter.

Pasar Mulai Memperhitungkan Risiko Kenaikan

Setelah pidato Ketua Fed Kevin Warsh di Jackson Hole pada 28 Agustus, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga melonjak drastis. Probabilitas kenaikan September melonjak dari ~35% menjadi ~57-60%, sementara probabilitas Desember tetap di atas 70%. Warsh dalam pidatonya 25 kali menyebut "inflasi", menyatakan inflasi masih "terlalu tinggi" dan jika tak turun dengan "kecepatan cukup cepat", maka "masih ada pekerjaan yang harus dilakukan". Ia menegaskan komitmen Fed terhadap target 2%. Analis Capital Economics menyatakan mereka "sekarang lebih yakin Fed akan menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun, kemungkinan 25 bps pada Desember". Pasar tak lagi menganggap kenaikan sebagai skenario ekstrem.

Dampak bagi Saham AS

Jika Schmid dan pejabat hawkish lain berhasil menggeser ekspektasi menuju "higher for longer", saham growth dan teknologi menjadi sektor paling perlu dicermati. Valuasi teknologi sangat sensitif terhadap tingkat diskonto, saat yield naik, future cash flow didiskon lebih tinggi, valuation multiple tertekan. Reaksi pasar 28 Agustus cukup jelas: Nasdaq turun 0,52%, S&P 500 turun 0,25%, Dow turun 0,02%. Namun secara mingguan, Wall Street masih mencatat kenaikan. Fed hawkish → Treasury yield naik → biaya modal meningkat → valuasi growth tertekan → Nasdaq berisiko melemah. Fed dovish → yield turun → kondisi finansial lebih longgar → saham growth mendapat ruang.

Bitcoin dan Crypto

Bitcoin tak kebal terhadap perubahan kebijakan Fed. Setelah pidato Warsh, Bitcoin jatuh di bawah $80.000, sempat menyentuh $78.442, turun sekitar 1% harian, dengan lebih dari $488 juta posisi long terlikuidasi. Bitcoin akhirnya stabil di sekitar $79.000, setelah sebelumnya menyentuh $81.330. Penurunan terjadi meski ETF Bitcoin spot AS mencatat arus masuk sembilan hari berturut-turut ($242 juta pada 28 Agustus). Hubungan Fed dan crypto tak selalu linear: hawkish Fed biasanya negatif bagi likuiditas crypto, namun kekhawatiran terhadap kebijakan fiskal dan dolar bisa menciptakan narasi bullish berbeda.

Emas Juga di Persimpangan

Pergerakan emas memberi contoh menarik. Pada 27 Agustus, emas spot pulih ke sekitar $4.625 per ounce. Setelah pidato hawkish Warsh, emas spot ditutup turun 3,2% ke $4.454 per ounce. Secara teori, suku bunga tinggi meningkatkan opportunity cost memegang emas. Namun emas tetap mendapat dukungan dari ketidakpastian kebijakan, risiko geopolitik (terutama perang Iran), kekhawatiran utang pemerintah AS yang telah menembus $40 triliun, dan ketidakpastian dolar. Pasar emas tak hanya membaca "Fed naik atau turun?" tetapi juga "Mengapa Fed harus mempertahankan suku bunga tinggi?"

Independensi Fed Justru Menjadi Aset

Komentar Schmid berbobot lebih besar dari sekadar pandangan suku bunga. Jika investor percaya Fed dapat membuat keputusan tanpa tekanan politik, ekspektasi inflasi akan lebih terjaga. Namun jika pasar mulai percaya kebijakan moneter dipengaruhi pemilu, tekanan fiskal, atau kepentingan politik jangka pendek, konsekuensinya bisa jauh lebih besar: yield obligasi meningkat, risk premium naik, dolar tertekan, dan biaya pendanaan pemerintah semakin mahal. Saat ini 10-year Treasury yield di sekitar 4,67%, sementara 30-year yield mendekati 5,2% level tertinggi sejak 2007. Independensi Fed bukan sekadar persoalan politik, tapi bagian dari stabilitas pasar keuangan.

Pasar Perlu Memperhatikan Bukan Hanya Schmid

Schmid memang hawkish, namun satu pejabat tak menentukan kebijakan FOMC sendirian. Investor perlu melihat perkembangan pandangan seluruh komite, terutama Ketua Fed Kevin Warsh yang pidato Jackson Hole-nya menjadi fokus utama; anggota Board of Governors; presiden Fed regional yang memiliki hak suara; data inflasi (PCE, CPI); data tenaga kerja (payrolls, unemployment rate); pertumbuhan ekonomi (GDP Q2 2026 tercatat 1,5%); dan kondisi pasar obligasi. Menariknya, perhatian pasar pada 28 Agustus justru tertuju pada pidato perdana Warsh di Jackson Hole yang memberi sinyal lebih hawkish dari perkiraan banyak pihak, dan pasar merespons cepat. Schmid memberi sinyal hawkish, Warsh memperkuat sinyal tersebut dengan pidato jelas dan tegas.

Tiga Skenario Menuju Oktober

Skenario bullish untuk saham: inflasi mulai turun konsisten (core PCE di bawah 3%), pasar tenaga kerja melemah lebih lanjut, Warsh menghindari sinyal kenaikan lebih lanjut, ekspektasi pemangkasan meningkat, yield turun → Nasdaq dan saham growth berpeluang menguat.

Skenario sideways: inflasi tetap tinggi tapi tak semakin buruk (core PCE bertahan di 3,3%), Fed mempertahankan suku bunga, pejabat memberi sinyal campuran, pasar menunggu data berikutnya, volatilitas meningkat namun belum ada arah besar.

Skenario bearish: PCE dan inflasi inti kembali meningkat, tenaga kerja tetap kuat, ekspektasi inflasi naik, lebih banyak pejabat mendukung kenaikan, yield melonjak → saham teknologi, crypto, dan aset berisiko menghadapi tekanan. Dalam skenario ini, pemilu tak menjadi alasan Fed menahan diri, justru pernyataan Schmid menunjukkan kalender politik bukan pertimbangan kebijakan.

Kesimpulan: Oktober Akan Menjadi Ujian Independensi Fed

Pernyataan Jeffrey Schmid memiliki pesan lebih besar dari sekadar "pemilu tak akan memengaruhi suku bunga." Pesannya: Federal Reserve ingin pasar percaya kebijakan moneter ditentukan oleh inflasi, tenaga kerja, pertumbuhan, dan kondisi keuangan, bukan kepentingan politik jangka pendek.

Situasi menuju Oktober: suku bunga Fed 3,50–3,75%; PCE headline 3,7%; core PCE 3,3%; GDP Q2 2026 1,5%; unemployment 4,1%; 10-year yield ~4,67%; probabilitas kenaikan September ~57-60%; probabilitas kenaikan Desember 70%; posisi FOMC Juli 9-3 (tiga mendukung kenaikan). Rapat Oktober dijadwalkan 27–28 Oktober 2026, hanya beberapa hari sebelum pemilu.

Pertarungan sebenarnya bukan Fed vs Pemilu, melainkan Inflasi vs Suku Bunga vs Pertumbuhan. Jika inflasi menang, suku bunga bisa tetap tinggi bahkan naik. Jika pertumbuhan melemah, ruang pelonggaran terbuka. Jika keduanya terjadi bersamaan, inflasi tinggi sementara ekonomi melemah, Fed akan menghadapi salah satu dilema kebijakan paling sulit. Bagi investor, sinyal terpenting bukan tanggal pemilu, melainkan PCE, payrolls, Treasury yield, ekspektasi Fed, dan komentar Warsh-Schmid. Karena ketika Oktober tiba, keputusan Federal Reserve kemungkinan akan ditentukan oleh satu hal: bukan siapa yang berkampanye, tetapi apa yang sedang dilakukan ekonomi Amerika.
#WarshJacksonHolePreviewMarketsFocusOnRates
$BTC
BTC-0,44%
post-image
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
452 tayangan
  • Hadiah
  • 2
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
ThisIsTranslateContent:
· 3 jam yang lalu
Langsung gas saja 👊
Lihat AsliBalas1
Lihat Lebih Banyak
  • Disematkan